Keterangan : - var numfeed = 5; adalah jumlah artikel yang ditampilkan - var charac = 100; adalah jumlah karakter atau huruf pada setiap post - silahkan ganti Url Blogger Bondowoso dengan URL blog anda

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 09 Mei 2022

Hal-hal 'Ajaib' dalam Pernikahan (part 1)

 

Berbicara tentang pernikahan, rasanya campur aduk. Terdengar menyenangkan, penuh cinta, membuat para jomblo meronta-ronta. Tapi sekaligus terdengar berat, penuh tantangan, dan persoalan-persoalan baru. Kebanyakan orang sibuk menyiapkan wedding, dan justru mengenyampingkan mempersiapkan marriage. Entahlah, sepertinya wedding memang terlihat lebih menyenagkan untuk dibahas dan diulas. Namun sejatinya marriage-lah yang akan kita hadapi sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Hm, salah. Waktu yang bisa ditentukan, yaitu akhir hayat.

 

Aku tidak munafik. Dulu aku juga begitu, yang terbayang begitu indah adalah saat wedding, atau honeymoon, hanya tergambar yang romantis dan menyenangkan saja. Bukannya aku tidak mau mempersiapkan menghadapi ujian pernikahan, akupun sudah mengikuti berbagai seminar pra-nikah, pengelolaan keuangan, persiapan kehamilan, hingga parenting. Namun membayangkan indahnya dan menyenangkannya wedding itu seperti sebuah stress release tersendiri hehehe.

 

I just wanna share my though here. If you wanna know, just read. If you don’t wanna know, you can ignore it. Enaknya cerita senangnya atau dukanya dulu ya? Hmmm. Okay, mari kita mulai dengan yang berat-berat dulu. Wahai jomblowan dan jomblowati, please wake up! Cinta tak selamanya indah, Dek! Hahaa

 

Baru-baru ini aku baru menyadari, kenapa menikah dikatakan sebagai pelengkap separuh agama. Selain perkara cinta yang menjadi halal, semua yang dilakukan untuk suami/istri menjadi bernilai ibadah, atau terhindarnya dari zina; lebih dari itu. Menikah menjadi pelengkap separuh agama karena menikah adalah ibadah terpanjang yang kita jalani. Seumur hidup. Tentunya orang yang menikah berharap bisa menikah hingga seumur hidup, bukan? Mulai dari perkata mengabdi pada suami, atau menafkahi istri, mendidik anak, berdamai dengan keegoisan masing-masing, melatih kesabaran, belajar memperbaiki diri bersama, dan banyak hal yang lainnya. Tentunya tidak mudah menggabungkan dua manusia, dua karakter yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, pola asuh dari orang tua yang berbeda.

 

Hal kecil dan sepele saja bisa menjadi sebuah perdebatan panjang. Aneh, tapi lucu. Ini benar-benar terjadi kepadaku dan suamiku. Misalnya perkara jumlah makanan yang terlalu banyak, kami berdebat siapa yang akan menghabiskannya. Sungguh, ini membuat kami bisa tidak saling bicara semalaman. Aneh, kan? Yass, marriage is not as that easy. Sebenarnya dalam hati aku merasa sangat menyesal dan berdosa, sudah berdebat dengan suami, ngomel-ngomel. Seperti kemudian muncul malaikat yang membisikkan untuk setelah ini lebih baik dan lebih sabar ke suami. Okay then, tekatku bulat. Aku tidak akan membuat suamiku marah dan aku tidak akan marah padanya. Apakah itu terjadi? Oh, tidak. Sepertinya mengomel adalah nama belakangku, melekat sekali denganku hehe. (maafkan aku suamiku hehe).

 

Aku dan suamiku dibesarkan dari keluarga yang berbeda. Orang tua kami memiliki idealisme mendidik anaknya dengan cara yang berbeda pula. Hal ini tentu saja berpengaruh pada negoisasi kami dalam menjalani kehidupan pernikahan, terlepas dari peredaan karakter. Demi apapun itu sungguh sulit sekali. Entahlah, aku merasa dia seperti tidak memahami apa yang aku inginkan, sulit sekali menemukan win-win solution. Dan yeah, berujung saling mendiamkan haha.

 

Tidak berhenti di situ. Sebagai pengantin baru, menjadi bucin sepertinya sebuah kewajiban. Tidak jarang aku merasa si mas suami lebih perhatian pada pekerjaan dan games nya. Kemudian aku merajuk. Atau saat aku merajuk, dia malah mendiamkan aku, kemudian aku memandang langit, meratapi nasip, berpikir kenapa suamiku berbeda. Astaga aku! Hahaha. Bahkan aku pernah berpikir, memang hanya ayah yang bisa mencintai anak perempuannya dengan tulus, tidak akan membiarkan anaknya menangis dan kecewa sedikitpun.

 

Seperti inilah duka yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Mungkin kita sudah mengalaminya saat masih berpacaran. Tapi hey, tunggu, dalam pernikahan masalahnya menjadi tidak sesederhana itu. Ada rasa benar-benar memiliki, rasa ingin dimengerti, mungkin suami merasa dialah pemimpin yang harus didengar, istri pun merasa dia harus diayomi dan diperlakukan seperti ayahnya memperlakukannya. Untuk mengatasi semua pergejolakan ini tidaklah mudah. Kita semua harus menyiapkan mental sedini mungkin sebelum menikah, memahami karakter pasangan kita, mau menurunkan ego dan mengalah. Mengalah bukan berarti kalah. Ini pernikahan, bukan pertandingan. Betul? Jika para perempuan ingin diperlakukan seperti ratu oleh suaminya, mereka juga harus bisa memperlakukan suaminya seperti raja. Bagi kalian yang sedang bertengkar dengan siapapun, dimanapun, sudahilah. We don’t have a lot of time. Jangan buang-buang waktu kita untuk berdiam-diaman. Kita harus lebih menghargai waktu bersama orang-orang tercinta, sebelum kita terpaksa berpisah oleh keadaan.

 

Ih sebel deh jadi melow. Nangis nih huhuu.

Okay mari kita lanjutkan ke bagian menyenangkannya.

I am back....

Hi, guys. It's been a while..

Yah, aku tahu sepertinya sudah tidak banyak lagi yang membaca melalui blog. Bahkan mungkin sudah tidak ada. Semuanya sudah beralih ke platform lain. Anyways, I think it can be better. Aku ingin menulis, mencurahkan beberapa hal yang aku rasakan, beberapa pengalaman, untuk membuat aku merasa lega. Aku tidak peduli tanggapan orang lain, maka dari itu ini adalah platform yang tepat. Mungkin tidak akan pernah ada yang membaca tulisanku. Hehehehe

Tapi, bagaimanapun juga, jika ada seseorang yang membacanya, aku berharap coretan ini bermanfaat untuknya. 

Yeaah, I just wanna say that. See ya!

Kamis, 02 Agustus 2018

Rindu

Aku suka dibuat kesal sebab rindu datang tak kenal aturan. Bertamu tanpa memandang waktu. Gemar berkunjung saat subuh. Mengajak bermin saat aku sedang lelah. Rindu datang ketika aku sedang terjaga dan sedang tidak mengerjakan apa-apa hingga tak punya pilihan lain selain merasakan rindu makin dalam. Dan yang lebih menyebalkan, rindu tak mau segera pergi meski telah diusir.

Bisa tidak rindu hadir nanti saja?
Saat siang datang agar aku punya kesibukan supaya rindu tak terlalu terasa, lalu cepat hilang. Atau saat aku sedang tidur, agar aku tak merasakannya.

Rindu tidak lucu, mungkin dia tidak pernah diajari membaca situasi dan waktu. Juga tata krama bertamu yang baik, cara menyapa, dan mengajak bercengkrama. Aku tidak mengerti mengapa rindu sebandel itu, suka menyusup padaku padahal kita baru saja bertemu. Menghantui dan mengikuti kemanapun aku pergi. Hingga kesibukanku yang lain berantahkan.

Rindu selalu berhasil menyisipkan dirimu dalam barisan lirik lagu tertentu atau pintar sekali memunculkan refleksi wajahmu pada apa saja—bahkan pada daftar menu makanan, buku, pantulan cermin, bayangan di genangan air, sampai aku merasa semua orang mirip denganmu, dan semua aroma yang masuk ke hidungku seperti bau parfummu.

Rindu seperti virus. Tiada henti-hentinya menyerangku. Anehnya, dia sudah kebal dengan segala vaksin yang aku berikan. Hanya ada satu obatnya. Kamu.

Kamu seperti rumah bagiku. Tempat rinduku bermuara, meletakkan segala rasa gundah dan risauku. Kamu, selalu menjadi tempat aku kembali.

Tapi, apakah kau menganggapku sebagai penghunimu?

LCM

Kamis, 24 Agustus 2017

Cinta yang Lain (Lanjutan Cinta di Hidupku)



Sejak batalnya pernikahanku, aku benar-benar kehilangan hasrat untuk menyusun pernikahan lagi. Aku bahkan tidak tahu, apakah hatiku bisa mencintai selain Raihan. Seluruh cintaku sudah terlanjur terbawa olehnya. Sejak setahun lalu, aku meninggalkan pekerjaanku, aku menurung diri di rumah, aku mengurung diriku dalam tempurung, menutup diri dari teman-temanku. Mungkin bagi kalian aku berlebihan, tapi sungguh, hidupku benar-benar hancur. Coba bayangkan, bertahun tahun kau mencintai seseorang, kau mendambakannya untuk menikah denganmu, dengan istimewa dia datang melamar, setelah semua persiapan pernikahan sempurna, tinggal tiga hari sebelum pernikahan, calon suamimu meninggal tanpa sempat kau mengatakan bahwa kau sangat mencintainya! Bayangkan betama hancurnya hatiku. Tidak, bukan lagi hancur, tapi remuk hingga lembut dan tak bersisa. Bayangkan, bayangkan bagaimana aku punya harapan untuk melanjutkan hidup?

Sabtu, 19 Agustus 2017

Terlalu Pagi



Masih terlalu pagi
Sepi, sunyi
Terlalu riskan membicarakan ini
Ini, masih terlalu pagi
Berat untuk dikuak bersama dinginya pagi dan secangkir kopi

Masih terlalu pagi
Membayangkan layang-layang penuh pelangi

Selasa, 15 Agustus 2017

Hiburan untuk Para Jomblo



Banyak orang yang mengeluhkan ke’JOMBLO’annya. Bahkan jika boleh ada istilah yang lebih tepat dari pada mengeluh, mungkin meraung dan melonglong seperti kucing kelaparan itu lebih tepat. Saya tidak tahu apakah anda termasuk orang di atas, atau justru mungkin saya juga.

Sekarang, saya mengajak anda untuk berpikir sejenak, 5 menit saja. 5 menit yang mungkin akan merubah stereotip bahwa jomblo itu mengenaskan. 5 menit saja, fokuslah memikirkan apa yang saya sampaikan, tanpa melakukan pekerjaan lain.

Tidak sedikit orang yang menganggap jomblo adalah hal aneh. Bahkan dikonotasikan dengan kata “tidak laku”. Eh, ayoo lah! Stop thinking about that! Sesungguhnya, tidak semua orang jomblo adalah karena dia tidak laku. Mblo, jangan galau dan jangan risau. Jomblo itu bukanlah hal buruk. Justru kamu para jomblo harus berbangga hati karena men’jomblo’.

Senin, 24 Juli 2017

Sajak Rinduku Untukmu



Aku merindukanmu, selalu
Di setiap panjangnya hariku
Tidak ada sedikitpun terlewatkan tanpa memikirkanmu
Aku selalu dipermainkan olehnya, rindu

Aku rindu, bahkan ketika kamu di depanku
Aku masih menunggu, bahkan ketika kau tengah bersamaku
Menyingkapkan senyum teduhmu kala itu
Aku rindu, sangat berat merindu

Aku menyesal, saat bersamamu tak ku pandangmu sampai jemu
Ku kira, cukup kupandang kau sekejam lalu kusimpan dalam ingatanku
Menurutku, kau jauh lebih indah ketika tersimpan dalam rindu
Namun aku salah, ingatanku tak mampu menyimpanmu