“When
you educate a man, you educate one person. But when you educate a women, you
edcate a family, you educate a children, you educate a tribe, you educate a
nation,” Dr. James Emmanuel Kwegyir-Aggrey (1875-1927)
Perempuan tidak sekedar juru masak bagi keluarganya, tidak sebatas
tukang bersih-bersih, atau hanya pembantu pemenuhan kebutuhan lain. Tapi
perempuan adalah kekuatan yang besar. Sumber dan pembangkit semangat bagi siapa
saja yang mereka kasihi. Perempuan merupakan pilar utama bagi keluarga. Peningkatan kualitas sumber daya
manusia dimulai dari peran perempuan dalam memberikan pendidikan kepada anaknya
sebagai generasi penerus bangsa.
Bagi saya, apapun akhir dari kisah karir seorang perempuan, dia
harus tetap berpendidikan tinggi. Dia lah pendidik dan pengajar anak-anaknya
sebagai pemegang bangsa dan agama mereka. Peran perempuan dalam pendidikan
tidak dapat dipungkiri. Maka jelas baginya untuk memantaskan diri dengan
pendidikan yang sebaik mungkin dan setinggi-tingginya.
Pendidikan bagi seorang perempuan bukan sekedar pemenuhan gengsi
atau mengikuti perkembangan zaman dengan berdalih emansipasi wanita. Tetapi
pendidikan adalah proses penempaan diri menjadi perempuan yang lebih cerdas dan
mendewasa. Memang pad dasarnya perempuan lahir dengan kecerdasannya sendiri,
tapi bukan berarti cerdas itu cukup. Kecerdasan yang dimiliki perlu diasah dan
dikembangkan agar perempuan bisa menularkan ilmunya dan memberikan pengajaran
sebaik mungkin kepada keturunannya.
Bukan berarti pula perempua harus mengambil konsentrasi pendidikan
yang sesuai untuk perkembangan anak, seperti ilmu psikologi. Konsenstrasi
apapun bebas mereka ambil. Tidak salah juga kami, para mahasiswi teknik
mengambil konsentrasi ilmu keteknikan. Yang terpenting dalam pendidikan adalah
proses yang kita lalui dan pengolahan pemikiran.
Dari situ, peran perempuan sangat ditanyakan. Bisakah perempuan
mendidik keturunannya dengan baik? Meskipun dengan latar belakang pendidikan
yang “mungkin” kurang mendukung dalam kehidupan keluarga?
Meski ilmu selama menempuh pendidikan tidak digunakan dalam
kehidupan rumah tangganya, namun ketika perempuan telah melalui rintangan dalam
pendidikan, dia akan mampu melewati rintangan-rintangan dalam kehidupan
berikutnya atas pembelajaran kehidupan yang dia dapat.
Pada akhirnya, tidak bisa dipungkiri bahwa kodrat perempuan akan
menjadi ibu rumah tangga. Entah apakah dia berpendidikan tinggi atau rendah,
tetap berkarir atau tidak. Namun dialah pendidikan pertama bagi anak-anaknya.
Pengajar dan pelita ilmu di dalam rumah yang damai. Yang paling banyak
menghabiskan waktu untuk menanamkan ilmu-ilmu kehidupan pada keluarganya.
Bahkan Nabi Muhammadpun telah bersabda, “Perempuan itu adalah pilar
negara.” Jika perempuan itu baik, dalam sikapnya, pendidikannya, dan budi
pekertinya; baiklah pula negaranya. (LCM)