Keterangan : - var numfeed = 5; adalah jumlah artikel yang ditampilkan - var charac = 100; adalah jumlah karakter atau huruf pada setiap post - silahkan ganti Url Blogger Bondowoso dengan URL blog anda

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 24 Agustus 2017

Cinta yang Lain (Lanjutan Cinta di Hidupku)



Sejak batalnya pernikahanku, aku benar-benar kehilangan hasrat untuk menyusun pernikahan lagi. Aku bahkan tidak tahu, apakah hatiku bisa mencintai selain Raihan. Seluruh cintaku sudah terlanjur terbawa olehnya. Sejak setahun lalu, aku meninggalkan pekerjaanku, aku menurung diri di rumah, aku mengurung diriku dalam tempurung, menutup diri dari teman-temanku. Mungkin bagi kalian aku berlebihan, tapi sungguh, hidupku benar-benar hancur. Coba bayangkan, bertahun tahun kau mencintai seseorang, kau mendambakannya untuk menikah denganmu, dengan istimewa dia datang melamar, setelah semua persiapan pernikahan sempurna, tinggal tiga hari sebelum pernikahan, calon suamimu meninggal tanpa sempat kau mengatakan bahwa kau sangat mencintainya! Bayangkan betama hancurnya hatiku. Tidak, bukan lagi hancur, tapi remuk hingga lembut dan tak bersisa. Bayangkan, bayangkan bagaimana aku punya harapan untuk melanjutkan hidup?
Tidak, kalian tidak akan pernah bisa merasakan betapa buruknya aku waktu itu. Mungkin aku bukan satu-satunya orang yang diuji oleh Tuhan, bahkan ada yang lebih berat, tapi duniaku seakan runtuh. Harapan indah yang kunanti dan  kubangun begitu sempurna gugur seketika.
Hingga kini, perasaanku masih sama padanya, meski beberapa kali Ayah dan Kakak-kakakku mengenalkan dengan lelaki lain. Setiap tanggal kematian Raihan, aku pergi ke makamnya. Kutumpahkan rindu dan sedihku di nisannya. Aku tak peduli apa kata orang. Aku ingin menyusulnya, tapi aku masih punya Tuhan. Dia lebih berhak menentukan hidup atau matiku, termasuk Raihan. Aku sempat mengutuk takdir yang memisahkanku dengan Raihan, aku terpuruk, sungguh sulit meyakinkan diriku lagi bahwa ini rencana Tuhan yang terbaik, Dia lebih menyayangi Raihan.
Sore itu aku benar-benar merindukan Raihan. Aku duduk di gazebo ujung rumah, teringat saat Raihan berterima kasih karena aku meilihnya menjadi suamiku. Sayup-sayup angin sore, kicauan burung yang hendak kembali ke sarang, ditambah sinar senja yang redup terasa begitu indah. Sungguh sempurna ciptaan Tuhan ini, sesempurna cintaku untuk Raihan.
“Dek, adek sedang apa?” tanya Bunda mengejutkanku.
Aku diam. Kurasa Bunda paham apa yang sedang kupikirkan. Apa lagi kalau bukan Raihan? Hanya itu yang paling sering kupikirkan.
“Sayang, sudah setahun berlalu. Ikhlaskan Raihan, Nak. Biarkan dia tenang di sana,” katanya membelai kepalaku. Aku memandang mata Bunda dalam-dalam.
“Bunda, Arini sudah mengikhlaskan Raihan. Sungguh, Arini sudah rela dia pergi, Bunda,” kataku merengek.
“Jika memang demikian, lanjutkan hidupmu sebagaimana mestinya, sayang. Bunda rindu Arini yang selalu ceria dan semangat, penuh ambisi akan cita-citanya. Kembalilah bekerja, Dek. Carilah kebahagian yang lain,”
“Arini bahagia dengan Ayah dan Bunda. Arini tidak perlu kebahagiaan yang lain,” sanggahku.
“Carilah cinta yang lain, Arini,” kata Bunda lalu pergi, mengakhiri perdebatan kami.
Semenjak kematian Raihan, aku memang tidak pernh mempedulikan sekelilingku. Aku bahkan tidak peduli tentang kekhawatiran keluargaku akan masa depanku. Aku benar-benar tak mempedulikan kehidupanku. Sepertinya aku tidak bisa mencintai laki-laki lain, termasuk Haidar yang dulu sempat mencuri perhatianku. Setelah merenung panjang, aku meyakinkan diri akan mendirikan sebuah panti asuhan di kota pesawat Raihan jatuh kala itu. Berbekal tabunganku yang sempat aku kumpulkan dahulu, aku juga akan meminta bantuan Ayah. Pasti dia mau membantu. Kuutarakan maksudku pada Ayah dan Bunda, mereka sangat mendukungku.
“Ayah senang, Rin. Ayah kembali menemukan cahaya semangat di wajah putri kecil Ayah. Ayah merindukan mata yang berbinar itu,”
Aku harus bangkit. Aku akan mewujudkan mimpiku dulu, mendirikan yayasan untuk mereka yang tidak mampu. Mungkin sekarang bisa kuawali dengan membangun panti asuhan. Sudah tiga bulan berlalu, aku berusaha mendapatkan donatur tetap dan telah menyiapkan tanah. Syukurlah, aku tidak kesulitan mencari donatur. Ada kawan-kawan lamaku dan beberapa kolega kerja Ayah. Besok hari pertama pembangunan panti asuhanku.
Saat aku datang mengunjungi lokasi pembangunan, ada seseorang yang datang dan mengejutkanku. Senyum indah itu, senyum yang selalu tergambar di ingatanku, senyuman Raihan.
“Arini!” teriaknya. “Kamu apa kabar, sayang?” sapa Umi yang begitu renyah di telinga.
“Alhamdulillah, baik, Umi. Umi bagaimana? Mana Abi?”
“Alhamdulillah, Umi, Abi, dan Dik Farhan baik. Abi tidak ikut, sayang. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Umi cuma sama Mang Giman.”
Kami sudah sebulan belum bertemu. Sejak perjodohan itu, Umi dan Abi Raihan sudah seperti orang tuaku sendiri. Mereka sangat menyayangiku seperti menyayangi puteri mereka sendiri. Umi sering datang ke rumahku, terlebih mengetahui betapa terpuruknya aku. Setelah bercerita sebulan terakhir kita tak berjumpa, Umipun bercerita. “Kemarin Umi ke rumahmu, tapi kamu sedang pergi mengurus persiapan pembangunan panti ini.”
“Loh kok Umi gak kasih tau Arini? Bunda juga gak cerita,” kataku sedih.
“Umi yang melarang Bundamu untuk bercerita. Umi bangga sekali padamu, sayang. Umi senang, kamu bisa membangkitkan semangatmu lagi,” Umi diam sejenak dan menatapku dalam-dalam penuh cinta. “Oh ya, Umi punya sesuatu,” diambilnya sebuah amplop dari tasnya. “Sebenarnya kedatangan Umi ke rumahmu kemarin untuk menyerahkan ini,” Umi memberikan amplop itu padaku.
“Apa ini, Umi?” aku menerimanya dengan bingung.
“Umi menemukannya di lemari Raihan 2 hari yang lalu. Umi sungguh terkejut. Maafkan Umi karena baru bisa memberikannya padamu sekarang.”
Aku membukanya perlahan. Ada selembar surat di dalamnya, juga amplop yang lebih kecil. Itu tulisan tangan Raihan. Sontak jantungku berdegup kencang. Begini isi suratnya,
“Arini, jatuh cinta padamu bukanlah pilihanku. Tapi mencintaimu adalah pilihanku.
Saat aku memutuskan untuk mencintaimu, maka bahagiamu adalah bahagiaku, sakitmu adalah sakitku, dan lukamu adalah lukaku.
Saat aku memutuskan untuk memilihmu, semua mimpimu adalah mimpiku. Dan aku akan sebisa mungkin mewujudkan mimpi-mimpi itu.
Di sini, aku akan terus menyisihkan penghasilanku, untuk nanti kita bangun bersama mimpimu, mimpi mulia untuk mendirikan panti asuhan.
Aku akan terus berjuang, Arini. Demi kamu apapun akan aku lakukan.
Aku sangat menyayangimu, selalu.”
Aku menangis membaca surat itu. Umi memelukku. Rasanya aku justru ingin menangis lebih kencang. Di dalam amplop kecil bersama surat itu, ada sejumlah uang, hasil tabungan Raihan untukku mendirikan panti asuhan. Aku tak menyangka dia melakukan ini semua. Aku tak menyangka dia akan mengingat ambisiku untuk mendirikan panti asuhan yang kuutarakan padanya saat ospek dahulu. Raihan, aku sungguh mencintaimu.
Jujur, sejak hari itu aku justru makin mencintai Raihan. Mungkin bagi kalian aku bodoh, mencintai orang yang sudah pergi dari bumi. Tapi kalian harus tahu, yang Raihan lakukan sungguh membuat hatiku luluh. Uang dari Raihan secara khusus aku gunakan untuk membangun taman dan sarana bermain, berbagai macam buku, dan peralatan pendukung belajar. Hal ini aku lakukan agar aku lebih mudah mengenangnya.
Enam bulan kemudian, pembangunan pantiku sudah selesai. Aku mengasuh 30 anak yatim piatu dan anak-anak dari keluarga kurang mampu daerah setempat. Aku mengurus pantiku bersama sahabatku Fajri dan dibantu asisten rumah tangga yang kuanggap saudara sendiri, dia putri dari asisten rumah tangga di rumahku, Aisya. Aku sangat terbantu dengan adanya Fajri dan Aisya. Fajri adalah sahabatku sejak kuliah, Fajri bertugas khusus sebagai hubungan masyarakat dan secara penuh membantuku. Aisya membantu bersih-bersih, memasak, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari anak-anak. Aku sangat bahagia, aku merasa menemukan kehidupan dan cintaku yang lain. Aku mencitai anak-anak itu.
Fajri mengenalkanku pada Mbak Rima, yang mana suaminya tak lain adalah putra dari rekan kerja Ayah, Mas Ikhsan. Malam itu, saat ada pesta kantor Ayah, yang Mas Ikhsan dan Mbak Rima juga datang. Fajri bilang, sepupu jauh Mbak Rima dari luar kota berniat menjadi donatur tetap di pantiku. Kebetulan dia sedang datang ke kotaku demi urusan pekerjaan kantornya dengan kantor tempat ayahku bekerja, maka inilah momen yang sangat tepat bagi kami bertemu. Saat aku memasuki ruangan, aku seperti melihat sosok yang tak asing bagiku, tapi mungkin hanya halusinakiku karena akhir-akhir ini banyak memikirkannya atau memang kebetulan mirip saja. Aku menghampiri Mbak Rima dan Mas Ikhsan, katanya adik sepupu Mbak Rima masih ada urusan dengan teman kerjanya di sisi ruangan yang lain.
“Nah, Arini. Ini adik kami yang kuceritakan barusan,” kata ,as Ikhsan tiba-tiba di sela pembicaraan kami.
“Maaf membuat menunggu,” katanya belum sempat aku menoleh, dan sejurus saat aku menoleh, aku benar-benar terkejut. “Saya Haidar” katanya yang kemudianpun terkejut melihatku.
“Haidar? Bagaimana bisa? Pantas saja tadi aku seperti melihatmu, aku kira hanya orang yang mirip” kataku benar-benar heran.
“Aku kira juga bukan kamu, aku kira Arini yang lain,” katanya tak kalah heran.Mas Ikhsan dan Mbak Rima juga tidak menyangka kami kenal sebelumnya. Dunia benar-benar sempit. Kami mengobrol tentang masa lalu dan pertemanan kami silam, terasa sangat lucu, tiba-tiba kami bertemu tanpa disangka-sangka.
“Bagaimana kabar suamimu, Rin?” tanya Haidar yang membuat gelak tawa kami semua hilang. Aku terdiam. Sepertinya dia tidak tahu kisahku. Aku mengundangnya dulu, aku kira dia tidak hadir karena memang sudah tahu calon suamiku meninggal, tapi sepertinya dia berniat benar-benar tidak hadir.
“Maaf, Rin, aku belum banyak menceritakanmu pada Haidar,” kata Mas Ikhsan. Aku masih diam. Lalu aku memohon izin untuk mengambil minum. Jujur, bagiku kenangan itu sungguh pahit, meski telah lama berlalu, tetap saja ingatan itu mencambukku. Aku melihat mereka berbisik-bisik saat aku hampir kembali.
“Maafkan aku, Rin. Aku turut berbela sungkawa,” kata Haidar, aku hanya membalas dengan senyum yan kupaksakan. Sontak karena pertanyaan itu, mood-ku jadi tak enak. Sudah kuusahakan untuk bersikap normal saat pembicaraan kami mengenai donasi, tapi mungkin tetap terlihat kesedihan di wajahku meski aku sembunyikan.
Seminggu kemudian, entah karena angin apa, Haidar datang ke rumahku. Dia bilang ingin meminta maaf dan ada halpenting yang ingin dia sampaikan. Aku menemuinya bersama Ayah, karena Haidar kini menjadi rekan kerjanya juga.
“Alasan aku tidak datang ke pernikahanmu bukan karena aku tahu musibah itu, namun karena aku terpukul sekali, Rin. Aku seperti kehilangan arah saat tahu kamu menerima lamaran lelaki lain. Aku ingin melupakanmu dengan menjauh dari hidupmu. Nyatanya aku gagal, sampai detik ini aku masih sangat mencintaimu,” katanya, terlihat kesedihan di wajahnya. “Kedatangan saya kemari, saya ingin melamar kembali anak Bapak, untuk menjadi pendamping hidup saya dan ibu dari anak-anak saya.”
Aku terkejut, terlebih Ayah yang bingung dengan “melamar kembali”. Aku menjelaskan kisah kami semasa kuliah dulu. Akhirnya Ayah menyerahkan semua keputusan padaku. Aku bingung. Ini adalah pertanyaan yang aku tak tahu jawabannya. Haidar memberiku waktu satu bulan untuk memberi jawaban. Akupun sepakat.
Sejujurnya, aku masih sangat mencintai Raihan. Aku tak yakin dapat mencintai lelaki lain. Meskipun Haidar lelaki yang sangat baik dan menyayangiku, justru aku takut mengecewakannya jika ternyata aku tak dapat memberikan hatiku padanya. Sejak lamaran keduanya, Haidar sering datang ke rumah. Aku melihat Ayah dan Bunda sangat menyukainya. Tapi tetap saja, hatiku tak tergerak sedikitpun. Aku tak ingin mengecewakannya dengan menolak lamarannya, tapi aku jauh lebih tak ingin dia kecewa hidup bersamaku yang hatiku tak bisa menjadi miliknya.
“Arini, Haidar lelaki yang baik dan bertanggungjawab. Bunda yakin dia bisa membahagiakanmu,” rayu Bunda sore itu, seperti biasa, di gazebo depan rumah. Aku diam. “Kalau Bunda dan Ayah sudah tidak ada lagi, siapa yang akan menjagamu?”
“Aku sudah cukup bahagia, Bunda. Bunda gak boleh bilang begitu, Arini sayang Ayah dan Bunda,”aku memeluknya.
“Cepat atau lambat, hal itu pasti terjadi, sayang. Bunda tak ingin mati dengan membawa kekhawatiran tentangmu.”
“Ada Kak Lukman dan Kak Zaki yang pasti menjagaku.”
“Mereka memiliki hidupnya sendiri, Rin. Tidak bisa setiap saat menjadi penjagamu. Bunda ingin menjadi orang tua yang  sempurna, mengantarkan semua anaknya ke pelaminan,” Bunda menangis. Aku hanya bingung dan tak tahu arah. Aku ingin Ayah dan Bunda bahagia, tapi bukan dengan cara ini.
Sudah dua minggu sejak lamaran itu. Haidar tak pernah mendesak dan memaksaku sejauh ini. Tapi malam itu, dia tiba-tiba seperti ingin menerkamku jika aku tak memberi jawaban, ada yang berbeda darinya. Satu hal yang pasti, dia kecewa karena menurutnya aku tidak berpikir selama dua minggu terakhir. Dia mendesakku untuk memberi jawaban besok pagi. Jelas itu mustahil bagiku. Aku juga harus meminta izin pada Abi dan Umi Raihan, mereka orang tuaku juga. Keesokan paginya, tepat sebelum aku keluar rumah, Umi datang. Rupanya beliau sudah tahu perihal lamaran itu dari Bunda.
“Arini, kamu harus bahagia, nak. Jangan terus menerus dihantui kenangan Raihan, tidak ada gunanya. Umi tahu kamu sangat mencintainya, tapi apa artinya jika cinta itu justru menyiksamu?”
“Tapi Arini takut tidak bisa mencintai lelali lain, Umi. Kemudian justru menyakiti lelaki tersebut”
“Belajarlah, nak. Cinta bisa hadir karena terbiasa. Umi yakin Haidar baik dan sangat mencintaimu. Kalian pasti bahagia.”
Umi dan Abi Raihan telah mengikhlaskan aku menikah dengan lelaki lain. Hal ini membuatku semakin bingung. Aku menceritakan kebingunganku pada Fajri lagi dan lagi. Diapun demikian, ingin melihat aku menikah dan bahagia. Bodohnya aku, aku baru mengumpulkan niat untuk meminta petunjuk pada Allah dengan sholat istikharah. Setiap malam aku melakukannya. Hingga akhirnya, entah dari mana asalnya, aku merasa sangat yakin untuk menerima lamaran Haidar. Tekatku sudah bulat, aku akan menyampaikan keputusanku pada Haidar. Aku telah meminta restu Ayah dan Bunda, juga Umi dan Abi. Waktu ini lebih cepat satu minggu dari yang dia minta. Namun, sejak malam kemarahannya padaku, dia tak pernah lagi datang ke rumah atau sekedar menghubungiku. Mbak Rima dan Mas Ikhsan juga tidak tahu menahu tentang Haidar yang mendadak menghilang. Apa dia marah karena pagi itu aku tidak memberinya jawaban? Apa dia memutuskan untuk pergi?
Aku menghubunginya setiap hari selama seminggu ini, namun tak pernah ada jawaban. Akhirnya, aku memutuskan untuk menemuinya, tepat di waktu maksimal yang aku janjikan akan memberikan jawaban. Aku meminta Fajri mengantarku ke tempat kerja Haidar. Selama perjalanan, aku lebih banyak diam. Besar harapanku bahwa Haidar yang terbaik bagiku dan yang terakhir untuk cintaku.
Saat aku tiba di kantornya, itu sudah hampir mendekati jam pulang kerja. Aku memuutkan untuk menunggu saja di lobby. Beberapa menit kemudian, aku melihat Haidar turun dari tangga. Aku sangat bersemangat melihatnya dan langsung bangkit dari kursiku. Dia terlihat sedang berbicara dengan seorang perempuan. Aku diam sejenak, tapi tak mampu berpikir banyak, itu pasti kawan kerjanya. Haidar semakin dekat, aku menghampirinya, diikuti oleh Fajri di belakangku. Dia melihatku dan nampak sangat terkejut. Aku tak banyak basa basi, tak bertanya kabar, ataupun perihal dia sulit dihubungi.
“Haidar, maaf jika aku mengejutkanmu. Aku kesini untuk bilang bahwa jawaban untuk waktu itu, YA!” kataku mencoba tetap tenang.
Namun yang terjadi di luar dugaanku. Aku pikir dia akan tersenyum lebar dan bahagia mendengar jawabanku. Sedetik, dua detik, sepuluh detik, dua puluh detik, Haidar hanya diam, wajahnya pucat, tapi tidak menunjukkan ekspresi apapun. Perempuan itu memandangiku dan Haidar secara bergantian.
“Ada apa ini?” tanya perempuan itu bingung.
Haidar seperti terkejut. “Ah, iya, kenalkan. Ini Arini, teman kuliahku dulu. Dan, Arini, ini Risma, calon isteriku. Bulan depan kami menikah.”
Kau bisa bayangkan, betapa terkejutnya aku. Aku seperti disambar petir di tengah hari, sekaligus dihantam badai di tengah gurun pasir. Hatiku remuk, untuk yang kedua kali. Aku merasa mataku mulai panas dan sepertinya berair.
“Oh, begitu, ya? Selamat, semoga kalian bahagia,” tanpa menunggu mereka memberikan respon, aku mengajak Fajri pergi secepat mungkin.
Kejadian ini sungguh sulit bagiku. Dengan susah payahnya aku menumbuhkan keyakinan untuk belajar mencintai orang lain, begitu panjang perjalananku  mencari cinta yang lain, tapi sama saja, aku gagal lagi. Selama perjalanan aku hanya menangis. Aku menangis sejadi-jadinya. Fajri tampak bingung, dia mencoba menenangkanku tapi gagal. Aku bingung, bagaimana aku harus menjelaskan ke Ayah dan Bunda? Apa yang sebenarnya terjadi? Haidar bilang menunggu jawabanku, tapi mengapa dia tiba-tiba dengan wanita lain begitu saja? Kenapa aku harus bertemu penipu seperti dia? Apa memang aku tak pantas dicintai dan mencintai?
Aku bahkan masih menangis sampai setibanya aku di rumah. Aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ayah dan bunda terlihat panik, aku tak peduli. Biar Fajri yang mejelaskannya. Aku muak. Aku ingin marah pada Tuhan. Tapi, tidak ada yang patut disalahkan dalam kisah ini. Hanya karena cintaku gagal dua  kali, bukan berarti serta merta aku mengutuk takdir dan rencana Tuhan. Selama beberapa hari aku berdiam diri di rumah. Aku berusaha kembali mengumpulkan motivasiku dan menenangkan diri. Panti asuhan diurus Fajri dan Aisyah.
Seminggu berlalu, aku merasa sangat rindu pada anak-anak panti. Akhirnya akau memutuskan untuk pergi ke panti. Ikhlas memang sunguh sulit, tapi aku berterima kasih pada Tuhan karena menghadirkan anak-anak ini yang selalu membuatku merasa damai bersamanya.
“Assalamualaikum, Arini,” sapaan itu tak asing bagiku. Aku menjawabnya dan menoleh, lalu terkejut. Haidar tiba-tiba ada di sini. Dia datang untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sesungguhnya, aku tak begitu peduli dengan apa yang akan dia katakan. Dia bilang, dia terpaksa menikahi wanita itu atas paksaan ayahnya. Saat hari dimana dia marah dan mendesakku untuk memberi jawaban, saat itulah ayahnya juga mendesaknya untuk memilih aku atau wanita yang dipilihkan kedua orang tuanya. Karena aku tak juga memberi jawaban, sementara ayahnya tak mau mentolerir waktu untukku berpikir dan tak akan menganggap Haidar sebagai anaknya lagi jika pada hari itu tidak menentukan pilihan, maka Haidar memutuskan memilih wanita pilihan orang tunya, yang telah dikenalkan sejak lama.
“Aku mencintaimu, Rin. Aku akan membatalkan pernikahan dengan wanita itu dan menikah bersamamu,”  desak Haidar. Aku terkejut mendengarnya.
“Tidak mungkin. Dia yang terbaik untukmu, Haidar. Jika kamu melakukan itu, dia akan kecewa,” kataku tersedu. Aku menatap bola matanya yang mulai berkaca-kaca, tatapan mata yang biasanya teduh, kini kelam.
“Tapi aku mencintaimu. Lalu kamu yang akan kecewa jika aku menikahinya,” dia diam sejenak. “Menikahlah denganku, Arini. Mari kita bangun kehidupan yang bahagia.”
“Apalah artinya kebahagiaan yang kita miliki, Haidar, jika dibangun di atas kesedihan banyak orang. Kesedihan wanita itu, kesedihan orang tuamu yang telah berharap banyak, kesedihan orang tuanya, keluarga besar kalian, bahkan kedua orang tuaku. Pasti orang tuaku sedih memiliki anak yang menghancurkan pernikahan orang lain demi menghidupkan pernikahannya,” aku menatapnya tajam, diapun juga. Tanpa aku sadari, pipiku basah. Haidar tampak panik. “Aku bukan untukmu, Haidar. Beginilah takdir kita. Menikahlah dengannya, bahagiakan dia, bangunlah kehidupan yang damai bersamanya, bersama anak-anak kalian.”
Akhirnya Haidar mengalah. Sejak hari itu, kami tak pernah lagi bertemu, sampai di hari pernikahannya. Aku datang untuk merayakan kebahagiaannya, serta bertemu dengan kawan kuliahku. Entah mengapa, aku merasa lega. Batu besar yang menindih hatiku seakan sirna. Aku ikhlas jika memang tak pernah kutemui cinta yang lain. Ada Tuhan yang tak pernah berhenti mencintaiku tanpa batas.
 (LCM)