Suatu senja di sebuah desa kecil dan damai, duduklah Riana bersama
kedua orang tuanya di teras rumah seraya menikmati keindahan sang bagaskara
yang beranjak pergi. Riana yang sekarang tengah duduk di bangku SMA banyak
mendapat nasihat dan arahan dari kedua orang tuanya.
“Nak, ayah tahu kamu sudah dewasa. Tapi, ayah mohon padamu untuk
tidak berpacaran dulu. Di masa-masa seperti ini, pacaran lebih banyak mudharatnya
dari pada manfaatnya” tutur ayah pada Riana.
“Ayahmu benar. Ingat, kunci kesuksesan bagi seorang pelajar ada
tiga. Bertaqwa kepada Allah, hormat pada orang tua, dan yang terakhir jangan
pacaran,” lanjut ibu.
“Ya, Bu. Riana mengerti akan hal itu. Riana sendiri juga tidak
ingin berpacaran. Itu hanya akan mengganggu belajar Riana,”
Sebelum tidur, Riana merenung, menerawang langit-langit kamarnya.
Memikirkan percakapan dengan kedua orang tuanya tadi sore. Aku harus bisa. Aku
harus bisa menahan hatiku untuk tidak berpacaran. Demi orang tuaku dan
sekolahku. Aku harus bisa. Gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba, ponsel Riana berbunyi. Tanda ada pesan baru masuk.
Isinya salam dan menanyakan apakah di sudah tidur. Itu pesan dari Evan,
teman sekelasnya.
Itulah pesan yang mengisi layar ponsel Riana. Riana pun segera
membalasnya. Sebuah salam dan kabar bahwa dirinya belum tidur. Riana balik
bertanya, ada apa?
Kali ini Evan cukup aneh. Dia bilang tidak ada alasan atau tujuan
yang pasti menghubungi Riana. Dia bertanya lagi, apa ini mengganggu Riana?
Riana hanya terdiam melihati pesan dari Evan. Sungguh aneh. Tidak
biasanya Evan tiba-tiba menghubungi Riana tanpa alasan yang pasti, malam-malam
seperti ini pula. Karena takut terlarut dalam situasi yang semakin aneh, Riana
mengatakan pada Evan bahwa ia sebenarnya hendak berangkat tidur.
Tidak lama kemudian Evan membalas pesannya. Ia minta maaf
dan menyampaikan salam penutup pada Riana.
“Ayah, ibu, Riana berangkat dulu. Assalamualaikum,” dengan semangat
Riana berpamitan pada ayah dan ibunya melenggang ke sekolah.
“Waalaikum salam. Hati-hati, sayang,” jawab ibu dengan senyumnya
yang menyejukkan hati, melihat anak gadisnya menaiki motor dengan anggunnya.
Setibanya di sekolah, dengan langkah tenang Riana menginjakkan
kakinya memasuki kelas. Dengan ceria Evan menyapanya. “Rianaaaa!!!!” teriak
Evan dan tersenyum lebar. Riana yang merasa aneh dengan hal ini hanya tersenyum
simpul menanggapi panggilan Evan tadi.
Riana yang selalu duduk di bangku paling depan, meletakkan tasnya
di meja kemudian duduk. Evan yang tadinya di bangku paling belakang, entah mengapa
kini justru duduk di depan.
“Na, maaf kemarin malam aku mengganggumu. Aku tidak tahu kalau kamu
mau tidur. Maaf, ya!” kata Evan seraya meletakkan tasnya di bangku dekat Riana.
“Ya, tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena aku tidak membalas
pesan terakhirmu. Soalnya aku sudah ketiduran,”
“Tak apa. Aku mengerti, kamu khan pelor. Hahaa”
“Apa itu pelor?” Tanya Riana penasaran.
“Nempel-molor. Hehee. Intermezzo,”
Pembicaraan mereka terhenti oleh bel tanda jam pelajaran pertama
dimulai. Dari jendela terlihat Bu Hanum yang sadis sedang menuju kelas.
Anak-anak segera duduk manis di kursi masing-masing dan berdoa. Semua siswa
pasti kikuk ketika melihat Bu Hanum. Bahkan, anak yang paling nakal sekalipun
luluh di tangannya. Bu Hanum memang terkenal guru paling killer satu
sekolah.
“Tolong piket menghapus,” ujar Bu Hanum tanpa memandangi muridnya.
Riana yang hari itu piket hendak berdiri untuk membersihkan papan.
Namun, niatnya terurungkan.
“Tidak usah, biar aku saja,” serobot Evan yang langsung maju dengan
riangnya.
“Na, apakah si Evan piket hari ini?” bisik Alya, teman sebangku
Riana.
“Tidak. Mungkin dia ingin menambah pahala,” jawab Riana santai.
“Anak-anak, ibu ada tugas kelompok. Yaitu mengamati kehidupan
remaja sekitar kota dan desa sekarang ini. Kemudian buatlah dua buah kisah, yang
pertama tentang remaja kota dan yang kedua remaja desa. Tiap kelompok tiga
orang. Nanti akan ibu bagi kelompoknya,” kata Bu Hanum lantang.
Semua anak di kelas saling berpandangan.
Dalam hati Riana bertanya-tanya dengan siapa ia berkelompok. Ini
tugas yang cukup sulit. Dia berharap mendapatkan anggota kelompok yang bisa
diajak bekerja sama dengan baik.
Setelah Bu Guru membagi kelompok, ternyata Riana satu kelompok
dengan Alya dan Evan. “Huft, dua partner yang baik,” Riana terseyum lega.
Pasalnya Alya dan Evan memang siswa yang cukup pintar dan bertanggung jawab.
“Hey, kita satu kelompok,” kata Evan dengan senyumnya yang damai.
Riana dan Alya mengangguk kompak.
Bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas,
memenuhi kantin sekolah. Tanpa terkecuali Riana dan Alya. Saat Riana dan Alya
sedang asyik memilih-milih makanan, tanpa sengaja seorang siswa menabrak Riana
dan menumpahkan miuman di bajunya.
“Astaga, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja,” katanya.
“Sudahlah, bukan masalah. Lain kali kamu hati-hati,” jawab Riana
tenang sambil menyapu jilbabnya yang kotor.
“Tapi bajumu?”
“Tidak apa-apa, tenang saja,” Riana memastikan bahwa semua
baik-baik saja, anak itu pun pergi.
“Loh, Na. Bajumu kena apa?” Evan yang sedang lewat di samping Riana
langsung bertanya.
“Tidak kenapa-kenapa, hanya tadi ketumpahan minuman,”
“Ini kamu pakai saja sapu tanganku, masih bersih, kok.
Barang kali lebih cepat kering,” Evan merogoh kantong dan mengulurkan sapu
tangan biru mudanya pada Riana.
“Makasih, Van. Kamu baik sekali. Nanti biar aku yang mencucinya,”
“Ah, santai saja,” Evan tersenyum dan melangkah meninggalkan Riana
dan Alya.
Waktu pulang sekolah telah tiba. Sambil berkemas Evan bertanya pada
Riana dan Alya mengenai tugas kelompok mereka. “Kapan nih kita mengerjakan
tugasnya?”
“Uhm, bagaimana kalau besok
pulang sekolah saja,” tawar Alya.
“Ya, aku setuju. Bagaimana denganmu, Van?” tanya Riana.
“Yahh, asal baiknya saja. Aku ikut.”
Sesampainya di parkiran, Riana terlihat mengotak-atik motornya yang
tidak bisa dinyalakan. Dan lagi-lagi, Evan muncul.
“Kenapa, Na? Ada masalah?” tanyanya.
“Iya, nih. Motornya tidak bisa dinyalakan,” Riana tampak
sangat kebingungan.
“Coba kulihat,” setelah beberapa saat Evan membongkar pasang
bagian-bagian motor Riana, akhirnya bisa juga distarter.
“Wah, terima kasih banyak, Van. Kamu banyak menolongku hari ini,”
Wajah Riana yang tadinya kusut berubah menjadi sumeringah.
“Sudah seharusnya sesama teman saling tolong menolong,” Evan
merendah dengan senyumannya yang kas itu.
Deg!!! Saat itu Riana sedang memandang mata Evan yang juga sedang
memandangnya tajam. Ada sebuah getaran dalam hatinya. Secepat kilat Riana
memalingkan pandangannya. Astaghfirullah hal
adzim, ini zina. Batin Riana.
“Uhm, sekali lagi terima kasih, Van. Aku pulang dulu, ya. Assalamualaikum,”
“Waalaikum salam. Hati-hati,” kata Evan. Riana tersenyum dan
menjalankan motornya.
Di kamarnya yang damai, Riana terdiam. Entah apa yang terpikir
olehnya terlalu banyak hal yang berlalu lalang di kepalanya. Dan, tidak tahu
pasti apa yang menjadi fokus pemikirannya.
Tiba-tiba, lamunan itu terpecah oleh suara ponsel Riana.
Terlantunkan lagu Rindu Yang Terlarang, pertanda ada bahwa itu telpon.
“Assalamualaikum, Riana,” suara seorang gadis dari kejauhan.
“Waalaikum salam. Ada apa, Alya?”
“Jangan lupa besok pulang sekolah mau riset, ya?”
“Siap. Mana mungkin aku lupa,”
“Oh, ya. Kan, ada Evan,”
“Hust, apaan, sih. Eh, tapi entah kenapa. Sepertinya hari
ini itu jalan membawa Evan kedalam hidupku. Ya, tidak?”
“I think so. Dia suka mungkin sama kamu.”
“Tidak mungkin. Aku tidak ingin cinta-cintaan.”
“Tapi cinta beneran. Hahaa. Ya sudah. Wassalamualaikum,” Alya
langsung menutup telponya.
Dari pada pusing memikirkan entah apa dan menyikapi sahabatnya yang
juga aneh, Riana menyalakan laptopnya dan membuka akun facebook miliknya.
Muncul di beranda status Evan yang berkata: “Love is started today” .
Deg!! Dan, lagi-lagi hati Riana dibuat goyah.
“Astaga, jangan-jangan Evan? Tidak. Aku tidak boleh GR. Aku juga
harus ingat janjiku, tidak jatuh cinta, tidak pacaran. Ya Allah, jagalah hati
hamba-Mu ini!” Gumamnya.
Satu minggu berlalu. Riana masih dalam kebimbangan hatinya akan
Evan yang semakin hari semakin dekat dengannya. Tanpa ia mau, seolah-olah
takdir membawa mereka saling mendekat. Semua jalan mengarahkanya pada Evan. Riana bertekat untuk semakin menjaga hatinya, menjaga
sikapnya, menjaga matanya, dan senantiasa mengingat janjin pada ayah-ibunya. Melihat
sikap Evan padanya, yang menurutnya Evan memang suka padanya, Riana ingin
menghindar. Tapi, sulit baginya menjauhi Evan. Seperti magnet yang menarik kuat
besi, mudah mendekat namun sulit menjauh. Dan, tidak bisa dipungkirinya, bahwa
Evan bisa membuatnya terbang melayang ke angkasa, melejit ke langit ketujuh, dan
menuju negeri kayangan.
Tidak jarang pula, Riana merasa begitu damai dan senang ketika
dekat dengan Evan. Jantungnya seperti lautan luas dengan ombak yang bergemuruh.
Menghanyutkan. Akhirnya Riana menyadari bahwa ia mulai menyukai Evan.
Hari ini Riana tidak masuk sekolah karena tidak enak badan.
Seharian ia hanya berbaring lemah menghabiskan waktu hingga menjelang sore.
Timbul kejenuhan di hatinya. Ia nyalakan laptopnya dan kembali membuka akun fecebook-nya.
Tanpa sengaja, muncul status Evan di berandanya.
Get well soon, dear. I hope, you can hear my heart.
Riana terdiam kaku. Lidahnya yang tidak bertulang serasa sulit
sekali digerakkan. Langsung otaknya berpikir, jangan-jangan yang dimaksud Evan
“dear” di situ adalah aku. Tidak, aku tidak boleh GR. Bisa jadi itu gadis lain.
Kerumitan jalan pikir Riana terusik oleh panggilan ibu.
“Riana, ada telepon dari Alya.”
“Ya, Bu,” dengan pelan Riana bangun dari ranjangnya dan menuju
ruang tengah.
“Halo, Alya.”
“Halo, Na. Eh, kamu tadi dicari Evan. Seharian wajahnya kusut,
lesu, kumel, dan tidak bersemangat. Di kelas dia melamun terus. Memikirkan
kamu. Sampai-sampai dimarahi oleh setiap guru yang mengajar. Hahaa,” cerocos
Alya.
Sejenak Riana terdiam, apa yang dikatakan Alya sesuai dengan status
Evan tadi.
“Terus hubungannya denganku apa? Aku kira kamu mau membiri tahu
tugas atau mananyai kabarku. Ah, ternyata,” jawab Riana culas.
“Loh, bagi Evan kamu khan matahari hidupnya, bintang yang bersinar
di hatinya. Tanpamu, hidupnya hampa, siang harinya seolah malam, dan pelangi
pun di matanya itu berwarna kelam. Aku mewakili Evan menanyakan kabar tentangmu,”
“Ah, mulai lagi ngaconya. Keadaanku belum terlalu baik. Ya, semoga
besok sudah bisa masuk sekolah. Ketemu kamu lagi. I miss you, sweety!”
“Kangen sama aku atau sama Evan?” Alya kembali menggoda Riana.
“Kamu ini. Selalu begitu,” Riana tersipu malu.
“Eh, aku mau cerita ke kamu,” Sambungnya.
“Lewat SMS saja, ya. Aku tunggu. Bye!” Alya selalu begitu,
mematikan telpon seenaknya sendiri. Itulah kelebihan yang dimiliki Alya.
Jari-jari Riana langsung sibuk menulis pesan untuk Alya. Cerita
tentangnya yang panjang kali lebar. Riana menceritakan kepada Alya mengenai unek-uneknya.
Ia kini telah dewasa, dan cinta mulai mengusik hidupnya. Hal ini berbenturan
dengan janjinya. Ia ingin menjaga hatinya, menjaga dirinya dari lelaki mana
pun, dan hanya fokus pada sekolahnya. Kini seseorang telah mencuri hatinya.
Lelaki itu mencuri hantinya dengan sejuta keindahan yang dimilikinya. Lelaki
itu menjadika hidup Riana lebih berwarna, tetapi tedrapat warna yang suram di
sana. Sesungguhnya Riana sangat ingin bersama lelaki itu, tapi dia tidak bisa.
Riana tidak mau dikatakan sebagai anak yang khianat, mengingkari janjinya
sendiri. Baginya, belum saatnya untuk bermain cinta. Dia tidak ingin memberikan
harapan palsu pada lelaki itu. Walau Riana tidak yakin benar bahwa lelaki itu
mencintainya. Tapi, tidak ia pungkiri, ia juga ingin cinta. Riana ingin
menjauhi lelaki itu, tapi ada hal yang membuatnya kembali dekat dengannya. Ia
harus segera menyelesaikan masalah ini. Dia meminta pendapat kepada Alya,
bagaimana baiknya?
Beberapa waktu menunggu, muncul juga balasan pesan Alya. Dia bilang
dia juga merasakan kebingungan yang dirasakan sahabatnya itu. Ia menebak lelaki
itu adalah Evan, dan itu benar. Alya bilang bahwa lebih baik ini dibiarkan saja
berjalan apa adanya. Ia yakin Riana mampu menjaga janjinya demi kedua orang
tuanya. Ia juga memberikan sara pada Riana, jika memang menghindari Evan itu
menyakitkan lebih baik Riana tetap dengan Evan. Bukan sebagai pacar, melainkan
sebagai sahabat. Baginya itu lebih baik.
Hati Riana sedikit terdamaikan membaca pesan dari Alya. Benar-benar
menjadi pencerahan baginya. Ia sangat berterima kasih pada Alya.
Keesokan paginya,
Alya berangkat pagi-pagi sekali. Niatnya, kalau hari ini Riana masuk, ia
menjadi orang pertama yang menyambut kedatangan sahabatnya itu.
“Alya, hari ini Riana masuk atau tidak?” Tanya Evan tiba-tiba.
“Aku juga belum tahu. Kita lihat saja nanti.”
Tiba-tiba terdengar suara salam lembut dari balik pintu.
“Waalaikum salam. Riana.!” Alya dan Evan kompak menjawab salam
Riana.
“Iya.”
“Aku sangat merindukanmu, Na. Hampa terasa hidupku tanpamu, dunia
gersang, siang hariku bagai malam, pelangipun berwarna kelam,” Alya mulai
lebay.
Riana hanya memberikan sedikit senyumnya pada Evan. Kemudian
melenggang pergi dengan Alya. Riana bertekat ingin menghindari Evan beberapa
saat untuk berpikir. Biar rasanya sakit tapi ini demi, demi kebaikan bersama.
Evan mulai merasakan perbedaan pada diri Riana. Seharian ini dia
menjauhi Evan. Ia mencoba bertanya pada Alya ketika tidak sedang dengan Riana.
“Aku tidak tahu, Van. Lebih baik kamu tanya sendiri,” tanpa banyak
berkata, Alya meninggalkan Evan dan masuk ke kelas. Belum sempat ia
melangkahkan kakinya, Evan menahannya.
“Tunggu, Alya. Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Sudah lama
aku memendam rasa ini. Aku menutupinya karena aku tahu, dia tidak mengiginkanku
apalagi cintaku.”
“Maksudmu Riana?” tanya Alya melebarkan kedua matanya.
“Begini, Van. Lebih baik kamu katakan apa yang ada di hatimu.
Apapun yang akan terjadi, itu pikir belakang. Yang penting kamu sudah
ungkapkan. Dan aku yakin itu bisa membuatmmu lega. Apapun itu,” jelasnya.
“Jadi, menurutmu aku harus menyatakan cintaku padanya? Sekalipun
dia menolakku?”
Tanpa Evan ketahui, Riana tengah berdiri tepat di belakangnya.
Mendengar semua perkataannya.
“Riana!” Kata Alya terkejut. Membuat Evan langsung membalikkan
badannya.
“Riana, aku...aku..aku..” Evan terbata-bata. Suasana menjadi
cengang. Angin yang berhembus seakan menghempaskan tubuhnya.
“Evan, biarkan aku bicara,” Kata Riana memutus perkataan Evan.
“Tidak! Aku yang harus bicara lebih dahulu. Dengarkan aku!” bantah
Evan.
“Kau yang harusnya mendengarku. Sejujurnya, aku juga mengagumimu,
bahkan lebih dari itu. Aku mencintaimu,
kamu itu seperti penyegar di hidupku,” Riana mulai meneteskan air
matanya.
Evan hanya terpaku melihat Riana. “Aku ingin bersamamu, tapi...”
“Ya, aku mengerti. Kau menolakku, kau tidak butuh cinta dari orang
sepertiku, kau terlalu sempurna bagiku. Suatu saat nanti kau akan menemukan
yang jauh lebih baik dari aku. Yang lebih tampan, kaya, pandai, dan punya
segala-galanya,” kata Evan setengah membalikkan badannya hendak pergi.
“Bukan begitu, aku telah berjanji pada diriku sendiri dan pada
orang tuaku untuk tidak bermain cinta. Tapi kamu, kamu mampu mengajariku arti
cinta yang sesungguhnya. Kamu telah mencuri hatiku. Mencuri hatiku yang ingin
kusimpan baik-baik, menumbuhkan rasa yang ingin aku pendam dalam-dalam. Namun dengan
sejuta keindahanmu, kau telah memiliki hatiku, walau ragaku belum siap menjadi
milikmu. Apakah kamu tahu betapa aku menahan diriku? Maaf jika semua ini
menyakitimu. Sejujurnya aku juga sakit. Aku menjauhimu hanya untuk berpikir.
Dan lebih baik sekarang ini kita bersahabat.”
Suasana semakin hening. Hanya hembusan angin yang terdengar, hingga
menusuk relung hati yang terdalam. Awan hitam mulai tidak sanggup menahan massa
jenis air di lagit. Tetes demi tetes air yang jatuh ke bumi, menjadi saksi cinta
yang hanya bisa terpendam. Keinginan menyatukan hati yang nyatanya pun tidak
bisa. Keinginan saling mencintai yang sama sekali tidak kesampaian.
“Aku bisa memahami kondisimu. Cintaku padamu melebihi segalanya.
Aku rela berkorban apapun demi kebaikanmu, sekalipun cintaku yang tidak
terbalas.”
“Tidak,” dengan cepat Riana menjawab, “Evan. Aku juga mencintaimu. Aku
membalas cintamu, tapi belum sekarang. Mungkin suatu saat nanti. Ketika kita
sama-sama dewasa, saling mengerti arti memiliki. Sekarang kamu sahabatku, Evan.
Sahabat baikku. Dan juga cintaku,” Riana tersenyum haru, air mata terus
membasahi pipinya.
Evan terlihat lega mendengar semua perkataan Riana. Biar kata
cintanya tertunda, namun ia tersenyum bahagia. Dengan menorehkan senyum
sejuknya, Evan meninggalkan Riana. Menandakan semua telah baik-baik saja.
“Terima kasih, Riana. Kamu
adalah gadis luar biasa yang telah hadir dalam hidupku. Kau telah menorehkan
lukisan indah dalam hatiku, kau memberi warna pada perjalanan kehidupanku
hingga terasa begitu berarti.,” kata Evan.
“Oh, ya. Asal kau tahu, Riana. Bukan kesempurnaanmu yang membuat
aku cinta, tapi cintalah yang membuat semua menjadi sempurna. Dan biarkan aku
mengatakan ini sekali lagi, aku sangat mencintaimu,” ujar Evan dengan mata yang
penuh dengan harapan, harapan akan cinta sejatinya.
“Evan, aku juga sangat
mencintaimu. Tunggu aku suatu hari nanti. Aku harap kaulah yang akan menjadi
imam bagiku, yang bijak, yang melindungiku, yang mencintaiku dan anak-anakku
nanti, serta yang mampu menyempurnakan kehidupanku,” kata Riana lirih,
tersenyum melihat Evan berlalu.
~LCM~