Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Aku
mampir ke pasar di sepanjang jalan dari kampus ke rumah. Sudah setengah
jam aku mengitari pasar ini. Tapi belum juga menemukan kado yang sesuai untuk
ibu. Saat aku berhenti sejenak untuk melepaskan lelahku, mataku tertuju pada
sebuah kios di ujung sana. Terlihat banyak sekali kelinci yang lucu. Mungkin
ibuku akan senang memiliki satu di antara mereka.
Aku mendekati kios itu. mengamati satu persatu kelinci yang
dipajang. Dengan ramah sang pemilik kios menghampiriku. Menawarkan beberapa
kelinci terbaiknya. Kuutarakan maksudku membeli kelinci. Kemudian pemilik kios
itu menunjukkanku seekor kelinci yang lucu dengan bulu putih yang bersih. Aku
langsung jatuh cinta padanya. Aku yakin ibuku juga akan sangat menyukainya.
Setibanya di rumah sore itu, aku sudah melihat mobil kakak-kakakku
duduk manis di halaman depan. Ya, aku memiliki dua orang kakak. Mereka sudah
menikah dan memutuskan tinggal terpisah dari ibuku di Solo. Kakakku yang
pertama, Mbak Aya, seorang dokter yang menikah dengan seorang pengusaha sukses,
memiliki dua orang putri, dan kini tinggal di Surabaya. Sedangkan kakakku yang
kedua, Mas Faisal, menjadi seorang polisi dan ditugaskan di Bandung. Dia
menetap di sana bersama isteri dan putranya di sana. Dan aku, aku kuliah di
Yogyakarta. Ayahku sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ibuku kini sendiri di
rumah dan hanya ditemani asisten rumah tangga kami yang setia serta satpam yang
senantiasa menjaga ibu. Inilah yang melatar belakangiku memilih binatang lucu
sebagai hadiah ulang tahun ibu.
Mbak Aya memberikan cincin berlian mewah yang terlihat sangat
mahal, Mas Faisal memberikan tas branded yang tidak kalah mahalnya, dan
aku hanya memberikan seekor kelinci dengan mata merah dan berbulu putih. Tetapi
di antara ketiga hadiah dari anak-anaknya, ibuku paling tertarik dengan kelinci
pemberianku. Ibu membelai lembut bulunya yang putih bercahaya. Dan ia
memutuskan memberinya nama “mentari”. Seketika ibuku terlihat akrab sekali
dengan Mentari. Ibu langsung membawa Mentari bermain di halaman. Halaman kami
sangat indah. Ibu sendiri yang mengatur dan merawat tanaman yang ada di sana. Menatanya
agar mendapat cahaya yang pas, menyiramnya dan memberi pupuk, memangkasnya, dan
mencintainya sepanjang hari.
Seperti yang aku pikirkan, ibuku sangat menyukai Mentari. Bahkan
lebih dari itu, Ibu sangat menyayanginya. Setiap hari dia memandikannya, memberinya
makan, membersihkan kandangnya sendiri, mengajak bermain, bahkan rutin
membawanya ke dokter hewan. Begitulah cerita Mbak Tum, asisten rumah tangga
kami yang senantiasa menemani Ibu. Aku senang, setidaknya kesepian Ibu terobati
dengan adanya Mentari.
Saat itu libur panjang. Aku dan kedua kakakku pulang ke rumah.
Begitulah kami, bisa berkumpul menjadi satu hanya kalau ada libur panjang dan
ketika ada acara tertentu, mengingat kesibukan kami sendiri-sendiri yang
menyebabkan terbatasnya waktu bersama. Namun kali ini ada yang berbeda,
tidak
seperti biasanya, Ibu yang biasanya menyambut kami dengan hangat dan penuh
rindu, kini justru acuh begitu saja. Ibu lebih asik bermain dengan Mentari
tanpa mempedulikan kedatangan kami.
“Eyang, aku bawakan bunga cantik untuk Eyang,” teriak Anggara,
putera Mas Faisal. Namun tidak didengar oleh Ibu.
“Sini, Sayang. Mungkin telinga Eyang sakit. Jadi tidak dengar suara
Anggara,” rayu Mas Faisal melihat wajah putranya yang murung karena pengabaian
Ibu.
Aku melihat kekecewaan
tersirat di wajah lugu dari keponakanku. Akupun menyesali sikap Ibu yang
terlalu antusias dengan Mentari. Saat makan malam, Ibupun melewatkan momen itu.
momen ketika ketiga buah hatinya bisa bersamanya. Ya, Ibu masih saja sibuk
dengan Mentarinya. Setelah makan malam, kita semua, kecuali Ibu, berkumpul di
ruang keluarga. Ibu masih saja bermain-main dengan Mentari di gazzebo samping
rumah. Mbak Aya memanggil Mbak Tum bergabung dengan kami.
“Mbak, apakah setiap hari Ibu seperti itu?” tanya Mbak Aya memulai
percakapan.
“Uhm, iya, Mbak. Nyonya
terlalu sayang dengan Mentari. Bahkan melebihi sayangnya kepada dirinya
sendiri.”
“Maksud, Mbak?” tanya Mas Faisal bingung.
“Seperti itu, Mas. Mas Faisal bisa lihat sendiri, bahkan Nyonya
mengabaikan makannya karena terlanjur asik bermain dengan Mentari. Taman di
halaman juga tidak lagi dirawat Ibu, Mas. Sekarang Mang Dadang yang
mengurusnya. Padahal dulu Ibu sangat tidak membolehkan orang lain menyentuh
tanaman-tanamannya.”
Memang, terlihat sekali taman depan rumah sangat kacau. Tidak indah
seperti biasanya.
“Mbak, kenapa tidak pernah bilang ke saya pas saya telpon?” kataku
memelas.
“Maaf, Mbak Mila. Saya tidak mau membuat Mbak Mila, Mas Faisal, dan
Mbak Aya kepikiran.”
“Jelas sajalah, Mbak, kami memikirkan Ibu kami,” ujar Mas Faisal
dengan nada agak marah. “Sekarang bagaimana, kalau Ibu terus hanya memikirkan
Mentari tanpa mengingat kesehatannya yang mulai renta, lalu Ibu jatuh sakit,
siapa yang mau bertanggung jawab?” sambungnya.
“Mas, Mbak, saya minta maaf. Saya janji akan merawat Ibu lebih baik
lagi.”
Sejak kejadian sore itu, aku dan kedua kakakku semakin gencar
memantau Ibu dari jauh. Meski tidak berdampak banyak dan Ibu tetap saja hanya
fokus pada Mentari. Hingga suatu hari, Ibu menelponku dengan menangis
tersedu-sedu memintaku untuk segera pulang tanpa alasan yang jelas.
“Tapi, Bu, sore ini Mila ada pertemuan pengurus BEM yang tidak bisa
ditinggal. Lagi pula malam ada seminar kerja praktik, Bu. Mila tidak bisa
pulang. Maaf, Bu.”
“Kamu pokoknya harus pulang, Mil. Harus!” Ibu mulai emosi. “Kamu pilih
pulang, atau kamu tidak usah pulang selamanya?!” Gertaknya.
Astaga, masalah apa yang sedang melanda ibuku hingga demikian. Aku
harus bagaimana? Aku benar-benar dalam situasi yang sulit.
“Sebenarnya ada apa, Bu? Tidakkah Mang Dadang dan Mbak Tum cukup untuk
membantu menyelesaikannya? Apa masalahnya?” aku semakin bingung.
“Ibu tidak mau tahu, kamu harus pulang.”
Aku berpikir sejenak setelah ibu memutus telponnya. Kemudian
ponselku berdering lagi. Ternyata Mbak Tum. Mbak Tum memintaku untuk pulang
saja. Dia khawatir sakit jantung Ibu akan kumat. Aku pikir mungkin ini masalah
benar-benar genting. Sehingga aku memutuskan untuk pulang saja.
Di perjalanan, Mbak Tum menelpon lagi. Dia memberiku alamat dokter
dan menyuruhku untuk langsung ke tempat praktik itu. Hatiku terguncang. Apa
yang terjadi? Ada apa dengan Ibu? Belum sempat aku menanyakannya, Mbak Tum
sudah menutup telponnya. Hatiku semakin tidak karuan sepanjang jalan itu. Aku
takut hal buruk terjadi pada Ibu.
Setibanya di sana, aku tercengang. Dokter hewan? Apa maksud semua
ini?
“Mila, kamu datang juga. Ibu sangat panik sekali. Cuma kamu yang
bisa datang. Tidak mungkin Ibu meminta kakakmu yang datang ke mari.”
“Ini kenapa, Bu?” aku benar-benar heran.
“Mentari terluka, Mil. Kakinya terkena pecahan kaca. Darahnya
berceceran. Dia meringik. Pasti rasanya amat sakit. Ibu tidak sanggup
melihatnya.”
Apa?! Hanya karena Mentari? Aku tidak habis pikir dengan Ibu.
Tidak berhenti di situ. Suatu malam Mbak Tum menelponku, dia bilang
jantung Ibu kumat. Tanpa berpikir panjang aku langsung pulang. Ternyata di sana
sudah ada Mbak Aya dan Mas Faisal.
“Ini sebenarnya apa yang terjadi, Mbak Tum?” tanya Mas Faisal
sangat penasaran.
Mbak Tum hanya diam.
“Jangan bilang ini karena Mentari?!” kataku memecah kesunyian.
“I..Iya, Mbak, Mas,” ujar Mbak Tum terbata-bata.
“Ya Tuhan!” teriak Mbak Aya heran. “kenapa si Mentari? Kakinya kena
paku?” sambungnya.
“Bukan, Mbak. Mentari keracunan. Mulutnya berbusa dan sekarang dia
sudah mati, Mbak”
Kita bertiga tercengang. Ibu sampai serangan jantung hanya karena
kelinci mati. Apa Ibu sudah menganggap kelinci itu anaknya?
Semenjak Mentari mati, Ibu seolah kehilangan semangat hidupnya.
Anak-anaknya tak berarti di matanya. Mungkin baginya Mentarilah anaknya.
“Mbak, Mas, aku mengaku salah. Semua ini karena pemberianku pada
Ibu. Harusnya aku tidak memberinya kelinci itu,” kataku penuh sesal.
“Bukan, Dik. Ini salah kita. Kita terlalu sibuk dengan urusan
sendiri-sendiri sampai kurang memperhatikan Ibu. Aku tahu, Ibu pasti sangat
kesepian. Dan Mentari memang seperti mentari yang menghangatkannya, menemani
hari-harinya, membuatnya berwarna. Sehingga wajar saja Ibu sangat menyayangi
Mentari. Kitalah yang salah.”
Mas Faisal benar. Kita hampir melalaikan Ibu. Tapi nasi sudah
menjadi bubur. Sekarang Ibu shock berat ditinggal Mentari.
“Ibu benar-benar terpukul. Kita harus bisa membangkitkan
semangatnya lagi,” ujar Mbak Aya penuh semangat.
Kita bertiga mencoba berbicara baik-baik kepada Ibu. Tapi jelas itu
tidak mudah. Kondisi psikisnya benar-benar telah terguncang. Sejak kejadian
konyol itu, kami bertiga dengan perlahan berusaha keras mengambil lagi kasih
sayang Ibu kepada kami yang sempat tertutup. Dan saling berjanji untuk lebih
mengabdi pada Ibu yang tercinta. (LCM)