“Bagaimana,
kau siap?” tanya Eva pada Zaki.
“Uhm,
sebenarnya ya belum siap. Masa iya, aku baru masuk suruh presentasi. Tapi,
harus siap, memang.”
Pasalnya,
pagi itu Eva dan Zaki ada presentasi tugas Bahasa Indonesia. Sejak seminggu
yang lalu, Zaki tidak masuk sekolah karena sakit cacar. Jadi, tugas ini
sepenuhnya yang mengerjakan adalah Eva. Mereka adalah siswa kelas 12 SMA Kusuma
Bangsa. Dan secara kebetulan, sejak mereka satu kelas sejak kelas 10 dulu.
“Hei,
Eva! Apa kamu ingat perkataan kita waktu kelas 10 dulu? Saat kamu dengar aku
tidak mau iuran untuk tugas kelompok, dan secara spontan kamu bilang tidak mau
satu kelompok denganku lagi?” tanya Zaki saat kembali ke bangkunya setelah
presentasi.
“Dan
kau menjawab dengan sangat ketus, bahwa kau juga tidak sudi bekerja sama denganku.
Sebenarya aku tidak sungguhan berkata seperti itu. Tapi, entah kebetulan atau
bagaimana, sejak saat itu kita tidak pernah satu kelompok lagi.”
“Dan
sampai sekarang ini.”
Mereka
berdua tertawa keras. Tanpa sadar, seantero kelas memandang mereka aneh.
Eva
menatap Zaki begitu dalam. Sudah sangat lama ia tidak melihat senyum indah itu,
senyum yang sangat menyegarkan, dan senyum yang manis penuh arti, batinnya.
“Kenapa
kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah?” Pertanyaan Zaki membuatnya
terkejut.
“Oh,
tidak. Hanya saja, sudah lama kita tidak bercanda seperti ini,” kata Eva
gelagapan.
“Aha!
Aku tahu. Kamu pasti kangen sama aku, kan? Face up, Va,” canda Zaki.
“Hust,
kok PD sekali kamu ini? Sudah, dengarkan presentasinya, noh!” Eva melirik Zaki,
dia hanya tersenyum tipis.
Sepulang
sekolah, Zaki mengajak Eva makan di sebuah warung ayam bakar dekat sekolah.
Tidak ada salahnya, Eva pun menyetujuianya. Dan ini adalah kali pertama dia
makan bersama Zaki sejak mereka kenal hampir 3 tahun lalu.
“Uhm,
anyway, dalam ragka apa ini traktir-traktir segala?” Eva memulai percakapan
setelah memilih tempat duduk.
“Karena
kamu telah mengerjakan tugas Bahaa Indonesia kita dengan sangat sempurna,”
jawab Zaki singkat.
“Hahaa.
Itu sudah biasa. Kamu tidak perlu berlebihan, sudah banyak yang bilang seperti
itu.”
“Wah,
songong ni anak. Capek deh ngomong sama kamu, Va,” Zaki gregetan.
“Oh,
ngajak berantem lo? Oke!” Eva malah geram.
“Hei,
kalian ini apa-apaan? Mau makan itu berdoa, bukan bertengkar,” srobot pelayan
yang mengantarkan makanan, “Ini, silahkan. Semoga rasanya yang enak mampu
mendamaikan hati kalian dan menambah rasa cinta di antara kalian,” sambungnya.
“Cinta?”
teriak Evan dan Zaki bersamaan.
Sang
pelayan tersenyum lebar dan kemudian pergi. Eva dan Zaki saling memandang
sinis. Tapi kemudian tertawa lepas. Sepasang teman yang aneh.
“Eh,
Va. Kamu mau kuliah di mana?” tanya Zaki sambil menyantap makanannya.
“Kalau
inginnya di FMIPA UI. Tapi pengen juga bisa kuliah di luar negeri. Kamu?”
“Owh,
bagus itu. Kalau aku, sastra Inggris Cambrigde University. Hohoo.”
Pembicaraan
mereka semakikin dalam dan kehangatan di antara mereka juga kian terasa.
“Hai,
Va!” Sapa seorang gadis yang duduk di sebelah Eva, “Ehm, kamu kemarin makan
sama Zaki, kan? Kalian pacaran? Wah, parah ni Eva, gak crita-crita.”
“Lisa!
Aneh-aneh aja deh. Tentu tidak. Kita saja tidak pernah dekat. Tahu sendiri kan
bagaimana sikap Zaki ke aku kaya gimana?” Jawab Eva dengan nada tinggi.
“Ya,
itu dulu, Va. Mungkin saja sekarang ini, sejak kamu kembali satu kelompok sama
dia, mana berdua pula, mungkin dia baru sadar kalau dia suka sama kamu. Dan dia
sedang melancarkan aksi untuk mendekatimu,” jelas Lisa.
“Jangan
berpikiran negatif. Makan kemarin itu hanya sebagai ucapan terima kasih karena
aku telah mengerjakan tugas kelompok kami. Itu saja, tidak lebih.”
“Aku
tdak berpikiran negatif,” jawab Lisa cepat, “Coba dengarkan, selama ini Zaki
hampir tidak pernah ambil alih dalam tugas kelompok. Tapi dia tidak pernah ada
acara traktir menraktir seperti itu. Bisa jadi, kamu mempunyai posisi khusus di
hatinya. Aku hanya menerka-nerka.”
“Sebenarnya,
Zaki itu baik. Di balik sikapnya yang cuek, tersimpan hatinya yang mulia.”
“Apa
kamu naksir Zaki?”
Eva
terkejut dengan pertnyaan itu, “Hah? Bukannya dia sudah punya pacar? Yang
sekarag sekolah di Yogya?”
“Siapa
maksudmu? Febri?”
“Ya.
Seperti itu yang pernah aku dengar.”
“Ah,
itu sih cerita lama. Sekarang ini khan dia berpacaran sama anak kelas
sebelah,Rania. Kamu tidak tah?”
“Hass!
Pernah memang aku mendengar berita macam itu. Tapi aku tidak peduli siapa
pacarnya siapa. Yang penting aku sekolah dengan aman dan damai. Oh, ya. Kalau
kamu tahu Zaki pacaranya Rania, kenapa kamu masih sempat-sempatnya meledekku?”
“Karena
ku rasa kamu sagat cocok dengan Zaki.”
Eva
dan Zaki lebih sering bertengkar dari pada akurnya. Aneh sekali jika tiba-tiba
ada orang yang mengatakan mereka cocok menjadi pasangan. Gila.
Suatu
hari, Eva, Lisadan Adit datang ke rumah Zaki untuk mengerjakan praktik membuat
tape ketan hitam yang memang hanya bisa dilaksanakan di rumah. Rumah Zaki
dianggap paling strategis sebagai tempatnya.
“Wah,
ada teman-temannya Zaki. Ayo masuk!” ajak Tante Marni, mama Zaki.
“Ya,
Tante. Terima kasih,” jawab Adit.
“Oh,
ya, Adit. Yang perempuan ini namanya siapa? Kalau ini Lisa, kan? Temannya Zaki
sejak SMP? Belum pernah ke sini ya? Saya Marni, Mamanya Zaki.” Katanya sambil
mengulurkan tangan tanda perkenalan dengan Eva.
“Saya
Eva, Tante. Rumah saya Kali Rungkut. Dulu juga tidak satu SMP dengan Lisa dan
Zaki, jadi memang belum pernah ke sini,”
“Oh,
Eva. Cantik sekali. Jangan sungkan-sungkan di sini. Anggap saja rumah sendiri.
Adit dan Lisa sudah sering kok main ke sini,”
“Ya,
Tan.” Jawab Eva singkat.
“Tante
tinggal ke dapur dulu, ya! Sebentar lagi Zaki juga datang dari warung.”
“Aduh,
tidak usah repot-repot, Tante. Tadi kami sudah minum es campur di jalan,”
Serobot Adit.
“Ah,
kamu ini. Siapa juga yang mau membuatkanmu minum, Dit. Tante mau mencuci piring
kok!” kata Tante Marni dengan senyumnya yang manis, tak kalah manis dengan
senyum Zaki.
“Assalamualaikum,”
suara dari depan pintu.
“Waalaikumsalam,”
jawab Adit, Eva dan Lisa kompak. Dan melihat arah pintu. Ternyata Zaki.
“Kalian
udah datang dari tadi? Maaf menunggu lama. Aku masih membeli ketan dan ragi.”
“Baru
saja, Ki,” jawab Lisa.
“Kalau
begitu ayo kita mulai. Lebih cepat lebih baik,” ajak Adit.
“Memang
harusnya begitu,” sambung Eva.
“Ayo
kita ke dapur. Sudah aku siapkan peralatan tempur kita. Haha!” kata Zaki penuh
semangat.
“Kalau
ada yang dibutuhkan, panggil saja tante. Itu cemilan dan minumnya tante
letakkan di meja makan, ya,” kata Tante Mirna lembut.
“Terima
kasih, Tante. Dijamin habis, deh!” kata Adit melawak.
Dua
jam berlalu. Zaki, Adit, Eva dan Lisa yang sejak tadi memproses tape, masih
sibuk dengan tahap akhir pembuatan tape. Tinggal dicampur ragi dan ditutup
rapat. Selesai.
“Haduh,
capei juga ternyata. Semoga rasanya enak,” ujar Zaki kemudian menghempaskan
tubuhnya ke sofa kecil dekat pintu dapur.
“Pasti
enak! Siapa dulu juru masaknya, Chef Eva,” kata Eva meninggikan hatinya.
“Huuuu.
Apaan, Va. Chef dari langit turun ke empang?” celoteh Adit.
“Tapi
dari tadi tante perhatikan Eva yang banyak bekerja di sini. Kamu sering masa,
Va?” kata Tante Mirna yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Ya,
Tan. Dia jago masak. Setidaknya lebih jago dari pada saya. Karena memang saya
belum bisa memasak. Hehee,” serobot
Lisa.
“Bener,
Eva?” tanya Tante Mirna.
“Kalau
yang Lisa tidak bisa masak itu benar. Tapi kalau saya jago masak itu salah.
Mungkin Cuma biasa bantu-bantu mama di dapur kalau hari minggu. Soalnya Senin
sampai Sabtu, dari pagi sampai sore sekolah. Tidak sempat bantu-bantunya.
Masalah saya yang paling aktif tadi, itu karena saya sudah pernah membuat tape
ketan dulu sekali,”
“Tapi
kamu sering dipercaya jadi juru masak jaman SMP dulu di pramuka. Pernah menang
juga, kan?” sanggah Lisa.
“Wah,
hebat kamu, Va,” kata Adit kagum.
“Ah,
tapi lebih sering gagalnya. Masak nasi tidak matang, goreng tahu gosong, masak
sayur hambar, dan lain sebagainya,” kata Eva.
“Itu
dinamika memasak, Va. Dari kesalahan itu kamu akan tahu solusi untuk memasak
lebih baik lagi,” tutur Zaki.
“Tau
apa, Zaki, sayang? Kamu masak air saja gosong terus. Sampai sekarang. Mama
sampai heran,” kata Tante Mirna.
“Ih,
Mama. Buka aib anak sendiri. Itu karea Zaki memang tidak punya passion masak,
Ma. Terima saja. Tapi Zaki punya banyak kelebihan lain. Tenang, Ma,” Zaki
menjelaskan dengan senyumnya yang selalu merekah.
Mereka
berbincang-bincang hingga sore. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul
16.00. Dan saatnya bagi Adit, Lisa, dan Eva untuk pulang.
“Makasih,
ya, kalian sudah mau datang ke sini. Kalau mau main ya silahkan sesuka hti
kalian. Apa lagi Eva yang belum pernah ke sini. Sering-sering saja, biar lebih
akrab dengan tante,”
“Ya,
Tante. Kalau ada waktu dan temannya sama main ke sini. Tapi nanti takutnya
pacarnya Zaki marah bagaimana?” kata Eva.
“Ah,
khan kamu ke sini menemui tante. Bukan menemui Zaki. Kamu anaknya asik, tante
suka saja,” jawab Tante Mirna terlihat gembira.
“Hehe,
iya. Ya sudah, kalau begitu kita pamit, ya. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
jawab Tante Mirna dan Zaki kompak, dan melihat Adit dan yang lainnya pergi
hingga tak terlihat lagi.
“Zaki,
mama suka sekali denga Eva. Dia baik, lucu, menyenangkan, pintar masak, tidak
suka aneh-aneh, benar-benar menantu idaman,” ujar Tante Mirna sambil
senyum-senyum sendiri.
“Mama
khan baru bertemu dia sekali. Mama belum tahu sih Eva itu seperti apa.
Dia itu menyebalkan, sangat menyebalkan. Lagi pula, Zaki khan sudah punya
Rania, yang lebih cantik dan lebih pintar dari Eva,”
“Kamu
itu sudah dibutakan oleh Rania. Cantik dan pintar secara akademik tidak akan
menjamin, Zaki,” jawabnya santai. “Hei, yang suka Eva khan mama, mama tidak
memintamu untuk menyukai Eva juga dan meninggalkan Rania. Tapi ingat, kebaikan
yang tulus dan yang yang hanya kepura-puraan itu terlihat,” tambahnya.
“Maksud,
Mama?” Zaki heran.
“Coba
perhatikan, Eva berbicara, bertingkah laku, melakukan sesuatu dengan apa
adanya, kelembutannya, terlihat jelas ia melakukannya dengan tulus dan senang
hati, tergambar di wajahnya bagaimana kebersihan hatinya tanpa bibirnya
mengatakan. Yang dia lakuka itu tanpa maksud apapun dan benar-benar itulah dia.
Tanpa ditutup-tutupi dia memang orang baik,” jelas Tante Mirna. “Sekarang,
bagaimana dengan Rania? Mama sudah beberapa kali bertemu dengannya, dan yang
Mama rasakan sama. Seolah apa yang dia lakukan adalah sebuah drama, dia berada
dalam kehidupan yang bukan dirinya.
Sikapnya yang baik dan lembut, bukanlah dari hatinya. Tapi hanya dari akalnya.
Dia memang orang baik, tapi sikap yang dia tunjukkan tidaklah sebaik jati
dirinya. Dapat Mama rasakan keberlebihan dari kepura-puraan itu, Ki,”
tambahnya.
“Kenapa
Mama bisa berkata begitu? Atas dasar apa? Kenapa Mama malah menjelek-jelekkan
Rania?” tanya Zaki heran.
“Mama
tidak menjelekkan Rania. Tapi ini kenyataan. Kau lupa, Mama ini suka
mempelajari ilmu psikologi? Ya, biarpun hanya dari membaca buku, tapi banyak hal
yang Mama tahu. Apalagi dari dirimu, anak Mama sendiri. Bahkan yang tidak kamu
ketahui,”
“Maksud,
Mama?”
“Sudahlah.
Suatu saat kamu akan menyadarinya,” katanya lalu pergi ke kamar.
*****
Hari
silih berganti. Ujian nasional kelas XII juga telah dilaksanakan. Para siswa
kelas XII diliburkan beberapa saat untuk menyegarkan pikirannya kembali sebelum
mendapat tambahan materi tes masuk perguruan tinggi.
“Lis,
main ke rumahnya Zaki, yuk!” ajak Eva pada Lisa.
“Mau
ngapain? Cie... yang dipuji-puji sama Tante Mirna. Pengen dipuji lagi nih?”
“Bukan
begitu. Dulu aku janji mau main ke sana. Ayolah, temani aku. tidak enak kalau
pergi sendirian. Ya? Kamu sahabatku yang paling baik, kan?”
“Uhm,
baiklah. Kapan? Jam berapa? Naik apa?”
“Minggu
depan saja, deh. Info lebih lanjut menyusul. Bagaimana?”
“Uhm,
baik. Aku tunggu kabar darimu,”
Siang
yang cerah itu Eva menjemput Lisa di rumahnya untuk berangkat ke rumah Zaki.
Setibanya di sana mereka disambut oleh Tante Mirna dan Om Zainal, papa Zaki.
“Ini
loh, Pa, si Eva yang sering Mama ceritakan,”
“Wah,
cantik sekali. Bahkan lebih cantik dari yang ada dalam cerita da dengan segala
penjelasan Tante Mirna terlihat sesuai dengan kamu, Va,” ujar Om Zainal.
“Ah,
biasa saja, Om. Memangnya Tante Mirna cerita apa?”
“Haha,
rahasia. Oh, hai Lisa! Apa kabar? Makin cantik saja. Tapi juga makin item,”
canda Om Zainal.
Mereka
masuk ke rumah. Berbincang-bincang dan bercanda sepanjang siang. Mulai dari
cerita jaman SMA dulu, kisah sehari-hari, sampai rencana Lisa dan Eva
melanjutkan kuliahnya. Tapi, dari tadi tidak terlihat Zaki. Ternyata dia sedang
berkunjung ke rumah saudaranya di luar kota. Setelah makan siang, Eva dan Lisa
berpamitan pulang.
“Tante
dan Om senang sekali kalian bisa meluangkan waktu berkunjung kemari. Setiap
hari ke sini juga tidak masalah, ya, Pa?” kata Tante Mirna.
“Ya,
tentu saja boleh,”
Semuanya
tertawa bahagia. Eva dan Lisa pun melajukan motornya meninggalkan halaman rumah
Zaki dengan senyum yang merekah.
Tibalah
hari perpisahan kelas XII. Saat itu Eva dan ibunya bertemu dengan Tante Mirna.
Mereka berbicara dengan akrab. Dan semudah itu mereka menjadi dekat. Rania yang
melihat hal itu jujur saja merasa iri. Tidak pernah sekalipun Tante Mirna
seakrab itu dengannya, terlebih dengan orang tua Rania.
“Ran,
kenapa? Apa yang kamu lihat?” tanya Zaki yang tiba-tiba muncul di samping
Rania.
“Aku
melihat mamamu. Dia terlihat sangat dekat dengan Eva. Apa Eva sering ke
rumahmu?”
“Pernah,
bukan sering. Waktu mengerjakan tugas membuat tape. Dan sekali setelah UN
kemarin mamaku menyukainya karena dia orang yang transparan, apa adanya, dan
mudah menyesuaikan dengan orang di sekitarnya sekalipun baru kenal,”
“Kenapa
kamu jadi memujinya?” tanya Rania sinis.
“Bukan
aku yang memujinya, tapi mamaku,”
“Apa
kau menyukainya?”
“Apa
maksud perkataanmu? Tentu tidak. Mamaku yang menyukainya,” jawab Zaki
terbata-bata.
“Tapi
bukan itu yang aku rasakan. Memang mamamu menyukainya, tapi kau malah
mencintainya,” tuduh Rania.
“Apa?
Kenapa kamu justru menuduhku? Ragukah kamu dengan cintaku? Jika tak ada lagi
kepercayaan di hatimu untukku, sia-sialah cintaku untukmu,” Zaki langsung
meninggalkan gadis cantik di sampingnya tadi tanpa mempedulikannya teriakannya
sama sekali dan mengajak mamanya pulang.
Sejak
kejadian itu, Zaki yang terluka hatinya karena dituduh oleh Rania mulai renggag
hubungannya degan kekasihnya itu. Mereka sekarang lebih sering bertengkar, tapi
akhirnyapun baikan lagi. Begitulah seterusnya. Bertengkar, dan baikan.
Namun
ketika di perguruan tinggi, Zaki dan Rania yang berada di kota berbeda semakin
jarang sekali bertemu. Mereka hanya berkomunikasi lewat media elektronik.
Itupun kalau ada waktu dan tidak sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Zaki mencoba
untuk tetap menjaga keharmonisannya dengan Rania. Tetapi entah bagaimana, Rania
tidak seperti duu lagi. Dia terlalu sibuk dan tidak memperhatikan Zaki.
Suatu
malam di bawah sinar rembulan yang redup, Zaki teringat Eva. Apa kabar Eva?
Sudah satu setengah bulan mereka tidak berkomunikasi. Tiba-tiba, handphone
Zaki berbunyi. Ya, itu Eva. Dia menanyai kabar teman-temannya semasa SMA,
termasuk Zaki. Zaki senang sekali, secara tidak sengaja bisa pas begitu. Zaki
membalas pesan itu, saling bercerita tengtang kuliah, suasana baru di kota yang
berbeda, dan banyak hal lainnya. Mereka berduapun hanyut dalam heningnya malam
itu.
Dua
tahun di bangku kuliah berlalu. Suatu hari, Zaki bertengkar hebat dengan Rania.
Rania yang semula sangat baik, ramah, lembut dan perhatian, lama kelamaan
berubah menjadi protektif tapi acuh, suka membentak, selalu menyangkal
perkataan Zaki, dan merasa paling berkuasa dalam hubungan itu.
“Kamu
benar-benar keterlaluan. Masalah sepele seperti ini saja kamu perumit. Aku eran
dengan dirimu. Hatimu itu keras. Tidak mau menerima perkataan orang lain dan
berbuat seenakmu. Selama ini aku mencoba sabar menghadapimu, dan aku harap aku
bisa memperbaiki akhlakmu. Nyatanya, hatimupun terlalu keras untuk itu,” jelas
Zaki dengan nada tinggi saat liburan dia bertemu Rania.
“Apa
maksud perkataanmu?”
“Ternyata
benar kata mama, harusnya aku mendengarkannya,”
“Apa
kata mamamu?”
“Apa
yang ada dalam dirimu, kebaikanmu, kelembutanmu, itu hanya sandiwara belaka.
Terbukti sekarang. Mungkin aku tidak patut mengatakan ini, tapi yang jelas, aku
menyesal menjalin hubungan yang penuh dengan kepura-puraan ini,”
“Kepura-puraan?”
Rania terkejut.
“Benar.
Selama ini aku hanya pura-pura mencintaimu. Aku merasa kesepian, dan aku butuh
cinta. Aku tahu saat itu kamu menyukaiku. Maka dari itu, aku mendekatimu.
Barang kali aku bisa mencintaimu dengan kecantikan dan kebaikan yang kau
tunjukkan. Hampir saja aku bisa melakukannya, tapi kau menghancurkan semua itu
dengan jati dirimu. Keangkuhan hatimu dan kepura-puraan sikap manismu. Maafkan
aku karena melakukan ini padamu. Tapi, sudah cukup baikkan aku sebagai pacarmu?
Dan yang terpenting, maafkan aku karena tak lagi bisa menjadi pacarmu. Terima
kasih atas semuanya,”
“Zaki,
apa-apaan ini? Maksudmu, kita putus? Kamu tidak mencintaiku lagi? Uhm, kamu
tidak pernah mencintaiku? Maafkan aku jika aku salah, tapi aku mohon jangan
tinggalkan aku. aku mencintaimu, Zaki,” Rania manangis.
“Aku
bukan manusia sempurna. Tempat dimana ada maaf untukmu sudah habis. Aku yakin,
suatu hari nanti kau akan mennemukan lelaki yang lebih kau cintai dan tentunya
lebih baik dari aku. Maafkan aku, Rania. Aku sudah tidak bisa lagi,”
“Apa
kau punya gadis lain? Dan semua ini hanya alasanmu?”
“Kau
selalu tak percaya padaku. Itu yang paling tidak aku suka,” jawab Zaki santai.
“Ini sungguhan. Sesungguhnya, aku mendekatimu karena aku gagal mendekati gadis
yang aku cintai. Aku kira kamu bisa menggantikannya, ternyata tidak,”
sambungnya.
“Kau
kira, aku barang substitusi seperti itu?” tangisan Rania semakin menjadi.
“Aku
minta maaf. Dan atas segala perbuatanmu yang telah mengecewakanku, aku telah
memaafkannya. Kita putus. Dan sekarang aku harus pergi. Terima kasih, Rania
sayang,” kata Zaki dan langsung pergi.
“Zaki!
Zaki! Zakiiii!” teriak rania, namun tak ada tanggapan.
Beberapa
hari berlalu. Sesungguhnya hati Zaki masih tidak enak dengan kejadian kemarin,
memutuskan Rania. Tapi mungkin itu yang terbaik. Ia tidak bisa membohongi
Rania, apa lagi perasaannya sendiri lebih lama lagi. Untuk mengurangi
kerisauannya, Zaki pergi ke sebuah rumah makan dekat SMAnya yang sering ia
datangi bersama teman-teman sekelasnya dulu. Dia duduk sendirian di sudut
ruangan. Menunggu pesanan sambil melamun.
“Hai!”
teriak seorang keras dan menepuk pundak Zaki.
“Loh,
Eva. Di sini juga?” Zaki sangat terkejut.
“Ya.
Ingin nostalgia jaman SMA. Haha,”
“Bagaimana
kuliahmu? Semesterannya gimana? Asik?”
“Waduh,
benar-benar menggila pokoknya. Tapi, syukurlah, sejauh ini baik-baik saja. Kamu
sendiri?”
“Pastinya
tidak jauh berbeda denganmu, Ki. Oh, ya. Tante Mirna baik?”
“Alhamdulillah,
baik,
“Lalu,
bagaimana dengan Rania?”
“Kita
sudah putus, tiga hari yang lalu,” kata Zaki datar. Tapi mampu membuat Eva
terkejut maksimal.
“Bagaimana
bisa? Kalian sudah bersama sangat lama,”
“Ini
pesanannya. Selamat makan,” ujar pelayan. Membuat Zaki megurungkan niatnya
untuk bercerita.
“Zaki,
ayo cerita! Setelah makan kamu pokoknya harus cerita,” desak Eva.
“Kamu
gitu, ya? Suka maksaya tidak pernah hilang. Sudah, aku ingin menikmati
makananku dan melupakan gadis cantik itu. kapan-kapan saja kalau ada waktu yang
tepat, aku akan cerita,”
Eva
bercerita kepada Lisa tentang pertemuannya dengan Zaki. Lisapun juga terkejut
mendengar berita itu.
“Aku
sangat terkejut, Lis. Antara senang dan kaget, membuat aku bingung dan lidahku
beku saat itu,”
“Tunggu,
Va. Kenapa kamu senang?”
“Uhm,”
Eva menghela napas panjang. “Ada hal yang aku pendam selama ini dari semua
orang. Bahkan kamu, sahabat terdekatku,”
“Maksudmu?”
Lisa menggerutkan dahi.
“Selama
ini aku mencoba diam, memendam rasa itu dalam-dalam agar tidak muncul ke
permukaan. Tapi aku kini mulai tak tahan menekannya,”
“Lama!”
sela Lisa.
“Sejak
kelas X, aku jatuh cinta pada Zaki,”
“Hah!
Apa aku salah dengar?”
“Tidak.
Aku sangat mengagumi Zaki atas segala apa yang ada padanya,”
“Lalu
kenapa selama itu kamu justru seolah memusuhinya?” tanya Lisa heran.
“Itu
semua karena aku tidak ingin rasaku terlalu dalam. Kau tahu prinsipku, aku
tidak akan berpacaran sebelum aku yakin dialah yang akan menjadi jodohku. Tapi
Zaki, dia tak mau pergi dari hatiku hingga enam tahun ini. Senyumannya yang
selalu menguatkanku. Senyuman air surga itu. aku tak bisa bohong bahwa aku
mencintainya,” Eva meeteskan air mata. Lisa hanya diam. “Saat itu aku tak ingin
dia tahu perasannku. Dan akupun tak menyangka, takdir benar-benar berpihak
kepadaku. Semua jalan menjauhkan kita, dan dia berpacara dengan Rania. Aku
sakit sekali. Tapi aku memilih untuk tetap diam. Diam sediam-diamnya,”
sambungnya.
“Astaga,
Eva. Lalu apa rencanamu kedepannya? Tidakkah kau membuka hati untuk orang
lain?”
“Sudah
aku coba, tapi gagal. Dan aku mulai lelah. Aku hanya akan diam. Menunggu takdir
apa yang akan menghampiriku.”
“Aku
mohon kau tetap berusaha. Semoga kebaikan menyertaimu.”
Dua
tahun setelah hari kelulusan, Lisa menikah. Di sana semua teman SMAnya
berkumpul. Termasuk Eva dan Zaki, tentu saja. Belakangan ini, Zaki, Eva, dan
teman-teman SMA lainnya semakin dekat kembali setelah lulus kuliah dan kembali
ke kota asal. Sesungguhnya hal itu membuat hati Eva senang sekaligus
menyiksanya. Ia bisa melihat lagi orang yang dia cintai, melihar senyum air
surga yang menyejukkannya di tengah-tengah kebisuan dan ketidak berdayaannya.
“Eva,
jangan murung begitu. Ini hari bahagiaku. Tidakkah kau bahagia?” timpal Lisa.
“Tentu
aku bahagia. Sangat bahagia. Aku hanya sedang membayangkan betapa bahagianya
jika aku menjadi dirimu, Lis.”
“Ya,
semoga sesegera mungkin. Aku selalu mendoakanmu, sayangku Eva,”
“Hei,
ini ibu-ibu ngrumpi saja?” serobot Zaki.
“Ini,
ini kebiasaan. Suka ikut campur dan reseknya tidak sembuh-sembuh,” kata Eva
kesal.
“Loh,
yang seperti ini yang dicari banyak wanita, Va. Kamu ini bagaimana? Masa tidak
tahu? Harusnya kamu bangga punya teman seperti aku,” canda Zaki. Mereka semua
tertawa lepas tanpa beban.
Acara
berlangsung lancar dan sukses hingga selesai.
“Eva,
tunggu,” teriak Zaki mengejar Eva yang akan pulang.
“Kenapa,
Ki?”
“Uhm,
ini. Bagaimana kalau akhir pekan nanti kita makan di rumah makan dengan
sekolah. Aku yang traktir. Bagaimana?”
“Wih,
tumben. Ada apa ini? Pajak jadian sama siapa?”
“Jadian
apa lagi? Seperti ABG saja. Tidak ada apa-apa. Ingin saja. Ya. Bagaimana?”
“Baik.
Jam berapa?”
“Sore
saja, ya. Nanti aku jemput. Dag!”
“Dag!
Sampai jumpa.”
Tibalah
hari di mana Eva dan Zaki janjian.
“Ki,
kamu bilang dulu akan bercerita. Ayo, kapan?”
“Uhm,
ini saat yang tepat. Lagi pula, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Tentang
apa?”
“Dengarkan
dulu ceritaku!”
Zaki
menceritakan semua kejadian dalam hubungannya dengan Rania. Eva tertegun
mendengarkannya.
“Jadi,
kamu? Kenapa kamu lakukan itu padanya?”
“Pikiranku
buntu saat itu. Gadis yang aku cintai dia sangat jauh denganku. Lagi pula, dia
seolah anti dengan yang namanya pacaran. Dia benar-benar memegang erat
komitmennya itu. Dia seolah terkurung, bahkan mengurung dirinya dalam sangkat
dengan posisi terikat. Tidak ada kesempatan bagiku untuk mendekatinya. Sekarang
aku menyesal, kenapa aku tidak menunggunya.”
“Apakah
dia sudah menikah?”
“Belum.
Tapi hatiku, hatiku telah terodai oleh kebohonganku pada Rania. Dan sekarang
aku ingin memperjuangkan dan merebut cinta gadis itu untukku, gadis yang tak
pernah lepas dari pikiranku.”
Eva
hanya diam. Melihat lelaki yang dicintainya terlihat begitu mencintai gadis
lain. Sorot matanya berbicara betapa dalamnya rasa cinta itu. Mungkin, senyum
air surga itu suatu saat nanti akan pahit baginya. Pikir Eva.
“Kalau
aku boleh tahu, siapakah gadis itu?” tanya Eva lembut tapi penuh dengan tanda
tanya.
Zaki
hanya diam. Memandang Eva tajam, begitu pula sebaliknya. Pandangan yang penuh
dengan teka-teki. Sesuatu terasa telah menekan jantung Eva sehingga tidak
bekerja dengan baik.
Tiba-tiba
Zaki menarik napas panjang. Dan kemudian berkata dengan perlahan, “Gadis itu
adalah, dirimu, Eva. Aku mencintaimu bahkan tidak kamu ketahui.”
Eva
terkejut bukan main. Bumi seolah berhenti pada saat itu. inikah yang namanya
mimpi? Eva hanya diam terkejut.
“Eva,
aku sungguhan. Terserah apa, tapi yang jelas aku mencintaimu. Dari dulu, hingga
detik ini dan tidak berkurang sama sekali. Justru semakin bertambah. Maukah
kamu menikah denganku?”
Pertanyaan
Zaki itu membuat Eva menitihkan air mata.
“Zaki,
sesungguhnya aku juga mencintaimu. Asal kau tahu, aku mencintaimu sejak kita
kelas X. Dan aku menjauhimu serta seolah membencimu agar aku bisa menjaga
hatiku. Aku mencintaimu, sepenuh hatiku, segenap jiwaku. Dan aku sama
sepertimu, mencoba melupakanmu tapi tak mampu. Karena hatiku telah memilihmu.
Bagiku, kaulah lelaki terbaik bagiku, imam yang mampu membahagiakanku dunia dan
akhirat. Itulah yang menjadi keyakinanku,” kata Eva dengan harunya.
Zaki
tersenyum lebar, “Jadi, maukan kamu menjadi ibu dari anak-anakku? Menjadi
bidadari dalam kehidupanku? Mencintai dan menemaniku hingga akhir hayatku?”
Eva
menitihkan air mata. Dan menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui itu. Saat
itu terasa angis sejuk memeluk tubuhnya. Melihat senyum bak air surga yang
mengguyur hidupnya kala itu, membuatnya terbang dalam kebahagiaan.
Eva
dan Zaki memutuskan untuk hidup bersama. Menjalin mahligai rumah tangga yang
indah. Tiada yang menyangka ini semua terjadi. Bahkan Lisa, sahabat terdekat
Eva. Tiada yang menandingi kuasa Tuhan.
Menyatukan dua insan dengan jalannya yang indah. Itulah kisah Eva dan Zaki,
sang pemilik semyum air surga. ~LCM~