Berbicara tentang pernikahan, rasanya campur aduk. Terdengar menyenangkan, penuh cinta, membuat para jomblo meronta-ronta. Tapi sekaligus terdengar berat, penuh tantangan, dan persoalan-persoalan baru. Kebanyakan orang sibuk menyiapkan wedding, dan justru mengenyampingkan mempersiapkan marriage. Entahlah, sepertinya wedding memang terlihat lebih menyenagkan untuk dibahas dan diulas. Namun sejatinya marriage-lah yang akan kita hadapi sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Hm, salah. Waktu yang bisa ditentukan, yaitu akhir hayat.
Aku tidak munafik. Dulu aku juga begitu, yang terbayang begitu indah adalah saat wedding, atau honeymoon, hanya tergambar yang romantis dan menyenangkan saja. Bukannya aku tidak mau mempersiapkan menghadapi ujian pernikahan, akupun sudah mengikuti berbagai seminar pra-nikah, pengelolaan keuangan, persiapan kehamilan, hingga parenting. Namun membayangkan indahnya dan menyenangkannya wedding itu seperti sebuah stress release tersendiri hehehe.
I just wanna share my though here. If you wanna know, just read. If you don’t wanna know, you can ignore it. Enaknya cerita senangnya atau dukanya dulu ya? Hmmm. Okay, mari kita mulai dengan yang berat-berat dulu. Wahai jomblowan dan jomblowati, please wake up! Cinta tak selamanya indah, Dek! Hahaa
Baru-baru ini aku baru menyadari, kenapa menikah dikatakan sebagai pelengkap separuh agama. Selain perkara cinta yang menjadi halal, semua yang dilakukan untuk suami/istri menjadi bernilai ibadah, atau terhindarnya dari zina; lebih dari itu. Menikah menjadi pelengkap separuh agama karena menikah adalah ibadah terpanjang yang kita jalani. Seumur hidup. Tentunya orang yang menikah berharap bisa menikah hingga seumur hidup, bukan? Mulai dari perkata mengabdi pada suami, atau menafkahi istri, mendidik anak, berdamai dengan keegoisan masing-masing, melatih kesabaran, belajar memperbaiki diri bersama, dan banyak hal yang lainnya. Tentunya tidak mudah menggabungkan dua manusia, dua karakter yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, pola asuh dari orang tua yang berbeda.
Hal kecil dan sepele saja bisa menjadi sebuah perdebatan panjang. Aneh, tapi lucu. Ini benar-benar terjadi kepadaku dan suamiku. Misalnya perkara jumlah makanan yang terlalu banyak, kami berdebat siapa yang akan menghabiskannya. Sungguh, ini membuat kami bisa tidak saling bicara semalaman. Aneh, kan? Yass, marriage is not as that easy. Sebenarnya dalam hati aku merasa sangat menyesal dan berdosa, sudah berdebat dengan suami, ngomel-ngomel. Seperti kemudian muncul malaikat yang membisikkan untuk setelah ini lebih baik dan lebih sabar ke suami. Okay then, tekatku bulat. Aku tidak akan membuat suamiku marah dan aku tidak akan marah padanya. Apakah itu terjadi? Oh, tidak. Sepertinya mengomel adalah nama belakangku, melekat sekali denganku hehe. (maafkan aku suamiku hehe).
Aku dan suamiku dibesarkan dari keluarga yang berbeda. Orang tua kami memiliki idealisme mendidik anaknya dengan cara yang berbeda pula. Hal ini tentu saja berpengaruh pada negoisasi kami dalam menjalani kehidupan pernikahan, terlepas dari peredaan karakter. Demi apapun itu sungguh sulit sekali. Entahlah, aku merasa dia seperti tidak memahami apa yang aku inginkan, sulit sekali menemukan win-win solution. Dan yeah, berujung saling mendiamkan haha.
Tidak berhenti di situ. Sebagai pengantin baru, menjadi bucin sepertinya sebuah kewajiban. Tidak jarang aku merasa si mas suami lebih perhatian pada pekerjaan dan games nya. Kemudian aku merajuk. Atau saat aku merajuk, dia malah mendiamkan aku, kemudian aku memandang langit, meratapi nasip, berpikir kenapa suamiku berbeda. Astaga aku! Hahaha. Bahkan aku pernah berpikir, memang hanya ayah yang bisa mencintai anak perempuannya dengan tulus, tidak akan membiarkan anaknya menangis dan kecewa sedikitpun.
Seperti inilah duka yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Mungkin kita sudah mengalaminya saat masih berpacaran. Tapi hey, tunggu, dalam pernikahan masalahnya menjadi tidak sesederhana itu. Ada rasa benar-benar memiliki, rasa ingin dimengerti, mungkin suami merasa dialah pemimpin yang harus didengar, istri pun merasa dia harus diayomi dan diperlakukan seperti ayahnya memperlakukannya. Untuk mengatasi semua pergejolakan ini tidaklah mudah. Kita semua harus menyiapkan mental sedini mungkin sebelum menikah, memahami karakter pasangan kita, mau menurunkan ego dan mengalah. Mengalah bukan berarti kalah. Ini pernikahan, bukan pertandingan. Betul? Jika para perempuan ingin diperlakukan seperti ratu oleh suaminya, mereka juga harus bisa memperlakukan suaminya seperti raja. Bagi kalian yang sedang bertengkar dengan siapapun, dimanapun, sudahilah. We don’t have a lot of time. Jangan buang-buang waktu kita untuk berdiam-diaman. Kita harus lebih menghargai waktu bersama orang-orang tercinta, sebelum kita terpaksa berpisah oleh keadaan.
Ih sebel deh jadi melow. Nangis nih huhuu.
Okay mari kita lanjutkan ke bagian menyenangkannya.