Aku suka dibuat kesal sebab rindu datang tak kenal aturan. Bertamu tanpa memandang waktu. Gemar berkunjung saat subuh. Mengajak bermin saat aku sedang lelah. Rindu datang ketika aku sedang terjaga dan sedang tidak mengerjakan apa-apa hingga tak punya pilihan lain selain merasakan rindu makin dalam. Dan yang lebih menyebalkan, rindu tak mau segera pergi meski telah diusir.
Bisa tidak rindu hadir nanti saja?
Saat siang datang agar aku punya kesibukan supaya rindu tak terlalu terasa, lalu cepat hilang. Atau saat aku sedang tidur, agar aku tak merasakannya.
Rindu tidak lucu, mungkin dia tidak pernah diajari membaca situasi dan waktu. Juga tata krama bertamu yang baik, cara menyapa, dan mengajak bercengkrama. Aku tidak mengerti mengapa rindu sebandel itu, suka menyusup padaku padahal kita baru saja bertemu. Menghantui dan mengikuti kemanapun aku pergi. Hingga kesibukanku yang lain berantahkan.
Rindu selalu berhasil menyisipkan dirimu dalam barisan lirik lagu tertentu atau pintar sekali memunculkan refleksi wajahmu pada apa saja—bahkan pada daftar menu makanan, buku, pantulan cermin, bayangan di genangan air, sampai aku merasa semua orang mirip denganmu, dan semua aroma yang masuk ke hidungku seperti bau parfummu.
Rindu seperti virus. Tiada henti-hentinya menyerangku. Anehnya, dia sudah kebal dengan segala vaksin yang aku berikan. Hanya ada satu obatnya. Kamu.
Kamu seperti rumah bagiku. Tempat rinduku bermuara, meletakkan segala rasa gundah dan risauku. Kamu, selalu menjadi tempat aku kembali.
Tapi, apakah kau menganggapku sebagai penghunimu?
LCM