Kicauan
burung memecah sunyinya pagi, mentaripun tak lagi enggan menampakkan cahyanya
yang terang. Di pagi yang dingin itu aku tengah bersiap melenggangkan tubuhku
menuju sekolah yang cukup jauh dari rumahku. Ya, hampir 40 km. Setiap pagi aku
berangkat bersama ayahku tercinta. Mengarungi jalanan dan memerangi kehidupan
yang fana.
Entah
mengapa, pagi itu aku merasa sangat sunyi. Angin jalanan yang berhembus seolah
membelai tubuhku dengan mesranya. Suaranya terdengar jelas di telingaku. Aku
menikmati suasana pagi yang tenang itu, hingga tanpa aku sadari aku telah tiba
di depan sekolahku.
Seperti
biasa, aku melangkahkan kakiku menuju kelasku di lantai 2, melepaskan sepatuku,
dan menyapa kawan-kawanku yang telah lebih dahulu berada di kelas.
“Assalamu’alaikum,”
Sapaku.
“Eh,
Rani. Wa’alikum salam. Duduk sama aku ya, Ran?” ajak Meri.
Bel
tanda jam pertama dimulai berbunyi. Aku merasa seperti ada yang kurang di pagi
ini. Yak, sejak tadi pagi aku belum melihat Randi, ketua kelasku. Dia adalah
salah seorang best friendsku. Kemana
dia? Hatiku bertanya-tanya. Namun aku tak punya cukup daya untuk menanyakan hal
itu kepada Andi, teman sekostan Randi. Aku hanya takut jika nanti anak-anak
berpikir lain.
Hatiku
yang risau karena pertanyaan yang kubuat rumit sendiri dalam anganku terpecah
oleh suara lelaki yang memandu pembacaan Al-Qur’an. Kubuka kitab suci milikku
itu dengan perlahan. Seiring terbukanya kitab itu, aku melupakan pertanyaa yang
merongrong di benakku.
Sampai
mengaji selesai, belum kudapati tanda-tanda keberadaan Randi. Tadinya aku
berfikir bahwa dia mungkin terlambat, tapi tidak mungkin. Sekarangpun dia juga
belum datang, mungkin memang hari ini dia tidak masuk.
“Hey,
Randi kemana sih?” Kudengar salah seorang temanku bertanay pada Andi, entah
siapa karena aku tak menoleh sedikitpun.
“Sakit.”
Jawab Andi singkat.
Muncul
lagi pertanyaan di benakku, sakit apakah dia? Dan lagi-lagi aku hanya menahan
pertanyaan itu di hatiku. Entah apa yang terjadi padaku, lidahku yang tak
bertulang ini seolah kaku. Tak mampu berucap sedikitpun. Aku hanya diam, siapa
tahu nanti ada teman lagi yang bertanya. Sehingga tanpa perlu aku bertanya
sudah kudapati jawabnya.
***
Setelah
istirahat adalah jam pelajaran Bahasa Inggris, Pak Setiawan. Selain sebagai
guru Bahasa Inggris beliau juga sebagai wali kelasku. Kali ini beliau
membagikan hasil ulangan kemarin.
“Ran,
dapat nilai berapa?” Tanya Deni.
“Alhamdulillah,
dapat 94.”
Tapi
aku merasa ada sesuatu yang hilang di sini. Biasanya, ada seseorang yang selalu
menanyai nilaiku setelah ulangan, Randi.
Sejujurnya aku juga ingin menanyai berapa nilainya. Tapi hari ini dia
sakit. Aku seperti juga merasakan sakit yang ia alami. Sekalipun aku tidak tahu
dia sakit apa. Aku merasa hidupku hari ini hampa, pelangi berwarna kelam, siang
hariku pun seolah jadi malam, tanpa adanya keceriaan sahabatku Randi.
Setelah
semua kertas ulangan terbagi, Pak Setiawan meminta data pribadi semua siswa.
Mulai dari nama lengkap yang benar, tempat dan tanggal lahir, hingga NISN kami.
Seketika itu juga aku memikirkan Randi, bisakah anak-anak menjawab data tetang Randi.
Alhamdulillah, Andi bisa menjawab dengan baik tentang Randi. Terang saja, Andi
memang dekat dengan Randi, menurutku.
Tapi
ketika di tanya tanggal lahir Randi, Andi hanya menjawab “Pokoknya Desember,
aku lupa tanggalnya.”
Semua
anak di kelas saling berpandangan. Kelas hening untuk beberapa saat. Sebenarnya
aku tahu berapa tanggal lahir Randi.
“Se-be-las.”
Teriakku tanpa berpikir teralu lama.
Semua
mata tertuju padaku. Aku terdiam kaku. Aku tak bisa menebak apa yang ada dalam
pikiran teman-temanku.
“Wehh,
Rani tau!” Teriak seorang temanku dari belakang.
“Cie-cie!!!!”
Kata itu mulai bersahutan di sana-sini.
Aku
hanya diam, tertunduk, merasa heran dengan sikap anak-anak yang seperti itu.
Ya, sejujurnya aku malu juga kalau begini. Dan ketika aku mengumpulkan
tenagaku, berjuang mengangkat kepalaku, dan meyakinkan diriku bahwa semua ini
baik-baik saja, aku menatap ke depan, tepat pada Pak Setiawan. Ternyata beliau
juga ikut tertawa bersama teman-temanku.
Aaaaaaa. Teriakku dalam hati. Aku semakin tercengang. Sedikit yang aku
katakan, dan menurutku wajar-wajar saja, tapi berbalas dengan terlalu banyak
penyikapan. Semakin malu aku dibuatnya.
Kupandangi
sekelilingku. Teman-temanku masih saja memandangiku dengan cengengesan.
“Apaan,
sih. Itu wajar, kita semua khan teman. Benar tidak?” Kataku mencoba
mempertahankan diriku.
“Ahh,
teman apa teman? Kamu bohong, ah!” Dengan cepat Nadifa membantahku. Dan semua
teman-temanku ikut tertawa.
Ya
Allah, benar-benar malu aku dibuatnya. Yang tadinya hanya guyonan biasa,
pikirku, ternyata membuatku malu sendiri. Rasa malu, sedih, kacau, geregetan,
jadi satu. Tapi juga ingin ikut tertawa. Aku heran pada teman-temanku. Benar-benar
hari yang konyol.(LCM)