Waktu silih
berganti. Duniakupun berubah. Banyak hal yang tak lagi sama. Begitu pula
hatiku. Aku terpikat pada sosok yang berbibawa, bijaksana, tegas, tapi tetap
bersahaja. Dia seorang yang baru kukenal, teman ospek kampus saat kami
mahasiswa baru. Awalnya, aku hanya berdecak kagum dengan kepribadiannya yang
kalem tapi tetap tegas, mengayomi, bijaksana dan humoris, serta selalu bisa
menghidupkan suasana. Sejak 3 bulan lalu, seiring kami makin dekat meskipun
kami tidak dalam satu jurusan, aku menyadari bahwa aku menyukainya. Dia begitu
baik sehingga aku begitu nyaman dekat dengannya. Kami sering bercerita berdua,
saling berbagi pengalaman, bercanda, hingga belajar mata kuliah umum. Namun
semua itu tak berlangsung lama. Dia diterima pendidikan penerbangan yang
menjadi impiannya sejak kecil, hingga akhirnya memutuskan meninggalkan kampus
kami.
“Ini, simpan saja
kartu peserta ospek milikku hasil cetakanmu. Simpan untuk kenang-kenangan
dariku,” Ujar Raihan seusai makan malam perpisahan bersama kelompok ospek kami
dulu.
Aku tersenyum
tipis, “tidak menguntungkan ini, Han. Tambah uang jajan saja,”
“Arini, itu sangat
menguntungkan. Bisa menjadi obat rindumu padaku,” Candanya.
Sejak saat itu
kami tidak pernah bertemu lagi hingga aku naik ke tingkat 2. Kami masih sering
berkomunikasi seperti dulu, masih terus berbagi cerita. Dan satu hal yang
pasti, perasaanku masih sama padanya bahkan semakin dalam. Aku tahu, diapun
tahu, pacaran bukanlah hal penting dalam hidup kami. Lebih menyenangkan jika
berteman baik saja.
Memasuki tahun
kedua perkuliahan, kesibukanku bertambah, mungkin dia juga, sehingga kamipun
mulai jarang berkomunikasi. Waktuku banyak tersita di organisasi. Takdir
menyeretku mendekat dengan seorang teman senagkatanku, kepala divisi di
organisasiku, Haidar. Kedekatana kami di organisasi menjadikan kami dekat dalam
hal lain. Dia baik. Seorang pemimpin yang sangat bertanggungjawab, tegas,
sabar, dan menyenangkan. Jujur aku mengaguminya sebagai bawahannya. Darinya,
aku bisa mempelajari banyak hal dalam kehidupan ini. Sosoknya yang kebapakan
sangat menginspirasi.
Semakin lama,
semakin jarang pula aku berhubungan dengan Rahan, hanya sesekali di kala waktu
senggang. Jujur saja aku belum sepenuhnya melupakan rasaku padanya, kendati aku
mendapati Haidar yang semakin mendekatiku. Bahkan ketika hari kelulusan, dia
mengatakan hal yang mengejutkanku.
“Rin, kamu mau
menunguku?” Tanyanya padaku.
“Menunggu?
Maksudnya? Iya, aku masih belum pulang kok,” Jawabku bingung.
“Bukan itu. Aku
tahu bahwa pacaran bukanlah orientasimu. Aku tahu kau takut dituntut dan
dikecewakan dengan status itu. Akupun takut akan mengecewakanmu. Jadi aku mohon
padamu, tunggu aku hingga aku siap untuk semuanya.”
Aku hanya diam
menatapnya, mencoba mencerna perkataannya. Aku takut salah mengartikan.
“Aku menyukaimu,
sejak dulu. Aku ingin bersamamu, namun sekarang belum tepat. Banyak hal yang
harus kusiapkan dan kuwujudkan. Kaupun demikian, pasti banyak hal yang ingin
kau capai dahulu,” sambungnya.
Astaga, aku mulai
memahami perkataannya. Aku tak tahu harus berkata apa saat itu. Aku benar-benar
bingung. Haidar baik dan bisa dikatakan suami idaman, aku menyukainya tapi
hanya sebatas teman. Di sisi lain, aku masih sangat mengagumi Raihan, meskipun
entahlah rasa sayang itu masih ada atau tidak.
“Haidar, kamu baik.
Kamu pasti akan mendapatkan seorang yang baik dan paling tepat untukku, entah
aku atau perempuan lain,” kataku setelah lama terpaku.
“Apakah ini
artinya kamu menolaku?” tanyanya kaku.
“Hm, bukan begitu,
Dar. Aku menyukaimu, kamu teman yang sangat baik. Jangan membatasi jodohmu,
Haidar. Kamu punya banyak sekali kesempatan untuk mendapatkan orang yang lebih
baik daripada aku, kamu tidak perlu berpaku padaku. Selamat berjuang, Haidar.”
Sejak hari itu,
aku tidak bisa berhenti memikirkan Haidar. Kami masih sering berkomunikasi
lewat sosial mesia. Dia sibuk bekerja di sebuah perusahaan kontraktor sementara
aku melanjutkan pendidikan pasca sarjanaku di Malaysia. Aku menyukai sosoknya, dia pekerja
keras yang handal. Namun aku juga mengharap Raihan kembali, meskipun kecil sekali
kemungkinannya mengingat kini kami sudah jarang berhubungan. Seharusnya dia
sudah lulus pendidikan sejak setahun yang lalu, aku sempat mendengar dia
dipercaya di sebuah maskapai penerbangan ternama.
Setelah aku lulus
pendidikan pasca sarjanaku, aku mengajar di kampusku dulu. Melihat anak gadis
bungsunya yang selalu sendiri, menimbulkan keresahan di hati ayah dan bundaku.
“Dek, kapan
ngenalin calon ke ayah sama bunda?” Tanya ayahku setelah makan malam.
“Iya, Dek. Bunda
pengen punya mantu laki-laki nih. Kan sekarang Arini juga sudah cukup dewasa,
pekerjaan ada, apa tidak ada laki-laki yang kecantol?” Imbuh bunda.
Kedua kakak
lekakiku sudah berumah tangga sendiri. Kak Zaki menikah 5 tahun lalu dan kini
tinggal bersama dengan isterinya di kota sebelah. Kakakku yang kedua, Kak
Lukman, baru menikah 3 bulan yang lalu dan masih tinggal bersama ayah dan
bunda. Dia dan isterinya masih menunggu pembangunan rumahnya tak jauh dari
rumah kami.
“Mau Kakak
kenalkan teman Kakak, Dek?” Canda Mbak Risti, isteri Kak Lukman.
“Hehe, apa sih
Kak. Ayah nih mancing-mancing,” jawabku malu.
“Oh iya, Risti
memberiku ide. Ayah tadi bertemu kawan lama Ayah. Seingatku dia punya anak
lelaki seusiamu. Dulu sih pas masih kecil dia ganteng, coba ah nanti Ayah tanya
lagi.”
Keesokan harinya,
aku, ayah, dan bunda pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan bulanan.
Tiba-tiba ayah menghentikan mobil di depan sebuah cafe.
“Ayah mau ketemu
kawan lama Ayah, kalian pulang saja dulu. Nanti Ayah pulang naik ojek saja,”
kata Ayah bahkan sebelum aku dan bunda bertanya.
“Kawan lama siapa,
Yah?” tanya bunda.
“Kawan lama yang
spesial, nanti juga tahu,” katanya bangga. “Rin, kamu yang bawa mobilnya, ya!”
Aku melihat ayah
masuk menemui seorang lelaki seusianya, badannya tinggi gagah, tapi wajahnya
tak begitu jelas. Aku tertegun, jangan-jangan itu kawan ayah yang dibicarakan
semalam. Kutanya bunda, pun bunda tak tahu. Dua jam kemudian ayah pulang.
“Bunda, lusa Bunda
masak yang banyak dan istimewa, ya? Arini juga, tolong suruh Kak Zaki
sekeluarga pulang. Kita akan kedatangan tamu istimewa,” kata Ayah penuh
semangat.
“Tamu istimewa,
Ayah? Siapa? Kawan lama Ayah tadi?” tanyaku penasaran.
“Kamu pasti akan
terkejut, tunggu saja.” Perkataan ayah barusan membuat perasaanku tak enak.
Aku terdiam di
gazebo kecil ujung rumah, menatap bintang-bintang ditemani semilir angin.
Mendadak aku teringat Haidar, dua mingu lalu dia kembali menanyaiku tentang
hubungan kami, namun aku masih belum siap dan belum yakin. Aku tahu Haidar
lelaki yang baik dan bertanggungjawab, aku mencoba mencintainya, namun ternyata
Raihan telah mengisi hatiku dan memiliki ruang tersendiri di sana. Saat aku
mengingat Haidar, aku pasti teringat Raihan. Tiba-tiba Bunda datang
menghancurkan lamunanku. Akupun menceritakan semua kisah yang selama ini
kupendam. Tidak ada yang bisa memahamiku sebaik bunda.
Keesokan harinya,
sepulang aku dari mengajar, ada mobil tak kukenal pemiliknya terparkir di depan
rumahku. Kuintip dari depan, ada seorang bapak dan ibu yang sedang
bercengkerama asik dengan keluargaku. Ayah melihatku.
“Arini, sini,
sayang,” teriak ayah. aku masuk dan mengucapkan salam. “Kenalkan, ini Om Hasan
dan Tante Salma, isterinya,” saambung ayah. Aku segera menyalami keduanya. “Om
Hasan ini kawan spesial Ayah. Sebenarnya ada satu lagi yang harus dikenalkan,
tunggu, Rai sedang ke kamar mandi.”
“Tunggu! Siapa?
Rai?” tanyaku dalam hati, aku menatap ayah bingung.
“Duduklah, Dek!
Jadi begini, Ayah berencana mengenalkanmu dengan Rai, putera Om Hasan, yaa
barangkali kalian cocok,” kata Ayah kemudian menatapku dan terdiam sesaat. “Ah
ini dia. Nak Raihan, ini putri kami paling cantik, Arini,” kata ayah
mengejutkanku. Aku menoleh dan jauh lebih terkejut.
“Raihan!”
teriakku, yang berhasil membuat seisi ruangan kaget.
“Kalian saling
kenal sebelumnya?” tanya bunda heran.
Aku masih tidak
bisa berkata apa-apa. Setelah bertahun-tahun aku tak pernah melihat Raihan,
tahu-tahu dia ada di hadapanku dan akan dijodohkan denganku. Ini seperti mimpi.
Benarkah dia Raihan yang kukenal dulu? Bagaimana bisa? Raihan yang tak pernah
lagi berhubungan denganku dan yang rumahnya jauh dari kotaku tiba-tiba ada di
sini? Siapa ini yang bisa menjelaskan?
“Arini, apa
kabar?” sapanya. Aku masih diam. “Kami dulu satu kampus, Tante, sebelum saya ke
sekolah penernangan. Kami berteman dekat sebelumnya. Dan jujur saja, saya
sempat menolak tawaran Abi untuk dijodohkan dengan anak kawan lamanya karena
saya telah mencintai seseorang. Tapi setelah Abi menyebutkan namanya, saya
langsung mau.”
“Jadi gadis yang
kamu maksud itu Arini, Rai?” tanya Om Hasan terkejut. Seluruh orang di ruangan
tertawa, kecuali aku yang bingung. “Arini pasti bingung, ya? Jadi, saya dan
ayahmu berteman dulu waktu SMA dan kuliah, lalu kami berpisah karena banyak
alasan. Kebetulan, besok ada acara pernikahan anak adik saya di kecamatan sebelah.
Bertemulah saya dan ayahmu untuk merencanakan perjodohan ini. Raihan bilang,
dia mencintai seorang gadis di kota ini dan ingin mencari rumahnya akhir pekan
ini karena mumpung ada di sini. Ternyata takdir mempercepat pertemuan kalian,”
jelas Om Hasan.
Dalam hatiku
bergumam takzim. MasyaAllah, sunguh luar biasa takdir yang Allah berikan. Orang
yang selama ini aku harapkan juga memendam rasa yang sama, bahkan setelah
bertahun-tahun kami tak bertemu. Akupun tidak ada alasan untuk menolak
perjodohan ini. Sebulan kemudian, keluarga Raihan resmi melamarku. Pernikahan
kami akan dilaksankan 6 bulan setelahnya. Sengaja dibuat agak lama karena
kesibukan Raihan dan agar segala sesuatunya dapat disiapkan dengan sempurna.
“Terimakasih,
Arini,” katanya memecah kesunyian sore itu setelah acara lamaran. Kami duduk
berdua di gazebo depan rumahku. Aku hanya diam melihatnya. “Terima kasih telah
mengizinkanku menjadi calon imammu. Terima kasih ternyata kamu menunguku,”
sambungnya.
“Terima kasih juga
telah memilihku. Aku merasa lucu, padahal kita sudah sangat lama tidak
berhubungan. Dulupun, kita tak banyak mengenal lebih dalam, ternyata takdir
Tuhan begitu indah,” ucapku menikmati senyumnya yang menyejukkan sekaligus
mampu menghangatkan. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung dan paling
bahagia kala itu.
Raihan tak pernah
mencintai gadis lain selagi menunguku, dia selalu mencintaiku. Dengan fisik dan
kemampanannya, menurutku pasti banyak gadis yang mengharapkannya. Aku merasa
bersalah padanya, karena aku sempat mungkin menyukai seseorang sebelum akhirnya
aku memilih dia. Tapi sudahlah, itu masa lalu. Yang jelas saat ini, aku sangat
bahagia, aku mencintainya dan akan selalu memncintainya. Raihan selalu punya
cara untuk membuatku jatuh cinta, bahkan setiap hari.
Waktu begitu cepat
berlalu, persiapan pernikahan kami sudah 90%. Rasa debar semakin menghujamku.
Satu bulan lagi aku akan resmi menjadi seorang isteri, di mana aku akan
memasuki babak kehidupan yang baru. Kini tinggal seminggu menuju hari
pernikahan kami. Undangan sudah selesai tersebar besok. Tapi Raihan baru bisa
libur 2 hari lagi. Kenyataannya lain, ternyata kepulangannya diundur satu hari
karena harus menggantikan pilot lain yang harus pulang kampung karena orang
tuanya mendadak sakit keras.
“Rai, tidak adakah
pilot lain? Pernikahanmu sudah sangat dekat loh!” ujar Abi pada Raihan saat
kami melakukan panggilan grup.
“Iya, Han. Aku
takut kamu kecapekan. Belum lagi katamu, kamu ingin mengantar undangan sendiri
untuk kawan-kawan terdekatmu,” akupun khawatir.
“Tidak apa-apa,
Abi, Rin. InsyaAllah baik-baik saja semua. Tidak ada pilot lain, Abi. Yang
sudah terlanjur libur pulangnya jauh, kasihan kalau mendadak kembali. Lagi pula
Cuma sekali penerbangan, dekat kok,” katanya menenangkan. “Untuk undangan, biar
adik aja yang mengantar. Nanti akan aku telpon kawan-kawanku itu,”
Kamipun membiarkan
Raihan terlambat pulang. Aku merasa sangat beruntung karena memiliki calon
suami yang sangat sabar, setia, dan berhati besar. Meski jujur saja, aku sangat
merindukannya.
Keesokan harinya,
aku menikmati pagi yang sejuk dan cerah dari jendela kamarku. Tidak sabar
menunggu calon suami yang sangat kucintai sejak lama akan kembali ke rumahnya
malam ini. Tiga hari lagi pernikahan kami, aku semakin berdebar. Tiba-tiba aku
dikejutan oleh teriakan bunda yang memanggilku dari ruang tengah.
“Rin, lihatlah!
Ada kecelakaan,” kata bunda panik.
“Inna lillahi wa
inna ilaihi raajiun. Tapi Bunda sangat mengejutkanku,” belum sempat aku melihat
TV, bunda semakin histeris. Astaga, pesawat. Kecelakaan pesawat?
“Bukankah itu
maskapai Raihan? Bukankah dia terbang ke kota itu?” tanya bunda gemetar. Sontak
aku tercengang dan mematung. Aku berharap besar itu bukan Raihan. Kalaupun iya,
pasti Raihan baik-baik saja. Dia sudah janji akan pulang. Tapi di luar kuasaku,
akupun menangis histeris. Bunda segera menghubungi Abi Hasan.
“Apakah Mas Hasan
sudah melihat berita kecelakaan pesawat di TV pagi ini?” tanya bunda, aku tidak
tahu Abi memberikan jawaban apa. Wajah bundapun tidak memberi isyarat yang
jelas, kosong. Bunda memberikan telpon padaku.
“Nak, yang kuat
ya,” kata Abi dari jauh, beliau berusaha berkata sehalus mungkin. Tapi bagiku
tetap saja itu tobak tajam yang sangat panjang menghantap jantungku. Aku
menangis tersedu-sedu. Tak mampu berucap apapun. Apa yang sebenarnya terjadi
pada calon suamiku? “Itu pesawat Raihan, Rin. Alhamdulillah Raihan selamat,”
aku cukup lega mendengarnya, tapi tetap saja aku menangis dan bungkam.
“Sekarang Rai dirawat di rumah sakit kota setempat. Abi, Umi, dan Dik Farhan
sedang menuju ke sana. Kalau kau kamu, kami akan menghampirimu.”
Satu jam kemudian
Abi sampai di rumahku. Aku, Ayah, dan Bunda yang pergi. Kami langsung berangkat
dengan satu mobil. Perjalanan dari rumahku ke kota itu kurang lebih tiga jam.
Selama perjalanan belum ada pembaharuan berita terkait keadaan Raihan. Aku semakin
cemas.Sesampainya di sana, kami segera mencari ruangan di mana Raihan berada. Kami membuka sebuah pintu, terlihat Raihan lemas terkulai berdampingan dengan berbagai peralatan medis. Hatiku seolah terkoyak melihatnya. Seperti luka yang terbuka lebar. Abi dan Umi langsung menyambar memeluknya, menangisi keadaannya. Aku juga sangat ingin memeluknya. Aku melihat air mata jatuh dari matanya, mungkin dia merasakan kedatangan kami.
Dokter yang menangani Raihan berkata bahwa kondisinya sedang sangat kritis. Terjadi pendaharan di dalam otak yang dapat membahayakannya. Sesaat setelah Abi menandatangani persetujuan operasi, Raihan membuka matanya dan tersenyum melihatku. Senyum yang selalu aku rindukan. Senyum yang bisa menyejukkan sekaligus menghangatkan itu, kini sedikit memudar. Aku membalas senyumnya dengan linangan air mata. Seharusnya sekarang kami dibanjiri debar karena akan menikah. Tapi rencana Tuhan memang tak pernah bisa kita tebak.
Raihan terlihat ingin mengatakan sesuatu. Aku memandangnya lebih dekat. Aku tahu dia sangat kesakitan. Tapi aku masih bisa dengan jelas merasakan senyumnya yang penuh cinta.
"Aku sangat mencintaimu, Arini.Hiduplah dengan baik dan selalu bahagia."
Tak kusangka itu menjadi kalimat terakhir yang Raihan ucapkan untukku. Meski lirih, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Kalian tahu, jika sebelumnya kubilang perasaanku seperti luka yang menganga lebar, kini luka itu justru tersiram air garam. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku merasa tersesat, hanya bisa kupasrahkan hidupku pada Tuhan. Hari itu, aku adalah sehancur-hancurnya aku. Hari yang harusnya menjadi hari terbahagia dalam hidupku, pernikahan kami, justru menjadi hari pemakamannya, calon suamiku.
Dokter yang menangani Raihan berkata bahwa kondisinya sedang sangat kritis. Terjadi pendaharan di dalam otak yang dapat membahayakannya. Sesaat setelah Abi menandatangani persetujuan operasi, Raihan membuka matanya dan tersenyum melihatku. Senyum yang selalu aku rindukan. Senyum yang bisa menyejukkan sekaligus menghangatkan itu, kini sedikit memudar. Aku membalas senyumnya dengan linangan air mata. Seharusnya sekarang kami dibanjiri debar karena akan menikah. Tapi rencana Tuhan memang tak pernah bisa kita tebak.
Raihan terlihat ingin mengatakan sesuatu. Aku memandangnya lebih dekat. Aku tahu dia sangat kesakitan. Tapi aku masih bisa dengan jelas merasakan senyumnya yang penuh cinta.
"Aku sangat mencintaimu, Arini.Hiduplah dengan baik dan selalu bahagia."
Tak kusangka itu menjadi kalimat terakhir yang Raihan ucapkan untukku. Meski lirih, aku bisa mendengarnya dengan jelas. Kalian tahu, jika sebelumnya kubilang perasaanku seperti luka yang menganga lebar, kini luka itu justru tersiram air garam. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku merasa tersesat, hanya bisa kupasrahkan hidupku pada Tuhan. Hari itu, aku adalah sehancur-hancurnya aku. Hari yang harusnya menjadi hari terbahagia dalam hidupku, pernikahan kami, justru menjadi hari pemakamannya, calon suamiku.