Aku
melihat ribuan, bahkan jutaan tetes air jatuh ke bumi. Aku baru teringat, bahwa
aku belum pernah menjatuhkan hatiku pada wanita manapun hingga usiaku yang
sebesar ini. Padahal, kebanyakan temanku sudah berganti kekasih beberapa kali. Banyak
orang berpikir bahwa aku ini terlalu suci. Bak kapas yang terjaga dengan
sempurna di dalam etalase kaca yang tertutup rapat. Laiknya remaja yang lain,
sesungguhnya aku juga manusia biasa. Ingin dicitai dan ingin mencintai. Namun,
mungkin hasrat itu selama ini terhenti karena aku telah terikat oleh aturan
yang jelas dalam agama islam. Atau mungkin, lebih tepatnya aku belum menemukan
wanita wanita, bukan cewek, untuk kujatuh cintai.
Sebenarnya aku juga ingin jatuh cinta, tapi entah, keinginan itu sering kali sirna.
Hanya
saja, akhir-akhir ini aku mulai tertarik dengan seorang teman sekelasku. Dia
baik. Ya, sejak pertama bertemu dia memang baik. Baik dalam segala hal. Tapi
menurutku, akhir-akhir ini dia lebih baik, terlebih padaku. Seoalah jalanku
selalu membawaku padanya. Tugas kelompok dan lain sebagainya. Entah ini hanya
perasaanku atau memang ini nyatanya. Tapi yan jelas aku mulai simpati padanya.
Dia lucu. Candaannya padaku, membuat aku yang terkenal pendiampun bisa tertawa.
Apakah aku telah jatuh cinta? Haruskah aku mengatakannya padanya?
“Akbar,
apa yang kamu lihat?” tanya Tino, teman sebangkuku. Aku hanya diam. “Bar?”
ulangnya, “Ada apa di papan tulis itu?”
“Ah,
tidak ada apa-apa,” kataku terkejut.
Tiba-tiba,
Zahwa melintas di hadapanku. Wangi parmunya mampu membuat aku seolah terbang
keliling angkasa.
“Astaghfirulloh!”
kataku cepat. Tino bingung melihatku. Dia bertanya ada apa, dan aku hanya
menjawab tidak ada apa-apa.
Aku
ingin mengamati Zahwa. Meyakinkan hatiku apakah aku benar-benar menyukainya.
Jika memang aku menyukainya, atas dasar apa rasa itu. semua temanku tahu,
banyak sifat Zahwa yang bertentangan denganku. Aku juga bingung. Kenapa aku ini
terlalu pendiam dan polos. Tidak ada hasratku untuk bermain ke luar dan
bercanda dengan teman-teman lelakiku. Aku lebih tertarik untuk membaca buku
sendirian. Atau sekedar duduk sendiri tanpa melakukan apapun. Sedangkan Zahwa,
dia aktif ke sana ke mari, banyak tingkah, mencandai tetam-teman, suka
bernyanyi di kelas, tingkahnya unik, suaranya lantang, tapi begitu merdu
bagiku. Dia juga sangat mudah akrab dengan siapa saja. Berbeda jauh denganku.
Tapi itulah yang membuatku simpati padanya. Kebaikannya sangat luar biasa.
Bahkan tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata seindah apapun. Bagiku, dia
memiliki daya tarik tersendiri. Dia wanita yang cerdas, aktif, berjiwa sosial,
penyayang, ramah, hatinya lembut biarpun terkadang sikapnya keras, disiplin dan
taat beragama tentunya.
Suatu
waktu,aku mendapati mata Zahwa menatapku tajam. Saat aku melihat matanya, ada
sesuatu yang teasa sakit di dalam sini. Ya, hatiku, hatiku terguncang.
Jantungku berdetak dengan begitu cepat, sangat luar biasa cepat, seolah
beribu-ribu kali lebih cepat dari biasanya, saking cepatnya aku merasa bahwa
jantungku tidak berdetak. Ya Allah, inikah cinta? Cinta atau nafsu? Aku
membuang pandanganku padanya. Meyakinkan diriku apa yang terjadi padaku. Aku
mencoba bertaya pada Tino. Dia sudah punya pacar. Tentunya dia juga perbah
jatuh cinta.
“Tino,
bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanyaku dengan lembut dan tanpa dosa.
“Boleh
saja. Tanya apa?”
“Saat
kamu jatuh cinta pada Siska, pacarmu, apa yang kamu rasakan?”
“Kenapa
kamu tanya begitu? Uhm, kamu sedang jatuh cinta?” tanya Tino keras, membuat
seantero kelas memandangi kami.
“Cieeee,
Akbar jatuh cinta. Cie..ciee,” teriak Zahwa. Ya, begitulah Zahwa, senang sekali
bercanda. Aku tahu, apa yang dia katakan baru saja itu sebuah candaan. Tapi
candaan itu mampu membius teman-temanku yang lainnya dan mengikutinya
menyorakiku.
“Hust,
jangan keras-keras. Bukan begitu, Tin. Aku hanya ingin tahu saja. Suatu waktu
jika itu terjadi aku bisa mengantisipasinya,” kataku lirih.
Tino
terdiam sejenak. Menunggu kegaduhan di kelas mereda. Kemudian berkata,
“Baiklah, akan aku ceritakan. Waktu itu, saat aku melihat matanya, jantungku
berdebar kencang, hatiku terasa sanagt dingin, tapi aku suka cara itu.”
“Lalu?”
selaku.
“Aku
tidak bisa menghapuskannya dari benakku, apapun yang aku lakukan mengingatkanku
padanya.”
Aku
terdiam mendengar jawaban itu. wajahku masih terpaku melihat Tino. Kenapa
seperti yang aku rasakan pada Zahwa. Oh, Ya Allah. Apa benar seperti ini?
Hari
demi hari berlalu. Ada magnet dalam Zahwa yang seolah menarikku untuk
mendekatinya. Aku mulai yakin bahwa aku telah jatuh cinta padanya. Aku merasa,
bahwa dia juga menyukaiku. Tapi entahlah, aku ragu akan itu. aku ingin
mengatakan padanya bahwa aku menyukainya. Agar dia bisa menjaga hatinya
untukku. Tapi aku takut jika justru itu merusak pertemananku dengannya. Ah,
tidak. Zahwa orang baik. Tidak mungkin dia memutuskan pertemanan dan tali
persaudaraan.
Sekian
lama aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan perasaanku pada Zahwa. Ini
pertama kalinya. Dialah cinta pertamaku. Aku tidak akan memintanya untuk
menjadi pacarku ataupun kekasihku. Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku menyukainya.
Mungkin ini saat yang tepat untuk memberi tahunya.
“Zahwa,
aku ingin bercerita sesuatu,” kataku. Aduh, mulutku ini bagaimana?kenapa harus
mengatakan “bercerita”?
“Ya,
cerita apa, Bar?” tanyaya dengan suara yang mampu menyejukkan telingaku.
“Aku
menyukaimu. Hatiku telah jatuh padamu. Tidak banyak alasan, itu semua karena
aku telah memilihmu,” mulutku nyerocos. Kenapa tidak ada romantis-romantisnya?
Bodoh sekali aku ini.
Zahwa
terlihat kaget berat mendengar ucapanku. Matanya memandangku tak percaya.
“Aku
sungguhan. Uhm, tapi tunggu. Aku tidak memintamu untuk menjadi pacarku. Aku
hanya ingin kamu tahu perasaanku dan kita berkomitmen untuk menjaga hati kita
masing-masing. Aku tetap ingin kita berteman bagaimana biasanya,” kataku.
Lidaku mengatakan itu semua di luar batas logikaku.
“Uhm,
terima kasih sudah mencintaiku dengan sebaik itu, Bar. Aku sangat tidak
menyangka, orang selembut dirimu jatuh cinta pada gadis yang urakan sepertiku,”
katanya, lalu diam beberapa saat sambil memandangku lemas, “Aku tidak pantas
untukmu. Banyak gadis yang jaun lebih baik dariku dan jauh lebih pantas
untukmu.”
“Tapi,
kamu sudah sangat luar biasa bagiku,” selaku.
“Tidak.
Kamulah yang terlalu sempurna untukku. Aku terlalu nista untuk kau jatuh
cintai.”
“Maksud
kamu, Zahwa?” aku bingung, aku ingin memastikan apakah yang aku kira ini benar.
“Aku
tidak bisa menyepakati bahwa aku akan menjaga hatiku untukmu. Aku tidak bisa
mencintaimu. Karena sesungguhnya, aku ini telah menjadi milik orang lain. Aku
telah dulu jatuh cinta dengan lelaki yang lebih dulu aku kenal dari pada kamu.
Dan dia telah melamarku. Meskipun kami tidak akan menikah dalam waktu dekat,
tapi dia telah mengikatku dengan tali cintanya yang suci.”
Ternyata
benar perkiraanku, dia menolakku. Bahkan dia sudah dilamar. Aku hanya diam.
“Kamu
lelaki yang baik, Akbar. Jujur saja aku menyukai dan mengagumimu, tapi hanya
sebatas teman. Aku yakin suatu saat nanti ada wanita sebaik dirimu yang
mencintaimu dengan sepenuh hatinya. Hapuslah rasamu padaku. Kembalilah pada
dirimu yang dulu. Kita berteman sebagaimana biasanya,” kata Zahwa
menenangkanku.
“Maafkan
aku karena telah lancang mencintaimu,” kataku pasrah.
Zahwa
hanya tersenyum padaku, dan kemudian pergi.
Aku
benar-benar terpukul kali ini. Cinta pertamaku yang sangat memilukan. Baru juga
sekali aku jatuh cinta, tapi mengalami kegagalan yang luar biasa. Wanita yang
aku cintai, ternyata milik orang lain. Mungkin, suatu saat nanti, aku akan
berpikir seribu kali untuk jatuh cinta lagi.
~LCM~