Keterangan : - var numfeed = 5; adalah jumlah artikel yang ditampilkan - var charac = 100; adalah jumlah karakter atau huruf pada setiap post - silahkan ganti Url Blogger Bondowoso dengan URL blog anda

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 30 Mei 2017

Cinta di Hidupku



Waktu silih berganti. Duniakupun berubah. Banyak hal yang tak lagi sama. Begitu pula hatiku. Aku terpikat pada sosok yang berbibawa, bijaksana, tegas, tapi tetap bersahaja. Dia seorang yang baru kukenal, teman ospek kampus saat kami mahasiswa baru. Awalnya, aku hanya berdecak kagum dengan kepribadiannya yang kalem tapi tetap tegas, mengayomi, bijaksana dan humoris, serta selalu bisa menghidupkan suasana. Sejak 3 bulan lalu, seiring kami makin dekat meskipun kami tidak dalam satu jurusan, aku menyadari bahwa aku menyukainya. Dia begitu baik sehingga aku begitu nyaman dekat dengannya. Kami sering bercerita berdua, saling berbagi pengalaman, bercanda, hingga belajar mata kuliah umum. Namun semua itu tak berlangsung lama. Dia diterima pendidikan penerbangan yang menjadi impiannya sejak kecil, hingga akhirnya memutuskan meninggalkan kampus kami.
“Ini, simpan saja kartu peserta ospek milikku hasil cetakanmu. Simpan untuk kenang-kenangan dariku,” Ujar Raihan seusai makan malam perpisahan bersama kelompok ospek kami dulu.
Aku tersenyum tipis, “tidak menguntungkan ini, Han. Tambah uang jajan saja,”
“Arini, itu sangat menguntungkan. Bisa menjadi obat rindumu padaku,” Candanya.
Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi hingga aku naik ke tingkat 2. Kami masih sering berkomunikasi seperti dulu, masih terus berbagi cerita. Dan satu hal yang pasti, perasaanku masih sama padanya bahkan semakin dalam. Aku tahu, diapun tahu, pacaran bukanlah hal penting dalam hidup kami. Lebih menyenangkan jika berteman baik saja.
Memasuki tahun kedua perkuliahan, kesibukanku bertambah, mungkin dia juga, sehingga kamipun mulai jarang berkomunikasi. Waktuku banyak tersita di organisasi. Takdir menyeretku mendekat dengan seorang teman senagkatanku, kepala divisi di organisasiku, Haidar. Kedekatana kami di organisasi menjadikan kami dekat dalam hal lain. Dia baik. Seorang pemimpin yang sangat bertanggungjawab, tegas, sabar, dan menyenangkan. Jujur aku mengaguminya sebagai bawahannya. Darinya, aku bisa mempelajari banyak hal dalam kehidupan ini. Sosoknya yang kebapakan sangat menginspirasi.
Semakin lama, semakin jarang pula aku berhubungan dengan Rahan, hanya sesekali di kala waktu senggang. Jujur saja aku belum sepenuhnya melupakan rasaku padanya, kendati aku mendapati Haidar yang semakin mendekatiku. Bahkan ketika hari kelulusan, dia mengatakan hal yang mengejutkanku.
“Rin, kamu mau menunguku?” Tanyanya padaku.
“Menunggu? Maksudnya? Iya, aku masih belum pulang kok,” Jawabku bingung.
“Bukan itu. Aku tahu bahwa pacaran bukanlah orientasimu. Aku tahu kau takut dituntut dan dikecewakan dengan status itu. Akupun takut akan mengecewakanmu. Jadi aku mohon padamu, tunggu aku hingga aku siap untuk semuanya.”
Aku hanya diam menatapnya, mencoba mencerna perkataannya. Aku takut salah mengartikan.
“Aku menyukaimu, sejak dulu. Aku ingin bersamamu, namun sekarang belum tepat. Banyak hal yang harus kusiapkan dan kuwujudkan. Kaupun demikian, pasti banyak hal yang ingin kau capai dahulu,” sambungnya.
Astaga, aku mulai memahami perkataannya. Aku tak tahu harus berkata apa saat itu. Aku benar-benar bingung. Haidar baik dan bisa dikatakan suami idaman, aku menyukainya tapi hanya sebatas teman. Di sisi lain, aku masih sangat mengagumi Raihan, meskipun entahlah rasa sayang itu masih ada atau tidak.
“Haidar, kamu baik. Kamu pasti akan mendapatkan seorang yang baik dan paling tepat untukku, entah aku atau perempuan lain,” kataku setelah lama terpaku.
“Apakah ini artinya kamu menolaku?” tanyanya kaku.
“Hm, bukan begitu, Dar. Aku menyukaimu, kamu teman yang sangat baik. Jangan membatasi jodohmu, Haidar. Kamu punya banyak sekali kesempatan untuk mendapatkan orang yang lebih baik daripada aku, kamu tidak perlu berpaku padaku. Selamat berjuang, Haidar.”
Sejak hari itu, aku tidak bisa berhenti memikirkan Haidar. Kami masih sering berkomunikasi lewat sosial mesia. Dia sibuk bekerja di sebuah perusahaan kontraktor sementara aku melanjutkan pendidikan pasca sarjanaku di Malaysia. Aku menyukai sosoknya, dia pekerja keras yang handal. Namun aku juga mengharap Raihan kembali, meskipun kecil sekali kemungkinannya mengingat kini kami sudah jarang berhubungan. Seharusnya dia sudah lulus pendidikan sejak setahun yang lalu, aku sempat mendengar dia dipercaya di sebuah maskapai penerbangan ternama.
Setelah aku lulus pendidikan pasca sarjanaku, aku mengajar di kampusku dulu. Melihat anak gadis bungsunya yang selalu sendiri, menimbulkan keresahan di hati ayah dan bundaku.
“Dek, kapan ngenalin calon ke ayah sama bunda?” Tanya ayahku setelah makan malam.
“Iya, Dek. Bunda pengen punya mantu laki-laki nih. Kan sekarang Arini juga sudah cukup dewasa, pekerjaan ada, apa tidak ada laki-laki yang kecantol?” Imbuh bunda.
Kedua kakak lekakiku sudah berumah tangga sendiri. Kak Zaki menikah 5 tahun lalu dan kini tinggal bersama dengan isterinya di kota sebelah. Kakakku yang kedua, Kak Lukman, baru menikah 3 bulan yang lalu dan masih tinggal bersama ayah dan bunda. Dia dan isterinya masih menunggu pembangunan rumahnya tak jauh dari rumah kami.
“Mau Kakak kenalkan teman Kakak, Dek?” Canda Mbak Risti, isteri Kak Lukman.
“Hehe, apa sih Kak. Ayah nih mancing-mancing,” jawabku malu.
“Oh iya, Risti memberiku ide. Ayah tadi bertemu kawan lama Ayah. Seingatku dia punya anak lelaki seusiamu. Dulu sih pas masih kecil dia ganteng, coba ah nanti Ayah tanya lagi.”
Keesokan harinya, aku, ayah, dan bunda pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan. Tiba-tiba ayah menghentikan mobil di depan sebuah cafe.
“Ayah mau ketemu kawan lama Ayah, kalian pulang saja dulu. Nanti Ayah pulang naik ojek saja,” kata Ayah bahkan sebelum aku dan bunda bertanya.
“Kawan lama siapa, Yah?” tanya bunda.
“Kawan lama yang spesial, nanti juga tahu,” katanya bangga. “Rin, kamu yang bawa mobilnya, ya!”
Aku melihat ayah masuk menemui seorang lelaki seusianya, badannya tinggi gagah, tapi wajahnya tak begitu jelas. Aku tertegun, jangan-jangan itu kawan ayah yang dibicarakan semalam. Kutanya bunda, pun bunda tak tahu. Dua jam kemudian ayah pulang.
“Bunda, lusa Bunda masak yang banyak dan istimewa, ya? Arini juga, tolong suruh Kak Zaki sekeluarga pulang. Kita akan kedatangan tamu istimewa,” kata Ayah penuh semangat.
“Tamu istimewa, Ayah? Siapa? Kawan lama Ayah tadi?” tanyaku penasaran.
“Kamu pasti akan terkejut, tunggu saja.” Perkataan ayah barusan membuat perasaanku tak enak.
Aku terdiam di gazebo kecil ujung rumah, menatap bintang-bintang ditemani semilir angin. Mendadak aku teringat Haidar, dua mingu lalu dia kembali menanyaiku tentang hubungan kami, namun aku masih belum siap dan belum yakin. Aku tahu Haidar lelaki yang baik dan bertanggungjawab, aku mencoba mencintainya, namun ternyata Raihan telah mengisi hatiku dan memiliki ruang tersendiri di sana. Saat aku mengingat Haidar, aku pasti teringat Raihan. Tiba-tiba Bunda datang menghancurkan lamunanku. Akupun menceritakan semua kisah yang selama ini kupendam. Tidak ada yang bisa memahamiku sebaik bunda.
Keesokan harinya, sepulang aku dari mengajar, ada mobil tak kukenal pemiliknya terparkir di depan rumahku. Kuintip dari depan, ada seorang bapak dan ibu yang sedang bercengkerama asik dengan keluargaku. Ayah melihatku.
“Arini, sini, sayang,” teriak ayah. aku masuk dan mengucapkan salam. “Kenalkan, ini Om Hasan dan Tante Salma, isterinya,” saambung ayah. Aku segera menyalami keduanya. “Om Hasan ini kawan spesial Ayah. Sebenarnya ada satu lagi yang harus dikenalkan, tunggu, Rai sedang ke kamar mandi.”
“Tunggu! Siapa? Rai?” tanyaku dalam hati, aku menatap ayah bingung.
“Duduklah, Dek! Jadi begini, Ayah berencana mengenalkanmu dengan Rai, putera Om Hasan, yaa barangkali kalian cocok,” kata Ayah kemudian menatapku dan terdiam sesaat. “Ah ini dia. Nak Raihan, ini putri kami paling cantik, Arini,” kata ayah mengejutkanku. Aku menoleh dan jauh lebih terkejut.
“Raihan!” teriakku, yang berhasil membuat seisi ruangan kaget.
“Kalian saling kenal sebelumnya?” tanya bunda heran.
Aku masih tidak bisa berkata apa-apa. Setelah bertahun-tahun aku tak pernah melihat Raihan, tahu-tahu dia ada di hadapanku dan akan dijodohkan denganku. Ini seperti mimpi. Benarkah dia Raihan yang kukenal dulu? Bagaimana bisa? Raihan yang tak pernah lagi berhubungan denganku dan yang rumahnya jauh dari kotaku tiba-tiba ada di sini? Siapa ini yang bisa menjelaskan?
“Arini, apa kabar?” sapanya. Aku masih diam. “Kami dulu satu kampus, Tante, sebelum saya ke sekolah penernangan. Kami berteman dekat sebelumnya. Dan jujur saja, saya sempat menolak tawaran Abi untuk dijodohkan dengan anak kawan lamanya karena saya telah mencintai seseorang. Tapi setelah Abi menyebutkan namanya, saya langsung mau.”
“Jadi gadis yang kamu maksud itu Arini, Rai?” tanya Om Hasan terkejut. Seluruh orang di ruangan tertawa, kecuali aku yang bingung. “Arini pasti bingung, ya? Jadi, saya dan ayahmu berteman dulu waktu SMA dan kuliah, lalu kami berpisah karena banyak alasan. Kebetulan, besok ada acara pernikahan anak adik saya di kecamatan sebelah. Bertemulah saya dan ayahmu untuk merencanakan perjodohan ini. Raihan bilang, dia mencintai seorang gadis di kota ini dan ingin mencari rumahnya akhir pekan ini karena mumpung ada di sini. Ternyata takdir mempercepat pertemuan kalian,” jelas Om Hasan.
Dalam hatiku bergumam takzim. MasyaAllah, sunguh luar biasa takdir yang Allah berikan. Orang yang selama ini aku harapkan juga memendam rasa yang sama, bahkan setelah bertahun-tahun kami tak bertemu. Akupun tidak ada alasan untuk menolak perjodohan ini. Sebulan kemudian, keluarga Raihan resmi melamarku. Pernikahan kami akan dilaksankan 6 bulan setelahnya. Sengaja dibuat agak lama karena kesibukan Raihan dan agar segala sesuatunya dapat disiapkan dengan sempurna.
“Terimakasih, Arini,” katanya memecah kesunyian sore itu setelah acara lamaran. Kami duduk berdua di gazebo depan rumahku. Aku hanya diam melihatnya. “Terima kasih telah mengizinkanku menjadi calon imammu. Terima kasih ternyata kamu menunguku,” sambungnya.
“Terima kasih juga telah memilihku. Aku merasa lucu, padahal kita sudah sangat lama tidak berhubungan. Dulupun, kita tak banyak mengenal lebih dalam, ternyata takdir Tuhan begitu indah,” ucapku menikmati senyumnya yang menyejukkan sekaligus mampu menghangatkan. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung dan paling bahagia kala itu.
Raihan tak pernah mencintai gadis lain selagi menunguku, dia selalu mencintaiku. Dengan fisik dan kemampanannya, menurutku pasti banyak gadis yang mengharapkannya. Aku merasa bersalah padanya, karena aku sempat mungkin menyukai seseorang sebelum akhirnya aku memilih dia. Tapi sudahlah, itu masa lalu. Yang jelas saat ini, aku sangat bahagia, aku mencintainya dan akan selalu memncintainya. Raihan selalu punya cara untuk membuatku jatuh cinta, bahkan setiap hari.
Waktu begitu cepat berlalu, persiapan pernikahan kami sudah 90%. Rasa debar semakin menghujamku. Satu bulan lagi aku akan resmi menjadi seorang isteri, di mana aku akan memasuki babak kehidupan yang baru. Kini tinggal seminggu menuju hari pernikahan kami. Undangan sudah selesai tersebar besok. Tapi Raihan baru bisa libur 2 hari lagi. Kenyataannya lain, ternyata kepulangannya diundur satu hari karena harus menggantikan pilot lain yang harus pulang kampung karena orang tuanya mendadak sakit keras.
“Rai, tidak adakah pilot lain? Pernikahanmu sudah sangat dekat loh!” ujar Abi pada Raihan saat kami melakukan panggilan grup.
“Iya, Han. Aku takut kamu kecapekan. Belum lagi katamu, kamu ingin mengantar undangan sendiri untuk kawan-kawan terdekatmu,” akupun khawatir.
“Tidak apa-apa, Abi, Rin. InsyaAllah baik-baik saja semua. Tidak ada pilot lain, Abi. Yang sudah terlanjur libur pulangnya jauh, kasihan kalau mendadak kembali. Lagi pula Cuma sekali penerbangan, dekat kok,” katanya menenangkan. “Untuk undangan, biar adik aja yang mengantar. Nanti akan aku telpon kawan-kawanku itu,”
Kamipun membiarkan Raihan terlambat pulang. Aku merasa sangat beruntung karena memiliki calon suami yang sangat sabar, setia, dan berhati besar. Meski jujur saja, aku sangat merindukannya.
Keesokan harinya, aku menikmati pagi yang sejuk dan cerah dari jendela kamarku. Tidak sabar menunggu calon suami yang sangat kucintai sejak lama akan kembali ke rumahnya malam ini. Tiga hari lagi pernikahan kami, aku semakin berdebar. Tiba-tiba aku dikejutan oleh teriakan bunda yang memanggilku dari ruang tengah.
“Rin, lihatlah! Ada kecelakaan,” kata bunda panik.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Tapi Bunda sangat mengejutkanku,” belum sempat aku melihat TV, bunda semakin histeris. Astaga, pesawat. Kecelakaan pesawat?
“Bukankah itu maskapai Raihan? Bukankah dia terbang ke kota itu?” tanya bunda gemetar. Sontak aku tercengang dan mematung. Aku berharap besar itu bukan Raihan. Kalaupun iya, pasti Raihan baik-baik saja. Dia sudah janji akan pulang. Tapi di luar kuasaku, akupun menangis histeris. Bunda segera menghubungi Abi Hasan.
“Apakah Mas Hasan sudah melihat berita kecelakaan pesawat di TV pagi ini?” tanya bunda, aku tidak tahu Abi memberikan jawaban apa. Wajah bundapun tidak memberi isyarat yang jelas, kosong. Bunda memberikan telpon padaku.
“Nak, yang kuat ya,” kata Abi dari jauh, beliau berusaha berkata sehalus mungkin. Tapi bagiku tetap saja itu tobak tajam yang sangat panjang menghantap jantungku. Aku menangis tersedu-sedu. Tak mampu berucap apapun. Apa yang sebenarnya terjadi pada calon suamiku? “Itu pesawat Raihan, Rin. Alhamdulillah Raihan selamat,” aku cukup lega mendengarnya, tapi tetap saja aku menangis dan bungkam. “Sekarang Rai dirawat di rumah sakit kota setempat. Abi, Umi, dan Dik Farhan sedang menuju ke sana. Kalau kau kamu, kami akan menghampirimu.”
Satu jam kemudian Abi sampai di rumahku. Aku, Ayah, dan Bunda yang pergi. Kami langsung berangkat dengan satu mobil. Perjalanan dari rumahku ke kota itu kurang lebih tiga jam. Selama perjalanan belum ada pembaharuan berita terkait keadaan Raihan. Aku semakin cemas.Sesampainya di sana, kami segera mencari ruangan di mana Raihan berada. Kami membuka sebuah pintu, terlihat Raihan lemas terkulai berdampingan dengan berbagai peralatan medis. Hatiku seolah terkoyak melihatnya. Seperti luka yang terbuka lebar. Abi dan Umi langsung menyambar memeluknya, menangisi keadaannya. Aku juga sangat ingin memeluknya. Aku melihat air mata jatuh dari matanya, mungkin dia merasakan kedatangan kami.
Dokter yang menangani Raihan berkata bahwa kondisinya sedang sangat kritis. Terjadi pendaharan di dalam otak yang dapat membahayakannya. Sesaat setelah Abi menandatangani persetujuan operasi, Raihan membuka matanya dan tersenyum melihatku. Senyum yang selalu aku rindukan. Senyum yang bisa menyejukkan sekaligus menghangatkan itu, kini sedikit memudar. Aku membalas senyumnya dengan linangan air mata. Seharusnya sekarang kami dibanjiri debar karena akan menikah. Tapi rencana Tuhan memang tak pernah bisa kita tebak.
Raihan terlihat ingin mengatakan sesuatu. Aku memandangnya lebih dekat. Aku tahu dia sangat kesakitan. Tapi aku masih bisa dengan jelas merasakan senyumnya yang penuh cinta.
"Aku sangat mencintaimu, Arini.Hiduplah dengan baik dan selalu bahagia."
Tak kusangka itu menjadi kalimat terakhir yang Raihan ucapkan untukku. Meski lirih, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Kalian tahu, jika sebelumnya kubilang perasaanku seperti luka yang menganga lebar, kini luka itu justru tersiram air garam. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku merasa tersesat, hanya bisa kupasrahkan hidupku pada Tuhan. Hari itu, aku adalah sehancur-hancurnya aku. Hari yang harusnya menjadi hari terbahagia dalam hidupku, pernikahan kami, justru menjadi hari pemakamannya, calon suamiku.