Sejak batalnya pernikahanku, aku
benar-benar kehilangan hasrat untuk menyusun pernikahan lagi. Aku bahkan tidak
tahu, apakah hatiku bisa mencintai selain Raihan. Seluruh cintaku sudah
terlanjur terbawa olehnya. Sejak setahun lalu, aku meninggalkan pekerjaanku,
aku menurung diri di rumah, aku mengurung diriku dalam tempurung, menutup diri
dari teman-temanku. Mungkin bagi kalian aku berlebihan, tapi sungguh, hidupku
benar-benar hancur. Coba bayangkan, bertahun tahun kau mencintai seseorang, kau
mendambakannya untuk menikah denganmu, dengan istimewa dia datang melamar,
setelah semua persiapan pernikahan sempurna, tinggal tiga hari sebelum
pernikahan, calon suamimu meninggal tanpa sempat kau mengatakan bahwa kau
sangat mencintainya! Bayangkan betama hancurnya hatiku. Tidak, bukan lagi
hancur, tapi remuk hingga lembut dan tak bersisa. Bayangkan, bayangkan
bagaimana aku punya harapan untuk melanjutkan hidup?
Tidak, kalian tidak akan pernah bisa merasakan betapa buruknya aku waktu itu. Mungkin aku bukan satu-satunya orang yang diuji oleh Tuhan, bahkan ada yang lebih berat, tapi duniaku seakan runtuh. Harapan indah yang kunanti dan kubangun begitu sempurna gugur seketika.
Tidak, kalian tidak akan pernah bisa merasakan betapa buruknya aku waktu itu. Mungkin aku bukan satu-satunya orang yang diuji oleh Tuhan, bahkan ada yang lebih berat, tapi duniaku seakan runtuh. Harapan indah yang kunanti dan kubangun begitu sempurna gugur seketika.
Hingga kini, perasaanku masih
sama padanya, meski beberapa kali Ayah dan Kakak-kakakku mengenalkan dengan
lelaki lain. Setiap tanggal kematian Raihan, aku pergi ke makamnya. Kutumpahkan
rindu dan sedihku di nisannya. Aku tak peduli apa kata orang. Aku ingin
menyusulnya, tapi aku masih punya Tuhan. Dia lebih berhak menentukan hidup atau
matiku, termasuk Raihan. Aku sempat mengutuk takdir yang memisahkanku dengan
Raihan, aku terpuruk, sungguh sulit meyakinkan diriku lagi bahwa ini rencana
Tuhan yang terbaik, Dia lebih menyayangi Raihan.
Sore itu aku benar-benar
merindukan Raihan. Aku duduk di gazebo ujung rumah, teringat saat Raihan
berterima kasih karena aku meilihnya menjadi suamiku. Sayup-sayup angin sore,
kicauan burung yang hendak kembali ke sarang, ditambah sinar senja yang redup
terasa begitu indah. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan ini, sesempurna cintaku
untuk Raihan.
“Dek, adek sedang apa?” tanya
Bunda mengejutkanku.
Aku diam. Kurasa Bunda paham apa
yang sedang kupikirkan. Apa lagi kalau bukan Raihan? Hanya itu yang paling
sering kupikirkan.
“Sayang, sudah setahun berlalu.
Ikhlaskan Raihan, Nak. Biarkan dia tenang di sana,” katanya membelai kepalaku.
Aku memandang mata Bunda dalam-dalam.
“Bunda, Arini sudah mengikhlaskan
Raihan. Sungguh, Arini sudah rela dia pergi, Bunda,” kataku merengek.
“Jika memang demikian, lanjutkan
hidupmu sebagaimana mestinya, sayang. Bunda rindu Arini yang selalu ceria dan
semangat, penuh ambisi akan cita-citanya. Kembalilah bekerja, Dek. Carilah
kebahagian yang lain,”
“Arini bahagia dengan Ayah dan
Bunda. Arini tidak perlu kebahagiaan yang lain,” sanggahku.
“Carilah cinta yang lain, Arini,”
kata Bunda lalu pergi, mengakhiri perdebatan kami.
Semenjak kematian Raihan, aku
memang tidak pernh mempedulikan sekelilingku. Aku bahkan tidak peduli tentang
kekhawatiran keluargaku akan masa depanku. Aku benar-benar tak mempedulikan kehidupanku.
Sepertinya aku tidak bisa mencintai laki-laki lain, termasuk Haidar yang dulu
sempat mencuri perhatianku. Setelah merenung panjang, aku meyakinkan diri akan
mendirikan sebuah panti asuhan di kota pesawat Raihan jatuh kala itu. Berbekal
tabunganku yang sempat aku kumpulkan dahulu, aku juga akan meminta bantuan
Ayah. Pasti dia mau membantu. Kuutarakan maksudku pada Ayah dan Bunda, mereka
sangat mendukungku.
“Ayah senang, Rin. Ayah kembali
menemukan cahaya semangat di wajah putri kecil Ayah. Ayah merindukan mata yang
berbinar itu,”
Aku harus bangkit. Aku akan
mewujudkan mimpiku dulu, mendirikan yayasan untuk mereka yang tidak mampu.
Mungkin sekarang bisa kuawali dengan membangun panti asuhan. Sudah tiga bulan
berlalu, aku berusaha mendapatkan donatur tetap dan telah menyiapkan tanah. Syukurlah,
aku tidak kesulitan mencari donatur. Ada kawan-kawan lamaku dan beberapa kolega
kerja Ayah. Besok hari pertama pembangunan panti asuhanku.
Saat aku datang mengunjungi
lokasi pembangunan, ada seseorang yang datang dan mengejutkanku. Senyum indah
itu, senyum yang selalu tergambar di ingatanku, senyuman Raihan.
“Arini!” teriaknya. “Kamu apa
kabar, sayang?” sapa Umi yang begitu renyah di telinga.
“Alhamdulillah, baik, Umi. Umi
bagaimana? Mana Abi?”
“Alhamdulillah, Umi, Abi, dan Dik
Farhan baik. Abi tidak ikut, sayang. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.
Umi cuma sama Mang Giman.”
Kami sudah sebulan belum bertemu.
Sejak perjodohan itu, Umi dan Abi Raihan sudah seperti orang tuaku sendiri.
Mereka sangat menyayangiku seperti menyayangi puteri mereka sendiri. Umi sering
datang ke rumahku, terlebih mengetahui betapa terpuruknya aku. Setelah
bercerita sebulan terakhir kita tak berjumpa, Umipun bercerita. “Kemarin Umi ke
rumahmu, tapi kamu sedang pergi mengurus persiapan pembangunan panti ini.”
“Loh kok Umi gak kasih tau Arini?
Bunda juga gak cerita,” kataku sedih.
“Umi yang melarang Bundamu untuk
bercerita. Umi bangga sekali padamu, sayang. Umi senang, kamu bisa membangkitkan
semangatmu lagi,” Umi diam sejenak dan menatapku dalam-dalam penuh cinta. “Oh
ya, Umi punya sesuatu,” diambilnya sebuah amplop dari tasnya. “Sebenarnya
kedatangan Umi ke rumahmu kemarin untuk menyerahkan ini,” Umi memberikan amplop
itu padaku.
“Apa ini, Umi?” aku menerimanya
dengan bingung.
“Umi menemukannya di lemari
Raihan 2 hari yang lalu. Umi sungguh terkejut. Maafkan Umi karena baru bisa
memberikannya padamu sekarang.”
Aku membukanya perlahan. Ada
selembar surat di dalamnya, juga amplop yang lebih kecil. Itu tulisan tangan
Raihan. Sontak jantungku berdegup kencang. Begini isi suratnya,
“Arini, jatuh cinta padamu
bukanlah pilihanku. Tapi mencintaimu adalah pilihanku.
Saat aku memutuskan untuk
mencintaimu, maka bahagiamu adalah bahagiaku, sakitmu adalah sakitku, dan
lukamu adalah lukaku.
Saat aku memutuskan untuk
memilihmu, semua mimpimu adalah mimpiku. Dan aku akan sebisa mungkin mewujudkan
mimpi-mimpi itu.
Di sini, aku akan terus
menyisihkan penghasilanku, untuk nanti kita bangun bersama mimpimu, mimpi mulia
untuk mendirikan panti asuhan.
Aku akan terus berjuang, Arini.
Demi kamu apapun akan aku lakukan.
Aku sangat menyayangimu, selalu.”
Aku menangis membaca surat itu.
Umi memelukku. Rasanya aku justru ingin menangis lebih kencang. Di dalam amplop
kecil bersama surat itu, ada sejumlah uang, hasil tabungan Raihan untukku
mendirikan panti asuhan. Aku tak menyangka dia melakukan ini semua. Aku tak
menyangka dia akan mengingat ambisiku untuk mendirikan panti asuhan yang
kuutarakan padanya saat ospek dahulu. Raihan, aku sungguh mencintaimu.
Jujur, sejak hari itu aku justru
makin mencintai Raihan. Mungkin bagi kalian aku bodoh, mencintai orang yang
sudah pergi dari bumi. Tapi kalian harus tahu, yang Raihan lakukan sungguh
membuat hatiku luluh. Uang dari Raihan secara khusus aku gunakan untuk
membangun taman dan sarana bermain, berbagai macam buku, dan peralatan
pendukung belajar. Hal ini aku lakukan agar aku lebih mudah mengenangnya.
Enam bulan kemudian, pembangunan
pantiku sudah selesai. Aku mengasuh 30 anak yatim piatu dan anak-anak dari
keluarga kurang mampu daerah setempat. Aku mengurus pantiku bersama sahabatku
Fajri dan dibantu asisten rumah tangga yang kuanggap saudara sendiri, dia putri
dari asisten rumah tangga di rumahku, Aisya. Aku sangat terbantu dengan adanya
Fajri dan Aisya. Fajri adalah sahabatku sejak kuliah, Fajri bertugas khusus
sebagai hubungan masyarakat dan secara penuh membantuku. Aisya membantu
bersih-bersih, memasak, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-anak. Aku
sangat bahagia, aku merasa menemukan kehidupan dan cintaku yang lain. Aku
mencitai anak-anak itu.
Fajri mengenalkanku pada Mbak
Rima, yang mana suaminya tak lain adalah putra dari rekan kerja Ayah, Mas
Ikhsan. Malam itu, saat ada pesta kantor Ayah, yang Mas Ikhsan dan Mbak Rima
juga datang. Fajri bilang, sepupu jauh Mbak Rima dari luar kota berniat menjadi
donatur tetap di pantiku. Kebetulan dia sedang datang ke kotaku demi urusan
pekerjaan kantornya dengan kantor tempat ayahku bekerja, maka inilah momen yang
sangat tepat bagi kami bertemu. Saat aku memasuki ruangan, aku seperti melihat
sosok yang tak asing bagiku, tapi mungkin hanya halusinakiku karena akhir-akhir
ini banyak memikirkannya atau memang kebetulan mirip saja. Aku menghampiri Mbak
Rima dan Mas Ikhsan, katanya adik sepupu Mbak Rima masih ada urusan dengan
teman kerjanya di sisi ruangan yang lain.
“Nah, Arini. Ini adik kami yang
kuceritakan barusan,” kata ,as Ikhsan tiba-tiba di sela pembicaraan kami.
“Maaf membuat menunggu,” katanya
belum sempat aku menoleh, dan sejurus saat aku menoleh, aku benar-benar
terkejut. “Saya Haidar” katanya yang kemudianpun terkejut melihatku.
“Haidar? Bagaimana bisa? Pantas
saja tadi aku seperti melihatmu, aku kira hanya orang yang mirip” kataku
benar-benar heran.
“Aku kira juga bukan kamu, aku
kira Arini yang lain,” katanya tak kalah heran.Mas Ikhsan dan Mbak Rima juga
tidak menyangka kami kenal sebelumnya. Dunia benar-benar sempit. Kami mengobrol
tentang masa lalu dan pertemanan kami silam, terasa sangat lucu, tiba-tiba kami
bertemu tanpa disangka-sangka.
“Bagaimana kabar suamimu, Rin?” tanya
Haidar yang membuat gelak tawa kami semua hilang. Aku terdiam. Sepertinya dia
tidak tahu kisahku. Aku mengundangnya dulu, aku kira dia tidak hadir karena
memang sudah tahu calon suamiku meninggal, tapi sepertinya dia berniat
benar-benar tidak hadir.
“Maaf, Rin, aku belum banyak
menceritakanmu pada Haidar,” kata Mas Ikhsan. Aku masih diam. Lalu aku memohon
izin untuk mengambil minum. Jujur, bagiku kenangan itu sungguh pahit, meski
telah lama berlalu, tetap saja ingatan itu mencambukku. Aku melihat mereka
berbisik-bisik saat aku hampir kembali.
“Maafkan aku, Rin. Aku turut
berbela sungkawa,” kata Haidar, aku hanya membalas dengan senyum yan
kupaksakan. Sontak karena pertanyaan itu, mood-ku jadi tak enak. Sudah
kuusahakan untuk bersikap normal saat pembicaraan kami mengenai donasi, tapi
mungkin tetap terlihat kesedihan di wajahku meski aku sembunyikan.
Seminggu kemudian, entah karena
angin apa, Haidar datang ke rumahku. Dia bilang ingin meminta maaf dan ada
halpenting yang ingin dia sampaikan. Aku menemuinya bersama Ayah, karena Haidar
kini menjadi rekan kerjanya juga.
“Alasan aku tidak datang ke
pernikahanmu bukan karena aku tahu musibah itu, namun karena aku terpukul
sekali, Rin. Aku seperti kehilangan arah saat tahu kamu menerima lamaran lelaki
lain. Aku ingin melupakanmu dengan menjauh dari hidupmu. Nyatanya aku gagal,
sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu,” katanya, terlihat kesedihan di
wajahnya. “Kedatangan saya kemari, saya ingin melamar kembali anak Bapak, untuk
menjadi pendamping hidup saya dan ibu dari anak-anak saya.”
Aku terkejut, terlebih Ayah yang
bingung dengan “melamar kembali”. Aku menjelaskan kisah kami semasa kuliah
dulu. Akhirnya Ayah menyerahkan semua keputusan padaku. Aku bingung. Ini adalah
pertanyaan yang aku tak tahu jawabannya. Haidar memberiku waktu satu bulan
untuk memberi jawaban. Akupun sepakat.
Sejujurnya, aku masih sangat
mencintai Raihan. Aku tak yakin dapat mencintai lelaki lain. Meskipun Haidar
lelaki yang sangat baik dan menyayangiku, justru aku takut mengecewakannya jika
ternyata aku tak dapat memberikan hatiku padanya. Sejak lamaran keduanya,
Haidar sering datang ke rumah. Aku melihat Ayah dan Bunda sangat menyukainya.
Tapi tetap saja, hatiku tak tergerak sedikitpun. Aku tak ingin mengecewakannya
dengan menolak lamarannya, tapi aku jauh lebih tak ingin dia kecewa hidup
bersamaku yang hatiku tak bisa menjadi miliknya.
“Arini, Haidar lelaki yang baik
dan bertanggungjawab. Bunda yakin dia bisa membahagiakanmu,” rayu Bunda sore
itu, seperti biasa, di gazebo depan rumah. Aku diam. “Kalau Bunda dan Ayah
sudah tidak ada lagi, siapa yang akan menjagamu?”
“Aku sudah cukup bahagia, Bunda.
Bunda gak boleh bilang begitu, Arini sayang Ayah dan Bunda,”aku memeluknya.
“Cepat atau lambat, hal itu pasti
terjadi, sayang. Bunda tak ingin mati dengan membawa kekhawatiran tentangmu.”
“Ada Kak Lukman dan Kak Zaki yang
pasti menjagaku.”
“Mereka memiliki hidupnya
sendiri, Rin. Tidak bisa setiap saat menjadi penjagamu. Bunda ingin menjadi
orang tua yang sempurna, mengantarkan
semua anaknya ke pelaminan,” Bunda menangis. Aku hanya bingung dan tak tahu
arah. Aku ingin Ayah dan Bunda bahagia, tapi bukan dengan cara ini.
Sudah dua minggu sejak lamaran
itu. Haidar tak pernah mendesak dan memaksaku sejauh ini. Tapi malam itu, dia
tiba-tiba seperti ingin menerkamku jika aku tak memberi jawaban, ada yang
berbeda darinya. Satu hal yang pasti, dia kecewa karena menurutnya aku tidak
berpikir selama dua minggu terakhir. Dia mendesakku untuk memberi jawaban besok
pagi. Jelas itu mustahil bagiku. Aku juga harus meminta izin pada Abi dan Umi
Raihan, mereka orang tuaku juga. Keesokan paginya, tepat sebelum aku keluar
rumah, Umi datang. Rupanya beliau sudah tahu perihal lamaran itu dari Bunda.
“Arini, kamu harus bahagia, nak.
Jangan terus menerus dihantui kenangan Raihan, tidak ada gunanya. Umi tahu kamu
sangat mencintainya, tapi apa artinya jika cinta itu justru menyiksamu?”
“Tapi Arini takut tidak bisa
mencintai lelali lain, Umi. Kemudian justru menyakiti lelaki tersebut”
“Belajarlah, nak. Cinta bisa
hadir karena terbiasa. Umi yakin Haidar baik dan sangat mencintaimu. Kalian
pasti bahagia.”
Umi dan Abi Raihan telah
mengikhlaskan aku menikah dengan lelaki lain. Hal ini membuatku semakin
bingung. Aku menceritakan kebingunganku pada Fajri lagi dan lagi. Diapun demikian,
ingin melihat aku menikah dan bahagia. Bodohnya aku, aku baru mengumpulkan niat
untuk meminta petunjuk pada Allah dengan sholat istikharah. Setiap malam aku
melakukannya. Hingga akhirnya, entah dari mana asalnya, aku merasa sangat yakin
untuk menerima lamaran Haidar. Tekatku sudah bulat, aku akan menyampaikan
keputusanku pada Haidar. Aku telah meminta restu Ayah dan Bunda, juga Umi dan
Abi. Waktu ini lebih cepat satu minggu dari yang dia minta. Namun, sejak malam
kemarahannya padaku, dia tak pernah lagi datang ke rumah atau sekedar
menghubungiku. Mbak Rima dan Mas Ikhsan juga tidak tahu menahu tentang Haidar
yang mendadak menghilang. Apa dia marah karena pagi itu aku tidak memberinya
jawaban? Apa dia memutuskan untuk pergi?
Aku menghubunginya setiap hari
selama seminggu ini, namun tak pernah ada jawaban. Akhirnya, aku memutuskan
untuk menemuinya, tepat di waktu maksimal yang aku janjikan akan memberikan
jawaban. Aku meminta Fajri mengantarku ke tempat kerja Haidar. Selama perjalanan,
aku lebih banyak diam. Besar harapanku bahwa Haidar yang terbaik bagiku dan
yang terakhir untuk cintaku.
Saat aku tiba di kantornya, itu
sudah hampir mendekati jam pulang kerja. Aku memuutkan untuk menunggu saja di
lobby. Beberapa menit kemudian, aku melihat Haidar turun dari tangga. Aku sangat
bersemangat melihatnya dan langsung bangkit dari kursiku. Dia terlihat sedang
berbicara dengan seorang perempuan. Aku diam sejenak, tapi tak mampu berpikir
banyak, itu pasti kawan kerjanya. Haidar semakin dekat, aku menghampirinya,
diikuti oleh Fajri di belakangku. Dia melihatku dan nampak sangat terkejut. Aku
tak banyak basa basi, tak bertanya kabar, ataupun perihal dia sulit dihubungi.
“Haidar, maaf jika aku
mengejutkanmu. Aku kesini untuk bilang bahwa jawaban untuk waktu itu, YA!”
kataku mencoba tetap tenang.
Namun yang terjadi di luar
dugaanku. Aku pikir dia akan tersenyum lebar dan bahagia mendengar jawabanku. Sedetik,
dua detik, sepuluh detik, dua puluh detik, Haidar hanya diam, wajahnya pucat,
tapi tidak menunjukkan ekspresi apapun. Perempuan itu memandangiku dan Haidar
secara bergantian.
“Ada apa ini?” tanya perempuan
itu bingung.
Haidar seperti terkejut. “Ah,
iya, kenalkan. Ini Arini, teman kuliahku dulu. Dan, Arini, ini Risma, calon
isteriku. Bulan depan kami menikah.”
Kau bisa bayangkan, betapa terkejutnya
aku. Aku seperti disambar petir di tengah hari, sekaligus dihantam badai di
tengah gurun pasir. Hatiku remuk, untuk yang kedua kali. Aku merasa mataku
mulai panas dan sepertinya berair.
“Oh, begitu, ya? Selamat, semoga
kalian bahagia,” tanpa menunggu mereka memberikan respon, aku mengajak Fajri
pergi secepat mungkin.
Kejadian ini sungguh sulit
bagiku. Dengan susah payahnya aku menumbuhkan keyakinan untuk belajar mencintai
orang lain, begitu panjang perjalananku
mencari cinta yang lain, tapi sama saja, aku gagal lagi. Selama perjalanan
aku hanya menangis. Aku menangis sejadi-jadinya. Fajri tampak bingung, dia
mencoba menenangkanku tapi gagal. Aku bingung, bagaimana aku harus menjelaskan
ke Ayah dan Bunda? Apa yang sebenarnya terjadi? Haidar bilang menunggu
jawabanku, tapi mengapa dia tiba-tiba dengan wanita lain begitu saja? Kenapa aku
harus bertemu penipu seperti dia? Apa memang aku tak pantas dicintai dan
mencintai?
Aku bahkan masih menangis sampai
setibanya aku di rumah. Aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ayah dan
bunda terlihat panik, aku tak peduli. Biar Fajri yang mejelaskannya. Aku muak. Aku
ingin marah pada Tuhan. Tapi, tidak ada yang patut disalahkan dalam kisah ini. Hanya
karena cintaku gagal dua kali, bukan
berarti serta merta aku mengutuk takdir dan rencana Tuhan. Selama beberapa hari
aku berdiam diri di rumah. Aku berusaha kembali mengumpulkan motivasiku dan
menenangkan diri. Panti asuhan diurus Fajri dan Aisyah.
Seminggu berlalu, aku merasa
sangat rindu pada anak-anak panti. Akhirnya akau memutuskan untuk pergi ke
panti. Ikhlas memang sunguh sulit, tapi aku berterima kasih pada Tuhan karena
menghadirkan anak-anak ini yang selalu membuatku merasa damai bersamanya.
“Assalamualaikum, Arini,” sapaan
itu tak asing bagiku. Aku menjawabnya dan menoleh, lalu terkejut. Haidar tiba-tiba
ada di sini. Dia datang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sesungguhnya,
aku tak begitu peduli dengan apa yang akan dia katakan. Dia bilang, dia
terpaksa menikahi wanita itu atas paksaan ayahnya. Saat hari dimana dia marah
dan mendesakku untuk memberi jawaban, saat itulah ayahnya juga mendesaknya
untuk memilih aku atau wanita yang dipilihkan kedua orang tuanya. Karena aku
tak juga memberi jawaban, sementara ayahnya tak mau mentolerir waktu untukku
berpikir dan tak akan menganggap Haidar sebagai anaknya lagi jika pada hari itu
tidak menentukan pilihan, maka Haidar memutuskan memilih wanita pilihan orang
tunya, yang telah dikenalkan sejak lama.
“Aku mencintaimu, Rin. Aku akan
membatalkan pernikahan dengan wanita itu dan menikah bersamamu,” desak Haidar. Aku terkejut mendengarnya.
“Tidak mungkin. Dia yang terbaik
untukmu, Haidar. Jika kamu melakukan itu, dia akan kecewa,” kataku tersedu. Aku
menatap bola matanya yang mulai berkaca-kaca, tatapan mata yang biasanya teduh,
kini kelam.
“Tapi aku mencintaimu. Lalu kamu
yang akan kecewa jika aku menikahinya,” dia diam sejenak. “Menikahlah denganku,
Arini. Mari kita bangun kehidupan yang bahagia.”
“Apalah artinya kebahagiaan yang
kita miliki, Haidar, jika dibangun di atas kesedihan banyak orang. Kesedihan wanita
itu, kesedihan orang tuamu yang telah berharap banyak, kesedihan orang tuanya,
keluarga besar kalian, bahkan kedua orang tuaku. Pasti orang tuaku sedih
memiliki anak yang menghancurkan pernikahan orang lain demi menghidupkan
pernikahannya,” aku menatapnya tajam, diapun juga. Tanpa aku sadari, pipiku
basah. Haidar tampak panik. “Aku bukan untukmu, Haidar. Beginilah takdir kita. Menikahlah
dengannya, bahagiakan dia, bangunlah kehidupan yang damai bersamanya, bersama
anak-anak kalian.”
Akhirnya Haidar mengalah. Sejak hari
itu, kami tak pernah lagi bertemu, sampai di hari pernikahannya. Aku datang
untuk merayakan kebahagiaannya, serta bertemu dengan kawan kuliahku. Entah mengapa,
aku merasa lega. Batu besar yang menindih hatiku seakan sirna. Aku ikhlas jika
memang tak pernah kutemui cinta yang lain. Ada Tuhan yang tak pernah berhenti
mencintaiku tanpa batas.
(LCM)