Keterangan : - var numfeed = 5; adalah jumlah artikel yang ditampilkan - var charac = 100; adalah jumlah karakter atau huruf pada setiap post - silahkan ganti Url Blogger Bondowoso dengan URL blog anda

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 12 Februari 2014

Senyum Air Surga


“Bagaimana, kau siap?” tanya Eva pada Zaki.
“Uhm, sebenarnya ya belum siap. Masa iya, aku baru masuk suruh presentasi. Tapi, harus siap, memang.”
Pasalnya, pagi itu Eva dan Zaki ada presentasi tugas Bahasa Indonesia. Sejak seminggu yang lalu, Zaki tidak masuk sekolah karena sakit cacar. Jadi, tugas ini sepenuhnya yang mengerjakan adalah Eva. Mereka adalah siswa kelas 12 SMA Kusuma Bangsa. Dan secara kebetulan, sejak mereka satu kelas sejak kelas 10 dulu.
“Hei, Eva! Apa kamu ingat perkataan kita waktu kelas 10 dulu? Saat kamu dengar aku tidak mau iuran untuk tugas kelompok, dan secara spontan kamu bilang tidak mau satu kelompok denganku lagi?” tanya Zaki saat kembali ke bangkunya setelah presentasi.
“Dan kau menjawab dengan sangat ketus, bahwa kau juga tidak sudi bekerja sama denganku. Sebenarya aku tidak sungguhan berkata seperti itu. Tapi, entah kebetulan atau bagaimana, sejak saat itu kita tidak pernah satu kelompok lagi.”
“Dan sampai sekarang ini.”
Mereka berdua tertawa keras. Tanpa sadar, seantero kelas memandang mereka aneh.
Eva menatap Zaki begitu dalam. Sudah sangat lama ia tidak melihat senyum indah itu, senyum yang sangat menyegarkan, dan senyum yang manis penuh arti, batinnya.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang salah?” Pertanyaan Zaki membuatnya terkejut.

“Oh, tidak. Hanya saja, sudah lama kita tidak bercanda seperti ini,” kata Eva gelagapan.
“Aha! Aku tahu. Kamu pasti kangen sama aku, kan? Face up, Va,” canda Zaki.
“Hust, kok PD sekali kamu ini? Sudah, dengarkan presentasinya, noh!” Eva melirik Zaki, dia hanya tersenyum tipis.
Sepulang sekolah, Zaki mengajak Eva makan di sebuah warung ayam bakar dekat sekolah. Tidak ada salahnya, Eva pun menyetujuianya. Dan ini adalah kali pertama dia makan bersama Zaki sejak mereka kenal hampir 3 tahun lalu.
“Uhm, anyway, dalam ragka apa ini traktir-traktir segala?” Eva memulai percakapan setelah memilih tempat duduk.
“Karena kamu telah mengerjakan tugas Bahaa Indonesia kita dengan sangat sempurna,” jawab Zaki singkat.
“Hahaa. Itu sudah biasa. Kamu tidak perlu berlebihan, sudah banyak yang bilang seperti itu.”
“Wah, songong ni anak. Capek deh ngomong sama kamu, Va,” Zaki gregetan.
“Oh, ngajak berantem lo? Oke!” Eva malah geram.
“Hei, kalian ini apa-apaan? Mau makan itu berdoa, bukan bertengkar,” srobot pelayan yang mengantarkan makanan, “Ini, silahkan. Semoga rasanya yang enak mampu mendamaikan hati kalian dan menambah rasa cinta di antara kalian,” sambungnya.
“Cinta?” teriak Evan dan Zaki bersamaan.
Sang pelayan tersenyum lebar dan kemudian pergi. Eva dan Zaki saling memandang sinis. Tapi kemudian tertawa lepas. Sepasang teman yang aneh.
“Eh, Va. Kamu mau kuliah di mana?” tanya Zaki sambil menyantap makanannya.
“Kalau inginnya di FMIPA UI. Tapi pengen juga bisa kuliah di luar negeri. Kamu?”
“Owh, bagus itu. Kalau aku, sastra Inggris Cambrigde University. Hohoo.”
Pembicaraan mereka semakikin dalam dan kehangatan di antara mereka juga kian terasa.


“Hai, Va!” Sapa seorang gadis yang duduk di sebelah Eva, “Ehm, kamu kemarin makan sama Zaki, kan? Kalian pacaran? Wah, parah ni Eva, gak crita-crita.”
“Lisa! Aneh-aneh aja deh. Tentu tidak. Kita saja tidak pernah dekat. Tahu sendiri kan bagaimana sikap Zaki ke aku kaya gimana?” Jawab Eva dengan nada  tinggi.
“Ya, itu dulu, Va. Mungkin saja sekarang ini, sejak kamu kembali satu kelompok sama dia, mana berdua pula, mungkin dia baru sadar kalau dia suka sama kamu. Dan dia sedang melancarkan aksi untuk mendekatimu,” jelas Lisa.
“Jangan berpikiran negatif. Makan kemarin itu hanya sebagai ucapan terima kasih karena aku telah mengerjakan tugas kelompok kami. Itu saja, tidak lebih.”
“Aku tdak berpikiran negatif,” jawab Lisa cepat, “Coba dengarkan, selama ini Zaki hampir tidak pernah ambil alih dalam tugas kelompok. Tapi dia tidak pernah ada acara traktir menraktir seperti itu. Bisa jadi, kamu mempunyai posisi khusus di hatinya. Aku hanya menerka-nerka.”
“Sebenarnya, Zaki itu baik. Di balik sikapnya yang cuek, tersimpan hatinya yang mulia.”
“Apa kamu naksir Zaki?”
Eva terkejut dengan pertnyaan itu, “Hah? Bukannya dia sudah punya pacar? Yang sekarag sekolah di Yogya?”
“Siapa maksudmu? Febri?”
“Ya. Seperti itu yang pernah aku dengar.”
“Ah, itu sih cerita lama. Sekarang ini khan dia berpacaran sama anak kelas sebelah,Rania. Kamu tidak tah?”
“Hass! Pernah memang aku mendengar berita macam itu. Tapi aku tidak peduli siapa pacarnya siapa. Yang penting aku sekolah dengan aman dan damai. Oh, ya. Kalau kamu tahu Zaki pacaranya Rania, kenapa kamu masih sempat-sempatnya meledekku?”
“Karena ku rasa kamu sagat cocok dengan Zaki.”
Eva dan Zaki lebih sering bertengkar dari pada akurnya. Aneh sekali jika tiba-tiba ada orang yang mengatakan mereka cocok menjadi pasangan. Gila.
Suatu hari, Eva, Lisadan Adit datang ke rumah Zaki untuk mengerjakan praktik membuat tape ketan hitam yang memang hanya bisa dilaksanakan di rumah. Rumah Zaki dianggap paling strategis sebagai tempatnya.
“Wah, ada teman-temannya Zaki. Ayo masuk!” ajak Tante Marni, mama Zaki.
“Ya, Tante. Terima kasih,” jawab Adit.
“Oh, ya, Adit. Yang perempuan ini namanya siapa? Kalau ini Lisa, kan? Temannya Zaki sejak SMP? Belum pernah ke sini ya? Saya Marni, Mamanya Zaki.” Katanya sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan dengan Eva.
“Saya Eva, Tante. Rumah saya Kali Rungkut. Dulu juga tidak satu SMP dengan Lisa dan Zaki, jadi memang belum pernah ke sini,”
“Oh, Eva. Cantik sekali. Jangan sungkan-sungkan di sini. Anggap saja rumah sendiri. Adit dan Lisa sudah sering kok main ke sini,”
“Ya, Tan.” Jawab Eva singkat.
“Tante tinggal ke dapur dulu, ya! Sebentar lagi Zaki juga datang dari warung.”
“Aduh, tidak usah repot-repot, Tante. Tadi kami sudah minum es campur di jalan,” Serobot Adit.
“Ah, kamu ini. Siapa juga yang mau membuatkanmu minum, Dit. Tante mau mencuci piring kok!” kata Tante Marni dengan senyumnya yang manis, tak kalah manis dengan senyum Zaki.

Assalamualaikum,” suara dari depan pintu.
Waalaikumsalam,” jawab Adit, Eva dan Lisa kompak. Dan melihat arah pintu. Ternyata Zaki.
“Kalian udah datang dari tadi? Maaf menunggu lama. Aku masih membeli ketan dan ragi.”
“Baru saja, Ki,” jawab Lisa.
“Kalau begitu ayo kita mulai. Lebih cepat lebih baik,” ajak Adit.
“Memang harusnya begitu,” sambung Eva.
“Ayo kita ke dapur. Sudah aku siapkan peralatan tempur kita. Haha!” kata Zaki penuh semangat.

“Kalau ada yang dibutuhkan, panggil saja tante. Itu cemilan dan minumnya tante letakkan di meja makan, ya,” kata Tante Mirna lembut.
“Terima kasih, Tante. Dijamin habis, deh!” kata Adit melawak.
Dua jam berlalu. Zaki, Adit, Eva dan Lisa yang sejak tadi memproses tape, masih sibuk dengan tahap akhir pembuatan tape. Tinggal dicampur ragi dan ditutup rapat. Selesai.
“Haduh, capei juga ternyata. Semoga rasanya enak,” ujar Zaki kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa kecil dekat pintu dapur.
“Pasti enak! Siapa dulu juru masaknya, Chef Eva,” kata Eva meninggikan hatinya.
“Huuuu. Apaan, Va. Chef dari langit turun ke empang?” celoteh Adit.
“Tapi dari tadi tante perhatikan Eva yang banyak bekerja di sini. Kamu sering masa, Va?” kata Tante Mirna yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Ya, Tan. Dia jago masak. Setidaknya lebih jago dari pada saya. Karena memang saya belum bisa memasak. Hehee,”  serobot Lisa.
“Bener, Eva?” tanya Tante Mirna.
“Kalau yang Lisa tidak bisa masak itu benar. Tapi kalau saya jago masak itu salah. Mungkin Cuma biasa bantu-bantu mama di dapur kalau hari minggu. Soalnya Senin sampai Sabtu, dari pagi sampai sore sekolah. Tidak sempat bantu-bantunya. Masalah saya yang paling aktif tadi, itu karena saya sudah pernah membuat tape ketan dulu sekali,”
“Tapi kamu sering dipercaya jadi juru masak jaman SMP dulu di pramuka. Pernah menang juga, kan?” sanggah Lisa.
“Wah, hebat kamu, Va,” kata Adit kagum.
“Ah, tapi lebih sering gagalnya. Masak nasi tidak matang, goreng tahu gosong, masak sayur hambar, dan lain sebagainya,” kata Eva.
“Itu dinamika memasak, Va. Dari kesalahan itu kamu akan tahu solusi untuk memasak lebih baik lagi,” tutur Zaki.
“Tau apa, Zaki, sayang? Kamu masak air saja gosong terus. Sampai sekarang. Mama sampai heran,” kata Tante Mirna.
“Ih, Mama. Buka aib anak sendiri. Itu karea Zaki memang tidak punya passion masak, Ma. Terima saja. Tapi Zaki punya banyak kelebihan lain. Tenang, Ma,” Zaki menjelaskan dengan senyumnya yang selalu merekah.
Mereka berbincang-bincang hingga sore. Tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00. Dan saatnya bagi Adit, Lisa, dan Eva untuk pulang.
“Makasih, ya, kalian sudah mau datang ke sini. Kalau mau main ya silahkan sesuka hti kalian. Apa lagi Eva yang belum pernah ke sini. Sering-sering saja, biar lebih akrab dengan tante,”
“Ya, Tante. Kalau ada waktu dan temannya sama main ke sini. Tapi nanti takutnya pacarnya Zaki marah bagaimana?” kata Eva.
“Ah, khan kamu ke sini menemui tante. Bukan menemui Zaki. Kamu anaknya asik, tante suka saja,” jawab Tante Mirna terlihat gembira.
“Hehe, iya. Ya sudah, kalau begitu kita pamit, ya. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,” jawab Tante Mirna dan Zaki kompak, dan melihat Adit dan yang lainnya pergi hingga tak terlihat lagi.
“Zaki, mama suka sekali denga Eva. Dia baik, lucu, menyenangkan, pintar masak, tidak suka aneh-aneh, benar-benar menantu idaman,” ujar Tante Mirna sambil senyum-senyum sendiri.
“Mama khan baru bertemu dia sekali. Mama belum tahu sih Eva itu seperti apa. Dia itu menyebalkan, sangat menyebalkan. Lagi pula, Zaki khan sudah punya Rania, yang lebih cantik dan lebih pintar dari Eva,”
“Kamu itu sudah dibutakan oleh Rania. Cantik dan pintar secara akademik tidak akan menjamin, Zaki,” jawabnya santai. “Hei, yang suka Eva khan mama, mama tidak memintamu untuk menyukai Eva juga dan meninggalkan Rania. Tapi ingat, kebaikan yang tulus dan yang yang hanya kepura-puraan itu terlihat,” tambahnya.
“Maksud, Mama?” Zaki heran.
“Coba perhatikan, Eva berbicara, bertingkah laku, melakukan sesuatu dengan apa adanya, kelembutannya, terlihat jelas ia melakukannya dengan tulus dan senang hati, tergambar di wajahnya bagaimana kebersihan hatinya tanpa bibirnya mengatakan. Yang dia lakuka itu tanpa maksud apapun dan benar-benar itulah dia. Tanpa ditutup-tutupi dia memang orang baik,” jelas Tante Mirna. “Sekarang, bagaimana dengan Rania? Mama sudah beberapa kali bertemu dengannya, dan yang Mama rasakan sama. Seolah apa yang dia lakukan adalah sebuah drama, dia berada dalam kehidupan  yang bukan dirinya. Sikapnya yang baik dan lembut, bukanlah dari hatinya. Tapi hanya dari akalnya. Dia memang orang baik, tapi sikap yang dia tunjukkan tidaklah sebaik jati dirinya. Dapat Mama rasakan keberlebihan dari kepura-puraan itu, Ki,” tambahnya.
“Kenapa Mama bisa berkata begitu? Atas dasar apa? Kenapa Mama malah menjelek-jelekkan Rania?” tanya Zaki heran.
“Mama tidak menjelekkan Rania. Tapi ini kenyataan. Kau lupa, Mama ini suka mempelajari ilmu psikologi? Ya, biarpun hanya dari membaca buku, tapi banyak hal yang Mama tahu. Apalagi dari dirimu, anak Mama sendiri. Bahkan yang tidak kamu ketahui,”
“Maksud, Mama?”
“Sudahlah. Suatu saat kamu akan menyadarinya,” katanya lalu pergi ke kamar.
*****
Hari silih berganti. Ujian nasional kelas XII juga telah dilaksanakan. Para siswa kelas XII diliburkan beberapa saat untuk menyegarkan pikirannya kembali sebelum mendapat tambahan materi tes masuk perguruan tinggi.
“Lis, main ke rumahnya Zaki, yuk!” ajak Eva pada Lisa.
“Mau ngapain? Cie... yang dipuji-puji sama Tante Mirna. Pengen dipuji lagi nih?”
“Bukan begitu. Dulu aku janji mau main ke sana. Ayolah, temani aku. tidak enak kalau pergi sendirian. Ya? Kamu sahabatku yang paling baik, kan?”
“Uhm, baiklah. Kapan? Jam berapa? Naik apa?”
“Minggu depan saja, deh. Info lebih lanjut menyusul. Bagaimana?”
“Uhm, baik. Aku tunggu kabar darimu,”
Siang yang cerah itu Eva menjemput Lisa di rumahnya untuk berangkat ke rumah Zaki. Setibanya di sana mereka disambut oleh Tante Mirna dan Om Zainal, papa Zaki.
“Ini loh, Pa, si Eva yang sering Mama ceritakan,”
“Wah, cantik sekali. Bahkan lebih cantik dari yang ada dalam cerita da dengan segala penjelasan Tante Mirna terlihat sesuai dengan kamu, Va,” ujar Om Zainal.
“Ah, biasa saja, Om. Memangnya Tante Mirna cerita apa?”
“Haha, rahasia. Oh, hai Lisa! Apa kabar? Makin cantik saja. Tapi juga makin item,” canda Om Zainal.
Mereka masuk ke rumah. Berbincang-bincang dan bercanda sepanjang siang. Mulai dari cerita jaman SMA dulu, kisah sehari-hari, sampai rencana Lisa dan Eva melanjutkan kuliahnya. Tapi, dari tadi tidak terlihat Zaki. Ternyata dia sedang berkunjung ke rumah saudaranya di luar kota. Setelah makan siang, Eva dan Lisa berpamitan pulang.
“Tante dan Om senang sekali kalian bisa meluangkan waktu berkunjung kemari. Setiap hari ke sini juga tidak masalah, ya, Pa?” kata Tante Mirna.
“Ya, tentu saja boleh,”
Semuanya tertawa bahagia. Eva dan Lisa pun melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Zaki dengan senyum yang merekah.
Tibalah hari perpisahan kelas XII. Saat itu Eva dan ibunya bertemu dengan Tante Mirna. Mereka berbicara dengan akrab. Dan semudah itu mereka menjadi dekat. Rania yang melihat hal itu jujur saja merasa iri. Tidak pernah sekalipun Tante Mirna seakrab itu dengannya, terlebih dengan orang tua Rania.
“Ran, kenapa? Apa yang kamu lihat?” tanya Zaki yang tiba-tiba muncul di samping Rania.
“Aku melihat mamamu. Dia terlihat sangat dekat dengan Eva. Apa Eva sering ke rumahmu?”
“Pernah, bukan sering. Waktu mengerjakan tugas membuat tape. Dan sekali setelah UN kemarin mamaku menyukainya karena dia orang yang transparan, apa adanya, dan mudah menyesuaikan dengan orang di sekitarnya sekalipun baru kenal,”
“Kenapa kamu jadi memujinya?” tanya Rania sinis.
“Bukan aku yang memujinya, tapi mamaku,”
“Apa kau menyukainya?”
“Apa maksud perkataanmu? Tentu tidak. Mamaku yang menyukainya,” jawab Zaki terbata-bata.
“Tapi bukan itu yang aku rasakan. Memang mamamu menyukainya, tapi kau malah mencintainya,” tuduh Rania.
“Apa? Kenapa kamu justru menuduhku? Ragukah kamu dengan cintaku? Jika tak ada lagi kepercayaan di hatimu untukku, sia-sialah cintaku untukmu,” Zaki langsung meninggalkan gadis cantik di sampingnya tadi tanpa mempedulikannya teriakannya sama sekali dan mengajak mamanya pulang.
Sejak kejadian itu, Zaki yang terluka hatinya karena dituduh oleh Rania mulai renggag hubungannya degan kekasihnya itu. Mereka sekarang lebih sering bertengkar, tapi akhirnyapun baikan lagi. Begitulah seterusnya. Bertengkar, dan baikan.
Namun ketika di perguruan tinggi, Zaki dan Rania yang berada di kota berbeda semakin jarang sekali bertemu. Mereka hanya berkomunikasi lewat media elektronik. Itupun kalau ada waktu dan tidak sibuk dengan tugas-tugas kuliah. Zaki mencoba untuk tetap menjaga keharmonisannya dengan Rania. Tetapi entah bagaimana, Rania tidak seperti duu lagi. Dia terlalu sibuk dan tidak memperhatikan Zaki.
Suatu malam di bawah sinar rembulan yang redup, Zaki teringat Eva. Apa kabar Eva? Sudah satu setengah bulan mereka tidak berkomunikasi. Tiba-tiba, handphone Zaki berbunyi. Ya, itu Eva. Dia menanyai kabar teman-temannya semasa SMA, termasuk Zaki. Zaki senang sekali, secara tidak sengaja bisa pas begitu. Zaki membalas pesan itu, saling bercerita tengtang kuliah, suasana baru di kota yang berbeda, dan banyak hal lainnya. Mereka berduapun hanyut dalam heningnya malam itu.
Dua tahun di bangku kuliah berlalu. Suatu hari, Zaki bertengkar hebat dengan Rania. Rania yang semula sangat baik, ramah, lembut dan perhatian, lama kelamaan berubah menjadi protektif tapi acuh, suka membentak, selalu menyangkal perkataan Zaki, dan merasa paling berkuasa dalam hubungan itu.
“Kamu benar-benar keterlaluan. Masalah sepele seperti ini saja kamu perumit. Aku eran dengan dirimu. Hatimu itu keras. Tidak mau menerima perkataan orang lain dan berbuat seenakmu. Selama ini aku mencoba sabar menghadapimu, dan aku harap aku bisa memperbaiki akhlakmu. Nyatanya, hatimupun terlalu keras untuk itu,” jelas Zaki dengan nada tinggi saat liburan dia bertemu Rania.
“Apa maksud perkataanmu?”
“Ternyata benar kata mama, harusnya aku mendengarkannya,”
“Apa kata mamamu?”
“Apa yang ada dalam dirimu, kebaikanmu, kelembutanmu, itu hanya sandiwara belaka. Terbukti sekarang. Mungkin aku tidak patut mengatakan ini, tapi yang jelas, aku menyesal menjalin hubungan yang penuh dengan kepura-puraan ini,”
“Kepura-puraan?” Rania terkejut.
“Benar. Selama ini aku hanya pura-pura mencintaimu. Aku merasa kesepian, dan aku butuh cinta. Aku tahu saat itu kamu menyukaiku. Maka dari itu, aku mendekatimu. Barang kali aku bisa mencintaimu dengan kecantikan dan kebaikan yang kau tunjukkan. Hampir saja aku bisa melakukannya, tapi kau menghancurkan semua itu dengan jati dirimu. Keangkuhan hatimu dan kepura-puraan sikap manismu. Maafkan aku karena melakukan ini padamu. Tapi, sudah cukup baikkan aku sebagai pacarmu? Dan yang terpenting, maafkan aku karena tak lagi bisa menjadi pacarmu. Terima kasih atas semuanya,”
“Zaki, apa-apaan ini? Maksudmu, kita putus? Kamu tidak mencintaiku lagi? Uhm, kamu tidak pernah mencintaiku? Maafkan aku jika aku salah, tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. aku mencintaimu, Zaki,” Rania manangis.
“Aku bukan manusia sempurna. Tempat dimana ada maaf untukmu sudah habis. Aku yakin, suatu hari nanti kau akan mennemukan lelaki yang lebih kau cintai dan tentunya lebih baik dari aku. Maafkan aku, Rania. Aku sudah tidak bisa lagi,”
“Apa kau punya gadis lain? Dan semua ini hanya alasanmu?”
“Kau selalu tak percaya padaku. Itu yang paling tidak aku suka,” jawab Zaki santai. “Ini sungguhan. Sesungguhnya, aku mendekatimu karena aku gagal mendekati gadis yang aku cintai. Aku kira kamu bisa menggantikannya, ternyata tidak,” sambungnya.
“Kau kira, aku barang substitusi seperti itu?” tangisan Rania semakin menjadi.
“Aku minta maaf. Dan atas segala perbuatanmu yang telah mengecewakanku, aku telah memaafkannya. Kita putus. Dan sekarang aku harus pergi. Terima kasih, Rania sayang,” kata Zaki dan langsung pergi.
“Zaki! Zaki! Zakiiii!” teriak rania, namun tak ada tanggapan.
Beberapa hari berlalu. Sesungguhnya hati Zaki masih tidak enak dengan kejadian kemarin, memutuskan Rania. Tapi mungkin itu yang terbaik. Ia tidak bisa membohongi Rania, apa lagi perasaannya sendiri lebih lama lagi. Untuk mengurangi kerisauannya, Zaki pergi ke sebuah rumah makan dekat SMAnya yang sering ia datangi bersama teman-teman sekelasnya dulu. Dia duduk sendirian di sudut ruangan. Menunggu pesanan sambil melamun.
“Hai!” teriak seorang keras dan menepuk pundak Zaki.
“Loh, Eva. Di sini juga?” Zaki sangat terkejut.
“Ya. Ingin nostalgia jaman SMA. Haha,”
“Bagaimana kuliahmu? Semesterannya gimana? Asik?”
“Waduh, benar-benar menggila pokoknya. Tapi, syukurlah, sejauh ini baik-baik saja. Kamu sendiri?”
“Pastinya tidak jauh berbeda denganmu, Ki. Oh, ya. Tante Mirna baik?”
Alhamdulillah, baik,
“Lalu, bagaimana dengan Rania?”
“Kita sudah putus, tiga hari yang lalu,” kata Zaki datar. Tapi mampu membuat Eva terkejut maksimal.
“Bagaimana bisa? Kalian sudah bersama sangat lama,”
“Ini pesanannya. Selamat makan,” ujar pelayan. Membuat Zaki megurungkan niatnya untuk bercerita.
“Zaki, ayo cerita! Setelah makan kamu pokoknya harus cerita,” desak Eva.
“Kamu gitu, ya? Suka maksaya tidak pernah hilang. Sudah, aku ingin menikmati makananku dan melupakan gadis cantik itu. kapan-kapan saja kalau ada waktu yang tepat, aku akan cerita,”
Eva bercerita kepada Lisa tentang pertemuannya dengan Zaki. Lisapun juga terkejut mendengar berita itu.
“Aku sangat terkejut, Lis. Antara senang dan kaget, membuat aku bingung dan lidahku beku saat itu,”
“Tunggu, Va. Kenapa kamu senang?”
“Uhm,” Eva menghela napas panjang. “Ada hal yang aku pendam selama ini dari semua orang. Bahkan kamu, sahabat terdekatku,”
“Maksudmu?” Lisa menggerutkan dahi.
“Selama ini aku mencoba diam, memendam rasa itu dalam-dalam agar tidak muncul ke permukaan. Tapi aku kini mulai tak tahan menekannya,”
“Lama!” sela Lisa.
“Sejak kelas X, aku jatuh cinta pada Zaki,”
“Hah! Apa aku salah dengar?”
“Tidak. Aku sangat mengagumi Zaki atas segala apa yang ada padanya,”
“Lalu kenapa selama itu kamu justru seolah memusuhinya?” tanya Lisa heran.
“Itu semua karena aku tidak ingin rasaku terlalu dalam. Kau tahu prinsipku, aku tidak akan berpacaran sebelum aku yakin dialah yang akan menjadi jodohku. Tapi Zaki, dia tak mau pergi dari hatiku hingga enam tahun ini. Senyumannya yang selalu menguatkanku. Senyuman air surga itu. aku tak bisa bohong bahwa aku mencintainya,” Eva meeteskan air mata. Lisa hanya diam. “Saat itu aku tak ingin dia tahu perasannku. Dan akupun tak menyangka, takdir benar-benar berpihak kepadaku. Semua jalan menjauhkan kita, dan dia berpacara dengan Rania. Aku sakit sekali. Tapi aku memilih untuk tetap diam. Diam sediam-diamnya,” sambungnya.
“Astaga, Eva. Lalu apa rencanamu kedepannya? Tidakkah kau membuka hati untuk orang lain?”
“Sudah aku coba, tapi gagal. Dan aku mulai lelah. Aku hanya akan diam. Menunggu takdir apa yang akan menghampiriku.”
“Aku mohon kau tetap berusaha. Semoga kebaikan menyertaimu.”
Dua tahun setelah hari kelulusan, Lisa menikah. Di sana semua teman SMAnya berkumpul. Termasuk Eva dan Zaki, tentu saja. Belakangan ini, Zaki, Eva, dan teman-teman SMA lainnya semakin dekat kembali setelah lulus kuliah dan kembali ke kota asal. Sesungguhnya hal itu membuat hati Eva senang sekaligus menyiksanya. Ia bisa melihat lagi orang yang dia cintai, melihar senyum air surga yang menyejukkannya di tengah-tengah kebisuan dan ketidak berdayaannya.
“Eva, jangan murung begitu. Ini hari bahagiaku. Tidakkah kau bahagia?” timpal Lisa.
“Tentu aku bahagia. Sangat bahagia. Aku hanya sedang membayangkan betapa bahagianya jika aku menjadi dirimu, Lis.”
“Ya, semoga sesegera mungkin. Aku selalu mendoakanmu, sayangku Eva,”
“Hei, ini ibu-ibu ngrumpi saja?” serobot Zaki.
“Ini, ini kebiasaan. Suka ikut campur dan reseknya tidak sembuh-sembuh,” kata Eva kesal.
“Loh, yang seperti ini yang dicari banyak wanita, Va. Kamu ini bagaimana? Masa tidak tahu? Harusnya kamu bangga punya teman seperti aku,” canda Zaki. Mereka semua tertawa lepas tanpa beban.
Acara berlangsung lancar dan sukses hingga selesai.
“Eva, tunggu,” teriak Zaki mengejar Eva yang akan pulang.
“Kenapa, Ki?”
“Uhm, ini. Bagaimana kalau akhir pekan nanti kita makan di rumah makan dengan sekolah. Aku yang traktir. Bagaimana?”
“Wih, tumben. Ada apa ini? Pajak jadian sama siapa?”
“Jadian apa lagi? Seperti ABG saja. Tidak ada apa-apa. Ingin saja. Ya. Bagaimana?”
“Baik. Jam berapa?”
“Sore saja, ya. Nanti aku jemput. Dag!”
“Dag! Sampai jumpa.”
Tibalah hari di mana Eva dan Zaki janjian.
“Ki, kamu bilang dulu akan bercerita. Ayo, kapan?”
“Uhm, ini saat yang tepat. Lagi pula, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Tentang apa?”
“Dengarkan dulu ceritaku!”
Zaki menceritakan semua kejadian dalam hubungannya dengan Rania. Eva tertegun mendengarkannya.
“Jadi, kamu? Kenapa kamu lakukan itu padanya?”
“Pikiranku buntu saat itu. Gadis yang aku cintai dia sangat jauh denganku. Lagi pula, dia seolah anti dengan yang namanya pacaran. Dia benar-benar memegang erat komitmennya itu. Dia seolah terkurung, bahkan mengurung dirinya dalam sangkat dengan posisi terikat. Tidak ada kesempatan bagiku untuk mendekatinya. Sekarang aku menyesal, kenapa aku tidak menunggunya.”
“Apakah dia sudah menikah?”
“Belum. Tapi hatiku, hatiku telah terodai oleh kebohonganku pada Rania. Dan sekarang aku ingin memperjuangkan dan merebut cinta gadis itu untukku, gadis yang tak pernah lepas dari pikiranku.”
Eva hanya diam. Melihat lelaki yang dicintainya terlihat begitu mencintai gadis lain. Sorot matanya berbicara betapa dalamnya rasa cinta itu. Mungkin, senyum air surga itu suatu saat nanti akan pahit baginya. Pikir Eva.
“Kalau aku boleh tahu, siapakah gadis itu?” tanya Eva lembut tapi penuh dengan tanda tanya.
Zaki hanya diam. Memandang Eva tajam, begitu pula sebaliknya. Pandangan yang penuh dengan teka-teki. Sesuatu terasa telah menekan jantung Eva sehingga tidak bekerja dengan baik.
Tiba-tiba Zaki menarik napas panjang. Dan kemudian berkata dengan perlahan, “Gadis itu adalah, dirimu, Eva. Aku mencintaimu bahkan tidak kamu ketahui.”
Eva terkejut bukan main. Bumi seolah berhenti pada saat itu. inikah yang namanya mimpi? Eva hanya diam terkejut.
“Eva, aku sungguhan. Terserah apa, tapi yang jelas aku mencintaimu. Dari dulu, hingga detik ini dan tidak berkurang sama sekali. Justru semakin bertambah. Maukah kamu menikah denganku?”
Pertanyaan Zaki itu membuat Eva menitihkan air mata.
“Zaki, sesungguhnya aku juga mencintaimu. Asal kau tahu, aku mencintaimu sejak kita kelas X. Dan aku menjauhimu serta seolah membencimu agar aku bisa menjaga hatiku. Aku mencintaimu, sepenuh hatiku, segenap jiwaku. Dan aku sama sepertimu, mencoba melupakanmu tapi tak mampu. Karena hatiku telah memilihmu. Bagiku, kaulah lelaki terbaik bagiku, imam yang mampu membahagiakanku dunia dan akhirat. Itulah yang menjadi keyakinanku,” kata Eva dengan harunya.
Zaki tersenyum lebar, “Jadi, maukan kamu menjadi ibu dari anak-anakku? Menjadi bidadari dalam kehidupanku? Mencintai dan menemaniku hingga akhir hayatku?”
Eva menitihkan air mata. Dan menganggukkan kepalanya tanda ia menyetujui itu. Saat itu terasa angis sejuk memeluk tubuhnya. Melihat senyum bak air surga yang mengguyur hidupnya kala itu, membuatnya terbang dalam kebahagiaan.
Eva dan Zaki memutuskan untuk hidup bersama. Menjalin mahligai rumah tangga yang indah. Tiada yang menyangka ini semua terjadi. Bahkan Lisa, sahabat terdekat Eva.  Tiada yang menandingi kuasa Tuhan. Menyatukan dua insan dengan jalannya yang indah. Itulah kisah Eva dan Zaki, sang pemilik semyum air surga. ~LCM~