Keterangan : - var numfeed = 5; adalah jumlah artikel yang ditampilkan - var charac = 100; adalah jumlah karakter atau huruf pada setiap post - silahkan ganti Url Blogger Bondowoso dengan URL blog anda

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 14 Januari 2014

Aku Tak Tahu Kenapa Aku Malu


Kicauan burung memecah sunyinya pagi, mentaripun tak lagi enggan menampakkan cahyanya yang terang. Di pagi yang dingin itu aku tengah bersiap melenggangkan tubuhku menuju sekolah yang cukup jauh dari rumahku. Ya, hampir 40 km. Setiap pagi aku berangkat bersama ayahku tercinta. Mengarungi jalanan dan memerangi kehidupan yang fana.
Entah mengapa, pagi itu aku merasa sangat sunyi. Angin jalanan yang berhembus seolah membelai tubuhku dengan mesranya. Suaranya terdengar jelas di telingaku. Aku menikmati suasana pagi yang tenang itu, hingga tanpa aku sadari aku telah tiba di depan sekolahku.
Seperti biasa, aku melangkahkan kakiku menuju kelasku di lantai 2, melepaskan sepatuku, dan menyapa kawan-kawanku yang telah lebih dahulu berada di kelas.
“Assalamu’alaikum,” Sapaku.
“Eh, Rani. Wa’alikum salam. Duduk sama aku ya, Ran?” ajak Meri.
Bel tanda jam pertama dimulai berbunyi. Aku merasa seperti ada yang kurang di pagi ini. Yak, sejak tadi pagi aku belum melihat Randi, ketua kelasku. Dia adalah salah seorang best friendsku.  Kemana dia? Hatiku bertanya-tanya. Namun aku tak punya cukup daya untuk menanyakan hal itu kepada Andi, teman sekostan Randi. Aku hanya takut jika nanti anak-anak berpikir lain.
Hatiku yang risau karena pertanyaan yang kubuat rumit sendiri dalam anganku terpecah oleh suara lelaki yang memandu pembacaan Al-Qur’an. Kubuka kitab suci milikku itu dengan perlahan. Seiring terbukanya kitab itu, aku melupakan pertanyaa yang merongrong di benakku.
Sampai mengaji selesai, belum kudapati tanda-tanda keberadaan Randi. Tadinya aku berfikir bahwa dia mungkin terlambat, tapi tidak mungkin. Sekarangpun dia juga belum datang, mungkin memang hari ini dia tidak masuk.
“Hey, Randi kemana sih?” Kudengar salah seorang temanku bertanay pada Andi, entah siapa karena aku tak menoleh sedikitpun.
“Sakit.” Jawab Andi singkat.
Muncul lagi pertanyaan di benakku, sakit apakah dia? Dan lagi-lagi aku hanya menahan pertanyaan itu di hatiku. Entah apa yang terjadi padaku, lidahku yang tak bertulang ini seolah kaku. Tak mampu berucap sedikitpun. Aku hanya diam, siapa tahu nanti ada teman lagi yang bertanya. Sehingga tanpa perlu aku bertanya sudah kudapati jawabnya.
***
Setelah istirahat adalah jam pelajaran Bahasa Inggris, Pak Setiawan. Selain sebagai guru Bahasa Inggris beliau juga sebagai wali kelasku. Kali ini beliau membagikan hasil ulangan kemarin.
“Ran, dapat nilai berapa?” Tanya Deni.
“Alhamdulillah, dapat 94.”
Tapi aku merasa ada sesuatu yang hilang di sini. Biasanya, ada seseorang yang selalu menanyai nilaiku setelah ulangan, Randi.  Sejujurnya aku juga ingin menanyai berapa nilainya. Tapi hari ini dia sakit. Aku seperti juga merasakan sakit yang ia alami. Sekalipun aku tidak tahu dia sakit apa. Aku merasa hidupku hari ini hampa, pelangi berwarna kelam, siang hariku pun seolah jadi malam, tanpa adanya keceriaan sahabatku Randi.
Setelah semua kertas ulangan terbagi, Pak Setiawan meminta data pribadi semua siswa. Mulai dari nama lengkap yang benar, tempat dan tanggal lahir, hingga NISN kami. Seketika itu juga aku memikirkan Randi, bisakah anak-anak menjawab data tetang Randi. Alhamdulillah, Andi bisa menjawab dengan baik tentang Randi. Terang saja, Andi memang dekat dengan Randi, menurutku.
Tapi ketika di tanya tanggal lahir Randi, Andi hanya menjawab “Pokoknya Desember, aku lupa tanggalnya.”
Semua anak di kelas saling berpandangan. Kelas hening untuk beberapa saat. Sebenarnya aku tahu berapa tanggal lahir Randi.
“Se-be-las.” Teriakku tanpa berpikir teralu lama.
Semua mata tertuju padaku. Aku terdiam kaku. Aku tak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran teman-temanku.
“Wehh, Rani tau!” Teriak seorang temanku dari belakang.
“Cie-cie!!!!” Kata itu mulai bersahutan di sana-sini.
Aku hanya diam, tertunduk, merasa heran dengan sikap anak-anak yang seperti itu. Ya, sejujurnya aku malu juga kalau begini. Dan ketika aku mengumpulkan tenagaku, berjuang mengangkat kepalaku, dan meyakinkan diriku bahwa semua ini baik-baik saja, aku menatap ke depan, tepat pada Pak Setiawan. Ternyata beliau juga ikut tertawa bersama teman-temanku.
Aaaaaaa. Teriakku dalam hati. Aku semakin tercengang. Sedikit yang aku katakan, dan menurutku wajar-wajar saja, tapi berbalas dengan terlalu banyak penyikapan. Semakin malu aku dibuatnya.
Kupandangi sekelilingku. Teman-temanku masih saja memandangiku dengan cengengesan.
“Apaan, sih. Itu wajar, kita semua khan teman. Benar tidak?” Kataku mencoba mempertahankan diriku.
“Ahh, teman apa teman? Kamu bohong, ah!” Dengan cepat Nadifa membantahku. Dan semua teman-temanku ikut tertawa.
Ya Allah, benar-benar malu aku dibuatnya. Yang tadinya hanya guyonan biasa, pikirku, ternyata membuatku malu sendiri. Rasa malu, sedih, kacau, geregetan, jadi satu. Tapi juga ingin ikut tertawa. Aku heran pada teman-temanku. Benar-benar hari yang konyol.(LCM)