(Contoh Naskah Drama Satu Babak)
Di duatu sore, Pak Aldi duduk
termenung di warung kopi. Sesekali dia menengguk kopi panas di depannya yang
semakin membuat pikirannya memanas.
Pak Aldi : (meletakkan cangkir di meja) Ah, masa iya aku
bisa menjadi gila karena hal ini? (kembali merenung. Tangan kirinya menyangga
dagu dan tangan kanannya mengetuk-ngetuk meja).
Pak Toha : (datang tiba-tiba, menepuk pundak Pak Aldi
keras-keras) Hei, apa yang kau pikirkan? Kenapa melamun saja? (duduk di samping
Pak Aldi)
Pak Aldi : Aku bingung, Ha. (menggaruk-garuk kepala)
Pak Toha : Ada masalah? Sepertinga masalah serius, nih.
(menatap Pak Aldi tajam)
Pak Aldi : Coba lihat rambutku yang putih ini!(menyodorkan
kepalanya) Lihat kantung mata ini!(memegang bagian bawah matanya) Dan lihat
kulitku yang mulai keriput!(mengusap kulit tangannya) Aku sudah tua.
Pak Toha : (terdiam sejenak kemudian tertawa terbahak-bahak)
Kamu sedih karena kamu menua? Hahaha! Sudah saatnya kau tua. Aku sudah tua juga
biasa saja.
Pak Aldi : Bukan begitu. Hidup ini tidak adil.(melemas)
Pak Aldi : coba perhatikan, Nobita, Dora, Naruto, Masha dan
kawan-kawannya, mereka tidak kunjung menua. Kita dulu sama-sama kecil. Sekarang
mereka, tetap saja sebagai anak kecil kelas lima SD. Sedangkan aku?(menggerutkan
dahi)
Pak Toha : (menggelengkan kepala) Hei, mereka semua hanya
tokoh fiktif. Tokoh fiktif yang memang dibuat seolah seperti manusia. Tidak benar-benar
ada.
Pak Aldi : (dengan nada tinggi) Seperti manusia kau bilang?
Pak Toha : Ya, memang keseharian mereka seperti manusia,
kan?
Pak Aldi : Tapi tidak untuk usia. Harusnya orang-orang yang
membuat kartun seperti itu totalitas.(memukul meja)
Pak Toha : Totalitas bagaimana?(mengangkat bahunya)
Pak Aldi : Mereka membuat tokoh fiksi yang kehidupan
sehari-harinya seperti manusia, harusnya juga menyesuaikan kondisi fisiknya,
tumbuh dewasa, dan berkembang biak.
Pak Toha : kalau begitu bukan tontonan anak-anak lagi! Aneh kau
ini.(membelakangi Pak Aldi)
Pak Aldi : Loh, itu yang aku maksud totalitas. Harusnya ada
semacam regenerasinya begitu. Misalnya Nobita itu, kemudian ada anaknya Nobita,
cucunya, cicitnya, dan seterusnya.
Pak Toha : (menoleh ke pak Aldi dan menghela hapas) Kau ini
tidak penting. Cobalah untuk memikirkan hal yang lebih bermanfaat!
Pak Aldi : Jelas ini bermanfaat(melipat tangan di depan
dada). Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk totalitas dalam berbuat, adil, dan
realistis.
Pak Toha : Kau ini berlebihan. Terserah kau sajalah kalau
begitu. Lebih baik kau buat saja sendiri kartunmu dan jangan mencerca karya
orang lain yang sudah ada.(berdiri dan pergi meninggalkan Pak Aldi)
Pak Toha : (berteriak) hei, aku tidak mencerca. Ini hanya
pendapat! (melihat Pak Toha pergi, kemudian duduk dan melamun lagi)
~LCM~